JERAT HASRAT KAKAK IPAR

JERAT HASRAT KAKAK IPAR
Berbaikan


__ADS_3

Sebelum baca pencet dulu tombol Favoritenya ya cintah. Mumpung hari Senin jangan lupa vote buat diberikan kepada momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau sangat disarankan.😘


🍰🍰🍰


Melihat kedekatan fisik Emil dan Freya, Bara menjadi terbakar. Dia tidak rela jika Freya bermesraan dengan Emil. Emil seperti akan mencium Freya. Rasanya Bara ingin keluar dari mobil dan menghajar Emil. Namun dikagetkan oleh suara pintu yang terbuka. Bara bersyukur Amber keluar, sehingga membatalkan niat Emil yang akan mencium Freya.


"Oh kalian telah kembali? Aku kira kalian akan pulang telat!" Amber tercengang melihat Freya dan Emil telah kembali, bukankah acara seharusnya belum selesai? Amber berharap Emil bisa membahagiakan keponakannya.


"Freya merasa tidak enak badan, miss." Jawab Emil, memberitahu Amber.


"Oh, apa kau baik-baik saja, sayang. Ayo kita masuk. Di luar sangat dingin, sebentar lagi musim salju." Amber merangkul Freya danΒ  membawa masuknya ke dalam rumah.


"Kau sebaiknya juga masuk,Β  mr. Hamilton di luar sangat dingin." Amber menyuruh Emil masuk ke dalam rumah.


"Oh tidak terima kasih, miss, sebaiknya saya langsung pulang." Tolak Emil.


"Padahal aku sedang memasak sop ikad kod, dan kentang tumbuk. Sebentar lagi selesai. Apa kau tidak ingin mencicipinya?" Bujuk Amber lagi.


"Maaf miss, saya cukup banyak makan di pesta tadi dan sekarang masih kenyang. Sayapun masih ada yang akan dilakukan. Sekali lagi maaf, miss. Mungkin lain kali saja." Tolak Emil lagi dengan lembut, agar Amber tidak kecewa.


"Oh, baiklah." Amber akhirnya menyerah membujuk Emil.


"Freya sebaiknya aku pulang dulu, nanti aku akan menghubungimu, selamat beristirahat." Ucap Emil kemudian Emil menuju mobil dan masuk ke dalam mobilnya. Emil meninggalkan rumah Freya.


Bara masih memperhatikan Freya dan Amber dari seberang. Mereka masuk ke rumah. Lantai satu rumah dikelilingi oleh kaca. Dan telah didesign menjadi toko roti. Bara juga melihat baliho dengan tulisan 'Freya's Cake and Bakery'. Bara jadi tahu jika Freya akan membuka toko roti. Jadi dia menggunakan uang pemberian Bara dengan bijak.


Design tokonya cukup menarik. Tema tokonya sendiri hitam dan putih. Etalase-etalase sudah di susun rapi. Meja dan kursi untuk tamu makan di tempatpun telah di susun. Ternyata Freya memiliki selera yang bagus juga, pikir Bara.


Bara melihat lampu lantai dua hidup, sepertinya itu kamar Freya. Freya membuka jendela kamar, duduk di tembok yang agak tinggi dari lantai kamarnya. Freya duduk sambil memegang lutut dengan kepala di lututnya juga.


Bara penasaran, apa yang dilakukan Freya? Dia seperti bersedih atau bingung? Apa yang dipikirkan Freya? Bara mengambil handphone dan menghubungi Freya. Freya berjalan mengambil handphonenya yang berbunyi. Menekan tanda merah di layar handphone. Kemudian meletakan handphone di kakinya. Freya kembali ke posisi semula. Handphonenya berbunyi kembali. Berkali-kali Freya tolak, akhirnya dia mengangkat handphone tersebut.

__ADS_1


"Ya." Ujar Freya dengan nada kesal.


"Apa kau telah pulang?" Tanya Bara berbasa-basi. Padahal dia sedang mengawasi Freya dari bawah.


"Ya, ada apa kau menghubungiku?" Tanya Freya.


"Aku lihat kau tidak ada lagi di pesta."


"Oh, come on, sir, hentikan pertanyaan basa-basi ini. Apa ada masalah?" Tanya Freya secara langsung. Dia merasa bara terlalu berbasa-basi dan dia tahu bukan sifat Bara seperti itu.


"Aku hanya mengingatkan bahwa Emil adalah temanku, dan kau masih istriku." Bara merutuki kalimat yang keluar dari bibirnya.


"Istri? Kau lupa aku telah menanda-tangani surat cerai yang kau suruh, apa kau sedang berpura-pura?" Freya mengingatkan Bara tentang perintahnya saat kebohongan Freya terbongkar.


"Kau yang menanda-tanganinya, aku belum." Ucap Bara lagi.


"Apa? Kenapa kau melakukan ini?Β  aku tidak pernah ingin menyakiti perasaan orang lain. Sekalipun orang itu tidak memikirkan perasaanku. Jika kau tidak menginginkanku kenapa kau tidak melepaskanku." ucap Freya, akhirnya dia menumpahkan kesedihan dan kekesalannya. Apa Bara tidak bisa merasakan perasaan cinta dan ketertarikan Freya padanya. Freya memutuskan sambungan. Membuat Bara kesal.


Bara keluar dari mobil dan mengetuk rumah Freya. Amber membukakan pintu. Alangkah kagetnya dia saat mengetahui siapa tamu yang datang.


"Aku ingin bertemu Freya." Tanpa menghiraukan keterkejutan Amber, Bara mendorong pintu dan memasuki rumah.


"Maaf, sir, ini sudah sangat malam." Ucap Amber lagi.


"Tidak ada salahnya, suami ke rumah istrinya malam-malam." Jawab Bara.


"Tapi kau bukan suami Freya lagi." Amber tahu bahwa Freya telah menanda-tangani surat cerai yang diperintahkan Bara.


"Kami masih suami istri."


"Freya telah menandatangani surat cerai yang kau perintahkan!" Amber menboba mengingatkan Bara. Mungkin saja Bara lupa.

__ADS_1


"Hanya Freya yang menanda-tanganinya. Aku tidak." Jelas Freya.


"Apa?" Amber tidak percaya.


"Jangan larang dan jangan ganggu kami." Bara menaiki lantai dua tanpa menghiraukan teriakan Amber.


Amber terdiam, apa yang harus dia lakukan. Biarkan saja mereka menyelesaikannya. Amber mengetahui bahwa Freya mencintai Bara. Mungkin dengan ini mereka bisa berbaikan, pikir Amber. Berharap kali ini Freya benar-benar bahagia.


Bara mengetok pintu kamar Freya. Freya tidak memiliki perasaan bahwa di luar kamarnya adalah Bara. Dia pikir Amber. Freya membuka pintu dan Bara langsung mendorongnya agar bisa masuk. Bara mengunci kamar dan menyimpan kunci tersebut disakunya.


"Sir? Apa yang kau lakukan di sini?" Teriak Freya.


"Memastikan bahwa kau tidak mendekati Emil lagi." Bara memeluk Freya dan menciuminya dengan membabi-buta. Dia melampiaskan perasaanya kepada Freya.


Freya yang masih shock dengan perlakuan Bara yang tiba-tiba mencoba melepaskan diri.


"Lepas!" Teriak Freya, namun Bara semakin erat memeluknya.


"Anggap saja aku mengesahkan pernikahan kita sekarang, bukankah ini yang kau inginkan?" Bara kembali mencium Freya.


Freya merasa terluka, Bara masih menganggapnya wanita murahan. Bagi Freya tidak masalah, jika Bara menginginkan untuk mengesahkan pernikahan mereka maka, dia akan menerima dengan lapang dada.


Freya tidak ingin menikah dua kali. Namun dia masih perawan. Setidaknya biarkan dia menikmatinya bersama orang yang dicintainya. Setelah ini, jika Bara ingin melepaskannya atau ingin bersamanya dia tidak peduli lagi.


Bara melupakan prinsipnya, dia tidak tahan jika melihat Freya dengan pria manapun. Hanya kebohongan Freya yang disesalkan Bara. Namun dia telah memahami ketakutan Freya.


Freya hanya takut ditelantarkan dan Bara pernah mengalaminya juga. Mungkin dia harus melupakan masa lalu dan memulainya dari awal.


Bara ingin memiliki Freya seutuhnya saat ini. Mereka melakukannya dengan penuh cinta. Bara meluapkan perasaannya. Begitupun Freya mereka menyatu. Melupakan kesalahan dan memaafkan. Tidak hanya sekali, namun, sepanjang malam.


Selesai penyatuan Bara mencium bibir Freya yang memang sejak dulu digilainya. Mereka saling berpandangan, larut dalam pikiran masing-masing. Freya merasakan cinta yang besar dari Bara setelah penyatuan mereka. Bara memeluk Freya dengan lembut dan mereka tertidur. Berharap besok pagi menjadi lebih baik lagi.

__ADS_1


πŸ’πŸ’πŸ’


Ga tahu mesti tulis caption apa lagi. Jangan lupa mampir di karya ku yang lain.


__ADS_2