
Sebulan berlalu sejak kejadian Emil menjebak Freya. Hubungan Bara dan Freya masih aman. Sejak kejadian pertemuan dengan Selena tidak menyurutkan Freya meraih kebahagiaannya. Bahkan pengetahuan Freya tentang Edward yang tidak tertarik dengan wanita juga. Emilpun menepati janji melupakan Freya, dia tidak pernah sekalipun menghubungi Freya lagi. Membuat Freya lega.
Besok adalah pembukaan toko roti Freya. Persiapan telah mereka lakukan, baik Freya maupun Amber telah memastikan semua berjalan lancar pada saat hari H. Amber memperhatikan jika Freya sedikit pucat. Amber mendekati Freya memastikanndia tidak salah lihat.
"Freya apa kau istirahat dengan cukup baik?" Tanya Amber, dia tahu jika Freya telah bekerja, maka dia akan kurang istirahat.
"Aku cukup istirahat, bibi." Sahut Freya masih merapikan peralatan yang tadi mereka gunakan untuk membuat roti.
"Kau kelihatan pucat Freya." Ujar Amber lagi, dia menyeberangi meja dan mendekat ke arah Freya berdiri.
"Sepertinya kau kecapekan, apa kau sedang menstruasi?" Biasanya Freya saat datang bulan dan banyak kegiatan sering pucat.
"Menstruasi?" Freya baru ingat terakhir menstruasi adalah seminggu sebelum pesta anniversary Warner. Freya ngeri membayangkan jika dia hamil?
"Atau jangan-jangan kau hamil?" Tebak Amber, wajahnya menyiratkan kebahagiaan, jika Freya hamil seharusnya hidup Freya akan menjadi bahagia dan lengkap.
__ADS_1
Amber tahu sejak menikahi Edward, Freya berharap segera memiliki anak. Dan sekarang saat bersama Bara, pasti Freya bisa memiliki anak, agar mereka menjakankan rumah tangga yang harmonis. Tidak seperti sebelumnya.
"Freya ... apa kau baik-baik saja?" Amber bertanya lagi karena melihat Freya hanya diam dengan tatapan kosong. Ada apa? Apa Bara tidak menginginkan anak? Mengingat pembicaraan mereka saat Bara datang menyusup ke rumah mereka.
"Bibi." Freya tidak melanjutkan kalimatnya. Dia justru menatap Amber dengan ragu kemudian memalingkan pandangan ke arah lain. Dia mencoba untuk menenangkan diri sebelum mebicarakan kegundahannya kepada Amber.
"Ya ... ada apa Freya? Jangan membuat bibi khawatir." Amber mendekati Freya dan meraih tangan Freya untuk menenangkannya. Amber bertanya apa yang dicemaskan oleh keponakannya ini.
Bukankah dia telah bersama Bara, laki-laki yang dicintainya. Bahkan jika Freya hamil, akan membuat kebahagian Freya lengkap.
"Bagaimana jika aku hamil?" Freya justru kembali bertanya. Dia melepaskan genggaman tangan Amber, berjalan menuju arah jendela. Dia menatap ke luar, berharap melihat ke pohon cemara akan menenangkan kegundahan hatinya.
"Tidak, bibi, aku tidak tahu keinginan Bara. Kami belum membahas soal anak ... kami hanya menjalankan rumah tangga ... mengalir apa adanya." Jelas Freya lagi. Dia masih menatap keluar jendela.
"Sebaiknya kau periksakan saja dulu ... jika kau benar-benar hamil ... cobalah berbicara dengan Bara." Amber mencoba memberikan solusi.
__ADS_1
"Bibi, ini bukan hanya tentang, Bara." Ucap Freya ragu. Bagaimana memberitahu Amber tentang kegundahannya.
"Lalu, apa yang kau cemaskan? Bibi tidak mengerti ... bisakah kau menjelaskannya dengan tidak bertele-tele?" Lanjut Amber lagi.
"Maaf, miss, semua sudah selesai ... apakah kami telah boleh pulang?" Karyawan baru yang telah di rekrut Freya dan Amber dua minggu yang lalu dan sedang mereka training menghampiri dan membuat pembicaraan Freya dan Amber terpotong.
Freya melirik empat orang karyawan dua laki-laki dan dua perempuan yang masuk ke dapur. Mereka selesai membersihkan bagian depan.
"Ya, silahkan, istirahat yang cukup karena besok pasti sangat melelahkan." Ucap Freya.
"Terima kasih, madam." Mereka meninggalkan Amber dan Freya.
🍒🍒🍒
Pekanbaru
__ADS_1
220922
20.23