JERAT HASRAT KAKAK IPAR

JERAT HASRAT KAKAK IPAR
Perangkap Selena


__ADS_3

Sebelum baca pencet dulu tombol Favoritenya ya cintah. Mumpung hari Senin jangan lupa vote buat diberikan kepada momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau sangat disarankan.😘


🍰🍰🍰


Bara tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Dia seperti bergairah. Ditambah Selena yang semakin gencar menggodanya.


"Apa yang kau masukan ke dalam minuman itu?" Tanya Bara, dia masih berusaha melawan hasratnya.


"Hanya suatu hadiah untuk perpisahan kita." Selena memang mencampurkan obat perangsang ke dalam botol wine. Berjaga-jaga jika Bara menolak gelas yang diberikannya.


"Pergilah Selena ... aku tidak ingin melakukannya denganmu." Bara mencoba mengusir Selena dari kamar. Selena bukannya keluar dia malah semakin menggoda Bara.


Bara yang tidak tahan akhirnya melampiaskan hasratnya kepada Selena.


"Pergilah." Usir Bara setelah menuntaskan hasratnya. Selena turun dari ranjang dan memakai pakaiannya kembali.


"Terima kasih atas hadiah perpisahan ini." Selena keluar dari apartment Bara sambil tersenyum.


***


"Jadi sekarang apa rencanamu?" Tanya Amber setelah Bara pergi.


"Entahlah, bibi ... aku bingung ... ini tidak termasuk dalam rencanaku." Jawab Freya dia mencuci piring bekas makan mereka.


"Sebaiknya kau ikut kemana sir Bara pergi. Jangan sampai dia memperlakukanmu seperti Edward." Amber mengingatkan Freya.


"Bibi benar, aku harus membuat Bara tidak memperlakukanku seperti Edward." Putus Freya. Setidaknya Freya tahu bahwa Bara menginginkannya, tidak seperti Edward yang sedikitpun tidak tertarik padanya. Bahkan pandangan Edward setiap kali menatap Freya adalah pandangan jijik.


Sampai sekarang sikap Edward padanya masih menjadi misteri bagi Freya. Entah apa yang disembunyikan Edward?


***


Bara ke kantor dengan terlambat. Sekretarisnya terpaksa harus menjadwalkan ulang jadwal Bara. Jam tiga sore Bara ada pertemuan dengan Emil.


"Sir, mr. Hamilton telah di sini, apa sudah bisa di suruh masuk?" Tanya Charlote kepada Bara.


"Ya, silahkan." Ucap Bara.


Emil memasuki ruangan Bara. Mereka membicarakan kelanjutan bisnis sesuai kesepakatan sebelumnya.


"Detailnya akan aku kirimkan ke emailmu untuk hal-hal yang kita revisi hari ini." Jelas Emil.


"Baiklah." Ujar Bara, dia berdiri mengambil beberapa berkas untuk di bawa Emil. Berkas tersebut telah di kerjakan sekretarisnya dan juga telah diperiksa Bara.


"Bara, aku serius dengan Freya." Ucap Emil, saat Bara memberikan berkas yang akan di bawa Emil. Bara terdiam dengan ucapan tiba-tiba Emil.

__ADS_1


"Lupakan dia, kami kembali bersama ... kau jangan menyukainya lagi." Bara melangkah ke kursinya bersandar di meja.


"Freya mengatakan bahwa kalian telah bercerai dan aku percaya dengan Freya." Emil mencoba meyakinkan diri bahwa Freya telah bercerai dengan Bara.


"Freya hanya menanda-tanganinya, tidak denganku dan aku tidak melanjutkannya." Jelas bara, dia masih menyandar di meja dengan tangan terlipat di perut.


"Jadi kau membohongi Freya?" Kesal Emil, ternyata Bara licik juga.


"Saat itu aku memang ingin berpisah dengan Freya ... hanya saja aku tidak sempat mengurusnya karena kesibukanku ... tapi, aku senang karena itu ... setidaknya Freya masih milikku." Bara menatap tajam kepada Emil. Menekankan kata milikku.


"Aku akan tetap memenangkan hati Freya." Emil tidak mau mengalah. Dia sangat menyukai Freya.


"Emil, aku katakan sekali lagi ... lupakan Freya, dia istriku ... kau boleh tanya kepada Freya ... apakah kami kembali bersama?" Bara mulai melunak.


"Aku permisi sekarang." Emil memutus pembicaraan dengan Bara dan keluar dari ruangan Bara.


Emil menuju ke tempat Freya.


"Oh, mr. Hamilton." Sapa Amber saat mengetahui siapa yang bertamu ke rumah mereka.


"Sore, miss, Apakah Freya ada?" Tanya Emil sopan.


"Sure, silahkan masuk." Tawar Amber mempersilahkan Emil masuk.


Emil duduk di salah satu kursi yang ada di toko roti Freya.


"Apa kau akan pergi Freya?" Tanya Amber saat melihat Freya keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi.


"Ya ... Bara menghubungiku ... dia mengajakku keluar untuk makan malam." Senyum Freya, dia memakai sepatunya.


"Tapi mr. Hamilton menunggumu di bawah." Ucap Amber, dia sempat berpikir jika Freya akan pergi bersama Emil. Amber malah telah menyiapkan nasehat agar dia memutuskan hubungan dengan Emil karena telah kembali bersama Bara.


"Oh, kalau begitu aku akan menjelaskan kepada Emil." Freya berjalan ke bawah. Dia memang belum sempat menjelaskan kepada Emil tentang situasinya. Karena hal ini terlalu mendadak.


Emil yang melihat Freya rapi dengan dandan cantik menjadi terkesima. Pandangan Emil tidak lepas dari Freya.


"Freya, kau cantik sekali." Ucap Emil penuh kekaguman.


"Terima kasih." Freya memgambil posisi duduk di depan Emil.


"Emil ... ada yang inginku katakan padamu ...." Freya mulai berbicara kepada Emil tentang hubungannya dengan Bara. Emil telah mengetahuinya, namun, dia tidak bisa menerimanya.


"Apa?" Apa ini tentang Bara?" Tanya Emil.


"Yah ... sebelumnya aku minta maaf ... Emil aku tidak bermaksud berbohong padamu ... aku ... aku tidak tahu jika ... Bara belum mengurus perceraian kami." Jelas Freya dengan terbata-bata. Dia tidak pernah berpikir untuk menyakiti Emil.

__ADS_1


Memang Freya salah karena pernah memanfaatkan Emil. Agar Bara cemburu. Namun, saat melihat Bara bersama Selena. Harapan Freya untuk memiliki Bara musnah dan Freya memutuskan untuk menerima Emil setulusnya.


"Apa kau pernah menyukaiku?" Tanya Emil, dia menatap Freya dan meraih tangannya. Namun, Freya menarik tangannya lagi.


"Aku ... aku berusaha untuk menyukaimu." Freya tidak ingin membohongi Emil dan memberinya harapan palsu.


"Apa kau mencintai Bara?" Emil kembali bertanya, sekalipun mungkin dia mengetahui jawaban Freya. Namun, Emil ingin mendengar langsung dari bibir Freya.


"Emil ... aku bisa jelaskan ...." Freya tidak melanjutkan ucapannya karena telah di potong Emil.


"Cukup jawab ya atau tidak Freya." Emil berdiri dari kursi, dia mengusap rambut dengan gusar. Sisi hatinya tidak terima. Jika Freya bersama Bara.


"Ya ... aku mencintai Bara." Akhirnya Freya jujur tentang perasaannya.


"Apa kau pernah menyukaiku?"


"Aku telah mencobanya ... hanya saja rasa itu belum tumbuh." Freya menuju ke depan Emil.


"Apa karena Bara lebih kaya?" Hina Emil. Freya tidak percaya jika Emil menilainya seperti itu.


"Bukan, aku malahan tidak tahu dengan kekayaannya ... aku tidak sematre itu." Freya kembali duduk di kursi karena lelah berdebat.


"Apa kita masih bisa berteman?" Tanya Emil lagi, dia kembali duduk di kursi depan Freya.


"Tentu saja ... tidak ada alasan tidak berteman denganmu."


"Halo, sayang, apakah kamu telah siap?" Bara yang datang tiba-tiba, Freya bahkan tidak menyadari kehadirannya. Bara mencium bibir Freya sekilas di depan Emil.


Emil hanya memalingkan wajah melihat kemesraan mereka. Tatapan tidak suka jelas terlihat di mata Emil. Emil yakin Bara pasti sengaja untuk membuatnya cemburu.


"Ya, aku telah siap." Jawab Freya. Dia menatap Emil bingung. Perasaan tidak enak kepada Emil. Tidak mungkin dia mengusir Emil dari rumahnya. Tuan rumah apa dia jika melakukan itu.


"Kami akan keluar, apa kau ingin menunggu di sini?" Bara melihat kebingungan Freya sehingga dia mengambil alihnya.


"Tidak, aku akan pergi." Emil keluar diikuti Bara sedangkan Freya masih terdiam dengan kejadian yang tidak nyaman tersebut.


"Apa kau sudah yakin? Menjauhlah dari istriku." Bisik Bara melewati Emil.


🍒🍒🍒


Aku up pagi ya. Semoga kalian suka.


insha Allah nanti siang update lagi


ramein juga dunk ONE NIGHT IN DUBAI.

__ADS_1


sengaja belum up lagi karena masih revisi editor.


__ADS_2