Jejak Cinta RAHWANA

Jejak Cinta RAHWANA
Rahwana 6.


__ADS_3

Kuara masih berusaha mencari celah dengan membungkuk dan hendak melewati kungkungan tanganku. Tapi, aku sudah lebih dulu memprediksikan gerakannya. Aku kembali menghalanginya.


“Lihat aku.” Suaraku lirih karna sedang menahan nafsu.


“Tidak mau.”


“Lihat aku, Kuara.” Aku memaksanya. Tapi Kuara masih belum menuruti ucapanku. Entah kenapa aku jadi kesal karnanya.


Aku membuang handuk yang ku pegang dan memaksanya untuk menatapku dengan menarik pingganya. Kini, tubuh kami sudah menempel. Membuat jantungku semakin cepat berpacu saat pandangan kami bertemu.


Saat aku semakin mendekatkan wajahku, Kuara menutupkan matanya rapat-rapat. Dia tidak memberontak ataupun berusaha mendorong tubuhku. Dalam keadaan seperti itu, ingin rasanya ku lahap bibir ranumnya itu sampai habis.


“Kau milikku.” Aku menegaskan perasaanku. Itu membuat hatiku lega.


Aku terus mendekatkan wajahku padanya. Rasanya, aku hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak meraup bibir padat itu.


Pria manapun akan langsung merengkuhnya kalau dalam posisiku. Begitu juga denganku. Dadaku bergejolak. Tertimbun dengan emosi nafsu yang menggelora. Aku sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari kungkungan nafsu.


Aku tidak ingin menciumnya saat kami tidak punya ikatan apapun. Aku bahkan belum berhasil menggoyahkan komitmen Kuara. Aku tidak ingin melakukan itu dan membuatnya jadi menjauhiku.


Untung saja, rasa menggelora itu tiba-tiba menghilang saat kulihat wajahnya yang memerah dengan mata yang terpejam erat. Itu membuatnya menjadi sangat lucu. Aku tidak tahan menahan tawa.


“Kenapa kau memejamkan matamu?” Aku menarik diri. “Kau ini memikirkan apa?”


Wajah Kuara semakin memerah. Apa tadi dia mengharapkanku untuk menciumnya? Benarkah?


Kalau begitu, apa masih ada kemungkinan untukku mendapatkannya?


Aku terkekeh melihat Kuara yang menolak tubuhku kemudian berjalan keluar. Sementara aku kemudian masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaianku. Setelah selesai, akupun bergegas keluar untuk mengantarkannya pulang.


Kuara terkejut saat aku menepuk pundaknya. Dia sampai berteriak dengan wajah yang takut. Aku memberinya jaket tapi dia menolak. Jadi aku mengenakan jaket itu untukku sendiri.


Aku segera mengantarkan Kuara pulang ke rumahnya. Ternyata rumahnya lumayan besar. Sepertinya dia anak orang berada juga.


“Trimakasih sudah mengajakku melihat pertunjukkan yang bagus.”


“Dan terimakasih karna sudah mau ku ajak. Masuklah.”


Dia hanya mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


“Cepat istirahat. Hangatkan tubuhmu. Aku pergi dulu.”


Dan aku segera melajukan kembali sepeda motorku.


Sesampainya di rumah, aku langsung melemparkan diri ke atas ranjang. Membungkus tubuh dalam selimut.


Saat membuka mata, hal pertama yang ada di hadapanku adalah, wajah Elya yang berada sangat dekat dengan wajahku.


Gadis itu baru saja hendak menciumku dan terkejut. Untung saja aku segera membuka mata.


Elya, dia adalah teman sekelas sekaligus mantan kekasihku. Kami menjalin hubungan sejak duduk di kelas satu. Tapi belum lama ini, dia memutuskanku karna kekasih barunya yang hanya bertahan selama satu minggu.


Dan sekarang, dia memintaku untuk kembali padanya. Merengek setiap hari demi memintaku untuk kembali.


Aku memutar tubuh Elya dan berada di atas tubuhnya. Membelai wajah cantiknya dengan lembut. Dia bahkan sampai memejamkan mata.


Kemudian, aku semakin mendekatkan wajahku padanya. Seperti yang sudah ku duga, gadis itu langsung memejamkan mata. Berharap aku akan menyapu bibirnya.


“Kau ingin bibirku?”


Elya mengangguk. Nafasnya menderu.


Dan seketika, Elya langsung membuka matanya lebar-lebar. Sementara aku segera beralih dari tubuhnya dan masuk ke kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi, ternyata Elya masih ada di kamarku. Duduk di tepi ranjang dengan tatapan marah yang tertuju kepadaku.


Aku tidak peduli. Tatapan itu sama sekali tidak berpengaruh untukku.


“Kau akan terus berada di situ?” Aku berkata sambil membelakangi Elya. Membuat gerakan seolah akan melepas handuk yang kukenakan. Aku meliriknya sekali lagi. Sengaja dengan tatapan jengah dan dingin.


Aku melanjutkan untuk mengganti pakaianku setelah Elya pergi. Selesai berpakaian, aku segera turun ke bawah. Dan ternyata Elya masih ada di meja makan bersama dengan mama dan papa juga Mai. Dia ikut bersarapan dengan mereka.


“Sini, sayang. Kita sarapan dulu. Ini ada Elya juga.” Ujar mama.


Melihat pemandangan itu, membuat nafsu makanku menghilang seketika. Aku hanya menghampiri mereka untuk menyalami mama dan papa. Setelahnya, aku langsung keluar dan pergi dari rumah.


Sepagi ini, pasti belum ada orang di sekolah. Dan aku tidak mau jadi yang pertama datang. Jadi aku mampir ke kos dulu untuk membunuh waktu.


Aku melegakan tubuh di sofa. Ada sesuatu yang mengganjal di bawahku. Setelah aku mengambilnya, ternyata itu adalah sebuah ponsel.

__ADS_1


Aku menyalakannya dan terpampanglah wajah Kuara yang sedang tersenyum lebar. Hatiku kembali berdebar.


Dengan segera aku memacu sepeda motorku menuju ke rumahnya. Aku harus memberikan ponsel itu padanya. Padahal itu hanyalah alasan agar aku bisa bertemu dengan gadis itu. Aku merindukannya. Segera saja aku mengganti celana sekolahku. Kemudian mengancingkan hoodieku rapat-rapat untuk menyembunyikan seragamku.


“Permisi, Kuaranya ada?” Tanyaku pada seorang gadis yang sedang menyapu di halaman rumah Kuara.


“Ada, Mas. Di dalam. Sebentar saya panggilkan.” Ujar gadis itu. Tapi belum sempat gadis itu memanggil, Kuara sudah memanggilku lebih dulu.


Kulihat Kuara sedang hendak pergi. Ada seorang pria yang sedang bersamanya. Siapa itu? Kuara bilang tidak punya kekasih. Apa itu saudaranya?


“Untung saja kau belum pergi. Aku menemukannya di sofa.” Aku  mengulurkan ponsel milik Kuara.


“Hehehe. Terimakasih. Semalam aku lupa.”


Ah, senyumnya. Manis sekali. Bibir ranum yang hampir ku raup semalam.


Aku menawari Kuara untuk mengantarkannya ke kampus. Tapi sayangnya dia menolak.


“Baiklah kalau begitu.”


Aku kecewa, sekaligus penasaran dengan pria yang menatapku tajam tadi. Siapa dia? Dia juga lumayan tampan.


Dengan membawa rasa kecewa, aku melajukan sepeda motor menuju ke sekolah.


“Wan!” Panggil Rijun. Temanku. Dia melambai padaku dan aku segera berlari ke arah mereka. Rijun sedang bersama dengan Billi dan Tino.


“Kenapa kau pakai celana jeans ke sekolah? Kau bisa di tegur oleh Pak Katman.” Protes Billi.


Ah, aku lupa. Aku belum sempat mengganti celana. Tapi tenang, aku melipatnya di dalam tas.


Ketiga temanku itu langsung tertawa terbahak-bahak melihatku mengeluarkan celana sekolah dari dalam tas.


“Itu El.” Tino menunjuk sebuah mobil mewah yang baru saja berhenti. Nampak Elya turun dari dalam mobil.


Sebelum dia menghampiriku, aku segera pergi dengan alasan untuk mengganti celanaku.


Aku benar-benar malas berhadapan dengan Elya. Dia membuatku muak. Dulu sesuka hati memutuskanku demi putra kepala jaksa. Dan sekarang, dia terus menerus mengejarku dan meminta kembali.


Dia tidak akan bisa membodohiku lagi. Sekali aku di campakkan, sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali padanya.

__ADS_1


Lagipula, sekarang hatiku sedang penuh dengan Kuara. Jadi sudah tidak ada tempat untuk seorang Elya.


__ADS_2