
Setelah menjabat tangan Freya dan Amber. Amber bertanya kepada Bara.
"Lalu, berapa lama kau ... akan tinggal di sini, sir?" Amber tidak tahan hanya diam saja. Dia harus memastikan agar rencana mereka berjalan lancar. Jadi informasi sekecil apapun sangat berharga bagi mereka.
"Selama yang diperlukan, miss." Ucap Bara, sedikit tersinggung karena Bara pikir, sepertinya Freya dan Amber tidak menyukai kehadirannya. Mereka tidak tahu bahwa, Bara juga sama tidak sukanya berada di sini. Rencananya dia hanya paling lama seminggu untuk mempelajari situasi dan kinerja pabrik anggur Horisson. Jika memang Freya cukup kompeten dalam mengurus semuanya, maka Bara berencana mempercayakan warisannya untuk dikelola oleh Freya.
Bara tidak bisa membayangkan lebih lama lagi berada di tempat penuh kenangan bersama ibunya. Sekelebat bayangan menari-nari di pikiran Bara, bagaimana ayahnya dengan kejam mengusirnya dan ibunya. Bahkan ibunya bersujud agar ayahnya tidak mengusir mereka, setidaknya, ibu meminta agar ayah membiarkan Bara tetap tinggal. Namun ayahnya tidak mendengarkan. Ayah tetap pada pendiriannya, Bara kecil bahkan sampai saat ini Bara tidak tahu kenapa sir Albert, ayahnya mengusir mereka. Apa kesalahan yang telah diperbuat oleh Bara maupun ibunya? Hal itu masih menjadi misteri bagi Bara.
"Kalau begitu, saya pamit dulu, karena ada urusan lainnya ... anda akan ditemani oleh mrs. Horisson untuk berkeliling." Ucap Dayton, dia pamit kepada Freya dan Amber.
Dayton keluar dari ruang tamu dan menuju parkiran mobilnya. Sebenarnya dia merasa tidak enak meninggalkan Bara, karena seharusnya Dayton sebagai pengacara keluarga yang harus melakukannya. Menunjukan kepada Bara warisan yang akan dimilikinya. Namun Dayton harus meninggalkan Bara bersama Freya dan Amber karena dia memiliki urusan yang tidak bisa ia tinggalkan.
"Sir, saya akan mengantar anda ke kamar anda." Freya melangkah mengantar Bara ke kamarnya. Bara mengikuti Freya dari belakang. Mereka melewati kamar masa kecil Bara. Dia berhenti, entah bagaimana dia membuka pintu kamar tersebut, kamarnya telah berubah, kasurnya yang dulu telah berganti dengan kasur baru.
Bara menyapukan pandangan ke dalam kamar, mencoba mengingat susunan perabotan kamar tersebut. Kamar masa kecil Bara sekarang telah di cat ulang, berwarna biru langit. Membuat kamar tersebut menjadi terang. Ranjang ukuran single dengan motif sprei bergambar kartun. Bara berpikir kenapa kakak iparnya, memberi sprei dengan motif anak-anak? Padahal mereka tidak memiliki anak.
Lemari telah berpindah tadinya berada di samping kanan jendela telah dipindahkan ke sisi kiri dan posisi menghadap ranjang. Ada tambahan meja belajar. Bara berfikir, mengapa ditambahkan meja belajar jika saudaranya dan kakak iparnya tidak memiliki anak? Bara ingat mungkin mereka mendambakan, hanya saja belum dikaruniai.
Freya yang merasa jika Bara tidak mengikutinya, melihat kebelakang, Freya melihat Bara menatap kamar. Kamar yang dulu diharapkan Freya menjadi kamar anak-anaknya. Bahkan Freya membeli meja belajar baru. Berharap Edward menjalankan rumah tangga mereka layaknya pernikahan lain. Freya tidak menuntut banyak. Jika Edward memberinya seorang anak, Freya pasti akan sangat bahagia. Terlepas Edward kembali mengabaikan Freya, dia tidak peduli karena waktunya pasti akan di sibukan dengan kehadiran dan mengurus anaknya.
__ADS_1
Freya membiarkan Bara menatap kamar masa kecilnya.Tidak bisa ditampik bahwa Freya dapat merasakan kesedihan Bara kecil. Saat hidupnya yang nyaman terenggut darinya. Entah bagaimana dia dan ibunya menjalani hidup selama ini?
Freya menghampiri Bara yang masih menatap kamar dengan tatapan kosong dan jauh ke masa-masa --mungkin saat dia masih di kamar ini.
"Dulu, ini adalah kamarku." Ujar Bara yang mengetahui kedatangan Freya yang berdiri di sampingnya.
"Ya, saya tahu, sir." Balas Freya, dia memang diceritakan oleh pelayan lama yang masih bekerja di mansion, tentang istri kedua dan putra kedua mertuanya. Sejak putra kedua diusir bersama ibunya, kamar ini menjadi sepi. Mungkin kesedihan kamar karena ditinggal pemiliknya. Membuatnya, seakan dikutuk, kamar ini tidak lagi diisi oleh seorang anakpun.
Terkadang Freya membenarkan mitos tentang kamar ini. Apa karena itu dia tidak memiliki anak? Mungkin tidak hanya kamar, sepertinya kesedihan menjalar ke seluruh mansion.
"Bara, cukup panggil Bara saja." sahut Bara. dia melirik ke arah Freya.
"Tapi, itu tidak sopan, sir." Balas Freya lagi.
Freya memelototkan mata, tidak percaya dengan ketidak sopanan yang terang-terangan Bara tunjukan. Padahal ini pertama kali mereka bertemu. Sekalipun Freya berencana menjerat Bara, tapi tidak secepat ini juga.
"Tidak, jika kau mengalami seperti yang aku rasakan. Apakah kau pernah merasakan kelaparan? Tentu tidak, kurasa." Lanjut Bara lagi.
"Kau salah, aku tahu rasanya." Suara Freya tercekat, dia ikut merasakan kesedihan Bara. Bara kaget jika Freya juga pernah bernasib sama dengannya. Karena menurut Bara, wanita seperti Freya tidak cocok hidup miskin, apalagi kelaparan.
__ADS_1
Bara takjub jika Freya, mengerti kesedihannya. Bara mendekatkan diri kepada Freya, mencari sesuatu di sana.
"Seharusnya kamar ini menjadi kamar anak-anakmu!" Ucap Bara, kembali melemparkan pandangannya ke dalam kamar. Posisi mereka saat ini berdampingan di pintu kamar.
"Anak? Aku sering merindukan mereka, namun harapanku pupus." Bara merasa kasihan dengan jawaban Freya.
Apakah dia sangat mengingkan anak? Siapakah diantara mereka yang mandul?
"Maksudku benar-benar pupus mengingat kami menikah selama enam tahun dan setelah Edward meninggal kami belum juga memiliki. Tidak sampai rencana kami berhasil" Freya mencoba menjelaskan, dia tidak sadar jika keceplosan.
"Rencana?" Bara heran dan menjadi sedikit curiga dengan perkataan Freya yang terakhir. Rencana apa?
"Maksudku, seharusnya aku merencanakan program hamil saat Edward masih ada ... kami terlalu ... terlena ... hingga melupakan masalah anak." Freya menjelaskan dengan gugup dan terbata-bata. Jelas dia sedang mencari alasanan untuk menutupi keceplosannya. Berharap Bara mengalihkan pembicaraan.
🍒🍒🍒
Hi jangan lupa sambil nunggu bisa mampir ke karya teman author ya
...BUKAN ISTANA IMPIAN
__ADS_1
...