
Hi mumpung hari Senin, aku mau ingatin jangan lupa Vote ya.
🍰🍰🍰
"Apa aku harus mengangakatnya?" Freya memastikan kembali kepada Amber. Agar dia merasa mendapatkan dukungan. Amber menganggukan kepala kepada Freya tanda setuju. Freya mengangkat teleponnya.
"Halo." Jawab Freya dengan kesal.
"Freya, kau di mana? Aku mencarimu ... saat terbangun." Cerocos Emil, membuat Freya semakin jijik.
"Bukan urusanmu ... jangan pernah menghubungiku lagi." Freya bersiap mematikan sambungan.
"Tunggu ... aku bisa jelaskan ... aku minta maaf ... please Freya ... dengarkan penjelasanku." Potong Emil cepat agar Freya tidak menutup sambungan teleponnya.
"Aku tidak tahu apa maumu ... dan aku sangat kecewa dan benci padamu ... tega sekali kau melakukan hal jahat padaku." Freya meluapkan kemarahannya. Ingin dia menusuk Emil saking kesalnya.
"Freya ... dengar semua karena aku sangat mencintaimu ... aku sangat cemburu memikirkan kau bersama Bara." Jujur Emil.
"Hentikan Emil, Bara suamiku ... seharusnya aku tidak memberimu harapan ... dan aku telah menjelaskannya kepadamu ... jangan pernah menghubungiku lagi ... aku menyesal telah mengenalmu." Bentak Freya. Ingin rasanya dia melempar handphone, demi meluapkan kemarahannya.
"Sekali lagi aku minta maaf Freya ... aku tidak akan memberitahu Bara ... aku akan melupakanmu ... semoga kau berbahagia." Ujar Emil, sambil tersenyum misterius. Dia kemudian mematikan sambungan.
"Apa katanya?" Tanya Amber tidak sabaran.
"Dia meminta maaf, dia bilang dia akan melupakanku dan tidak akan memberitahu Bara." Jelas Freya.
"Bukankah itu hal yang bagus ... maksudku setidaknya kau masih bisa mempertahankan rumah tanggamu." Ujar Amber lagi. Dia bergabung duduk di kursi di depan Freya.
"Tapi aku merasa bersalah dan membohongi Bara, bi ... aku tidak mau membohonginya lagi ... cukup sekali itu." Freya kembali meneteskan air mata. Dia benar-benar sangat lelah.
"Sebaiknya kau pulang dan membicarakannya dengan Bara. Bibi, hanya bisa berdo'a Bara bisa menerima hal ini ... kau tidak bersalah sayang ... kita akan menghadapinya bersama ... bibi minta, kau menyiapkan hatimu untuk segala hal yang akan terjadi."
***
Freya kembali ke rumah Bara, mandi untuk merilekskan pikirannya. Freya membuang pakaiannya ke dalam tong sampah. Freya mencoba untuk tidur, namun, dia bermimpi saat wajah Emil mendekat kepadanya, sebelum Freya benar-benar tidak sadarkan diri.
Freya terbangun dari mimpi itu. Bara keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Kau telah bangun?" Ujar Bara, dia menaiki ranjang dan mengukung Freya. Aroma sabun mandi tercium dari tubuh Bara.
"Kapan kau pulang?" Tanya Freya, dia melirik jam di meja nakas. Waktu menunjukan pukul sebelas malam.
"Barusan sebelum aku mandi ... kau tidur sangat pulas ... aku tidak tega membangunkanmu." Bara mencium kening dan bibir Freya sekilas.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Freya, dia baru ingat kalau dia juga melewatkan makan malamnya. Terakhir makan saat bersama Emil. Freya menggelengkan kepala mencoba menghilangkan kejadian dengan Emil.
"Aku makan dikantor." Jawab Bara.
"Bara ... ada yang ingin aku bicarakan." Freya telah memutuskan untuk menceritakan kejadian ini kepada Bara dan Fteya telah mempersiapkan hatinya dengan kemungkinan terburuk saat dia mengatakannya kepada Bara.
"Sebaiknya nanti saja ... aku menginginkanmu." Bara merayu Freya. Memberinya godaan-godaan kecil.
"Bara ini penting." Freya mencoba menyingkirkan tangan Freya yang bergerilya di tubuhnya.
"Tidak ada yang lebih penting dari ini." Bara kembali merayu Freya membangkitkan gairahnya. Freya merasa bersalah. Bolehkah dia melakukan ini untuk menghilangkan dan melupakan kejadian -- sialan yang dibuat Emil pada tubuhnya? Mungkin jejak yang ditinggalkan Bara dapat menghapusnya.
***
Bara bangun dengan semangat dan merasa segar, setelah percintaan mereka semalam yang sangat menggairahkan. Bara juga merasa Freya sangat bergairah, dia seperti melampiaskan sesuatu. Bara tidak peduli, dia merasa Freya tidak malu lagi dan mulai mengeluarkan keinginannya yang tersimpan.
"Duduklah, aku membuat butter waffle dengan madu ... ada omelet juga." Freya meletakan waffle ke piring Bara, menyiramnya dengan madu. Freya juga membawa sepiring omelet kesuakaan Bara. Ya Bara memang sangat menyukai omelet.
"Terima kasih." Bara yang masih berdiri menarik Freya dan mencium keningnya. Freya tidak pernah membayangkan, Bara akan memperlakukannya begitu romantis dan hangat. Sangat berbeda dengan pernikahannya dengan Edward.
Freya merasa sangat bahagia, dia berharap bisa terus bahagia seperti ini bersama Bara. Memang seperti ini rumah tangga yang diinginkannya. Penuh kehangatan dan romantisme.
"Apa kegiatanmu hari ini?" Tanya Bara di sela-sela sarapan pagi mereka.
"Aku akan ke toko ... memastikan persiapan pembukaannya berjalan lancar." Balas Freya. Dia menambahkan madu ke wafllenya.
"Aku akan mengantarmu sebelum ke kantor." Mulut Freya ingin menceritakan kejadian kemarin, namun, suaranya tidak keluar dari mulut, hanya tercekat di tenggorokan.
Freya memutuskan tidak ingin merusak suasana bahagia pagi ini. Sebaiknya besok dia menceritakannya kepaďa Bara.
***
__ADS_1
Hampir dua minggu sejak kejadian bersama Emil. Dan Freya belum memiliki keberanian untuk menceritakannya kepada Bara. Lalu saat Freya memiliki keberanian untuk menceritakannya kepada Bara. Ada saja yang menghalanginya.
Freya mulai berpikir apakah sebaiknya dia melupakan dan tidak perlu memceritakannya kepada Bara? Mungkin ini pertanda itu harus disimpan dan dilupakan. Dia harus bisa menikmati kebahagiaannya.
Saat ini Freya di toko rotinya bersama Amber. Dua minggu lagi mereka akan mulai membuka toko roti. Mereka telah mendapatkan beberapa karyawan. Karyawan tersebut membantu mereka dalam persiapan.
"Apa kau telah memberitahu Bara?" Tanya Amber di sela-sela mereka memeriksa perlengkapan toko.
"Belum, setiap aku ingin bicara ... ada saja halangannya ... apa ini pertanda Tuhan, bibi? Agar aku menyimpannya saja?" Jelas Freya.
"Bibi rasa mungkin, ya ... oh, Freya yang malang kau berhak bahagia ... kau telah banyak berbuat baik ... semoga Tuhan selalu melindungimu." Harap Amber. Amber melihat dua orang pria memasuki toko mereka.
"Sir Bara, mr. Black!" Sapa Amber saat mengetahui siapa yang datang.
"Hi ... bolehkah aku hanya memanggil kalian Amber dan Freya saja?" Tanya Delvin setelah mereka dekat.
"Sure.!" Jawab Amber cepat. Freya sedikit heran, biasanya butuh lama Amber menyetujui bersikap informal terhadap orang baru.
"Kami membawakan kalian cemilan." Bara memperlihatkan satu kantong berisi cemilan. Bara merangkul Freya dan menciumnya.
Amber dan Delvin yang melihat kemesraan meraka sangat senang. Akhirnya orang yang mereka kasihi mendapatkan kebahagiaannya.
Delvin melirik Amber yang seperti terharu melihat keponakannya. Jantung Delvin bergetar, setelah diperhatikan ternyata Amber cantik juga. Meskipun usianya tidak muda lagi.
Bara membisikan sesuatu kepada Freya, membuat wajah Freya memerah. Freya semakin mendekatkan diri di depan Bara. Seolah-olah dia malu dengan perkataan Bara.
"Kami akan ke atas." Beritahu Bara kepada Amber dan Delvin. Tanpa menunggu jawaban mereka. Bara telah menarik tangan Freya untuk mengikutinya ke lantai dua. Kemana lagi jika bukan ke kamar Freya lama. Bersyukur peralatan Freya masih tertinggal di sana.
🍒🍒🍒
Hanya mau kalian berikan VOTE
Mampir juga ya ke karya teman aku
...PERAWAT ISTRIKU MENJADI ISTRIKU ...
...by Biggest...
__ADS_1