
Freya memasuki Grand Horisson hotel, dia menuju Restorannya, tempat yang diminta oleh Emil untuk bertemu. Sebenarnya Freya ingin bertemu di Restoran Emil saja. Namun, Emil bilang dia kebetulan ada urusan di dekat hotel tersebut.
Freya melihat Emil telah duduk menunggunya di sebuah meja. Emil melambaikan tangan kepada Freya. Freya menghampirinya. Emil membukakan kursi untuk Freya.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Emil saat dia kembali duduk di kursinya.
"Aku baik, terima kasih." Jawab Freya cepat, dia merapikan posisi duduknya.
"Apa kau bahagia?" Tanya Emil lagi. Dia menatap Freya dengan perasaan rindu. Beberapa hari Freya menghindarinya saat dia kembali bersama Bara.
Emil sedikit memaksa untuk bertemu dengan alasan bertemu untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu dia akan melupakan Freya. Bersyukur Bara mengizinkannya bertemu.
"Tentu saja aku bahagia ... aku minta maaf ... aku harap kau juga bahagia." Do'a Freya tulus. Dia tidak ingin melukai perasaan Emil. Freya tahu Emil serius dan tulus kepadanya. Namun, Freya telah mencoba berdamai dan memulainya lagi dengan Emil. Bara datang kembali dan memporak-porandakan hatinya lagi. Membuat Freya tidak bisa lepas darinya
"Aku juga berharap begitu ... sebaiknya kita mulai memesan makanan." Emil memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka.
Pelayan menyajikan hidangan yang mereka pesan. Selama menikmati makanan Freya dan Emil hanya berbicara ringan.
"Bagaimana dengan toko rotimu?" pertanyaan basa-basi Emil.
"Lancar, kira-kira sebulan lagi sudah bisa dibuka." Freya juga menceritakan tentang toko rotinya yang akan mulai beroperasional sebulan lagi.
"Aku harap kau bisa hadir!" Freya berharap Emil hadir saat pembukaan toko rotinya. Freya juga berharap, dia dan Emil masih tetap berteman.
"Akan aku usahakan." Emil menuangkan minuman kembali ke gelas Freya.
"Terima Kasih, aku harap kau masih mau berteman denganku." pinta Freya, dia tidak ingin Emil menjauh karena menurut Freya Emil adalah teman yang baik. Dia juga yang membantu Freya selama ini. Saat Bara tidak ada.
"Apa Bara akan mengizinkanmu berteman denganku? Setahuku, Bara adalah pria yang sangat cemburuan, jika dia menikahi seorang wanita, maka dia benar-benar serius, sedangkan jika tidak serius, dia tidak akan mau menikahi wanita tersebut. Kau ingat Selena, mereka cukup lama bersama tapi Bara tidak pernah cemburu Selena dekat dengan siapa. Itu tandanya dia tidak serius dengan Selena. Tapi, denganmu berbeda." jelas Emil panjang lebar. Freya mencerna informasi yang diberikan Emil, ada perasaan bahagia dalam dirinya. Setidaknya Bara benar-benar serius padanya.
__ADS_1
"Kau juga teman Bara, artinya kau juga bisa jadi temanku. Aku yakin Bara tidak akan keberatan." senyum Freya menenangkan Emil. Melihat Freya tersenyum Emil semakin sedih. Emil menyesal tidak mengajak Freya menikah saat Bara belum datang. Seandainya Emil tidak memberitahu Bara tentang Freya saat itu. Mungkin Bara tidak akan pernah bertemu Freya. Semua salahnya.
Tapi senyum Emil kembali mengembang mengingat sesuatu. Sesuatu yang Emil yakini bisa merubah keadaan Freya dan dia.
"Jadi kau telah pindah ke rumah Bara?" tanya Emil.
"Ya, baru dua minggu ini."
"Amber dan ayahmu?"
"Bibi, masih di tempat lama, kau tahu dia wanita lajang, tentu tidak akan suka tinggal bersamaku. Berbeda saat di Maidstone. Ayah tinggal bersamaku dan Bara." Freya sengaja tidak memberitahu Emil bahwa saat di Maidstone Amber dan ayahnya tinggal di mansion Horisson. Itu karena Edward jarang di rumah dan lagian mereka telah membatalkan sewa rumah di sana.
Sementara di Notting Hill, Amber merasa nyaman tinggal di sana. Jadi tidak ada alasan baginya untuk ikut dengan Freya dan Bara.
"Apa ayahmu sehat? Aku belum sempat mengunjunginya lagi." Emil menyeruput minumannya. Memperhatikan Freya dengan seksama.
Emil berharap Freya mulai bereaksi, Emil menunggu dengan sabar.
"Kau mau pesan yang lain, Freya?" tawar Emil.
"Tidak aku rasa ini sudah cukup." tolak Freya dengan sopan. Karena Freya tidak ingin berlama-lama bertemu Emil. Dia takut Bara mencarinya. Bara sangat perhatian padanya sekarang. Freya sangat bahagia, akhirnya dia bisa menjalankan rumah tangga, layaknya pasangan lain.
Saat menikmati hidangan Freya merasakan kantuk yang sangat kuat. Dia kesusahan untuk menahannya.
"Apa kau baik-baik saja, Freya?" tanya Emil, saat melihat Freya menguap dan seperti menahan kantuk.
"Emil, aku sangat mengantuk, sebaiknya aku pulang." Freya berdiri, mencoba berjalan. Emil segera memegang Freya yang terlihat lemas.
"Kenapa kau pucat? Sebaiknya kita pesan satu kamar ... kau sepertinya tidak baik." Bujuk Emil, dia merangkul Freya. Freya mencoba melepaskan diri dari rangkulan Emil. Dia merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Tidak ... aku ingin pulang saja." Entah kenapa perasaan Freya menjadi waspada. Ada yang tidak beres dengan dirinya. Freya mencoba melangkah keluar dari Restoran dengan langkah sempoyongan menuju luar hotel. Emil menahannya dan membelokan arah Freya bukan ke luar hotel, malah menuju lift.
"Kau mau membawaku ke mana?" Freya masih mencoba menolak pegangan Emil.
"Ke kamar, agar kau bisa beristirahat, kau sedang tidak baik-baik saja Freya." Nada suara Emil sedikit keras.
"Tidak, sebaiknya aku pulang."
Freya masih mencoba menolak tapi tenaganya tidak cukup untuk menolak rangkulan Emil. Emil membawa Freya masuk ke dalam kamar. Emil membaringkan tubuh Freya di atas ranjang. Freya masih bisa melihat apa yang dilakukan Emil. Untuk membantah Freya tidak punya tenaga lagi. Freya ingin bangkit dari ranjang, namun, tidak bisa. Berkali-kali Freya mencoba untuk bangkit, selalu saja gagal.
Emil mendekati Freya dan membungkuk tepat di depan Freya. Dia mencoba membuka kancing kemeja Freya. Freya menepis tangan Emil, akan tetapi, tangan Freya hanya seperti melayang di udara dan kembali terkulai lemas di sisi tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" Suara Freya tercekat. Namun, masih bisa di dengar oleh Emil.
"Aku ingin membuat kenangan denganmu." Emil mendekatkan wajahnya ke wajah Freya. Freya tahu Emil ingin menciumnya. Freya menggerakan kepalanya, menghindari ciuman Emil. Emil menahan kepala Freya. Mencium pipi Freya. Tangan Emil kembali membuka kancing kemeja Freya.
Emil berdiri kembali, dia membuka jasnya melemparkannya ke sembarang arah. Emil lanjut membuka kemejanya. Emil telah setengah telanjang. Freya mencoba untuk bangkit kembali, namun, tidak bisa. Dia tahu Emil akan melakukan tindakan yang tidak pantas.
Emil kembali mendekati Freya, membelai wajah Freya dan mencium rambut Freya, seperti psikopatch. Freya mencoba menghindari, dia pikir dia telah bergerak. Nyatanya tidak.
"Aku tidak akan memaafkanmu." Cicit Freya lemah dan akhirnya dia pingsan.
🍒🍒🍒
Aku up lagi ya. Semoga kalian suka.
Sebenarnya agak kecewa karena pembacanya berkurang🤭
Semoga yang kemarin baca, kembali lagi ke sini.
__ADS_1