JERAT HASRAT KAKAK IPAR

JERAT HASRAT KAKAK IPAR
Hamil


__ADS_3

Sebelum baca pencet dulu tombol Favoritenya ya cintah. Bagi yang masih punya vote silahkan berikan buat momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.😘


🍰🍰🍰


"Tidak bisa melakukan apa?" Ujar Bara saat mendengar kata terakhir Emil. Bara masuk ke dapur di waktu yang tidak tepat. Freya semakin ketakutan dengan kedatangan Bara. Apakah Emil akan memberitahu Bara?


Seketika Freya merasa lemah, wajahnya semakin pucat. Bara melihat Freya yang sepertinya akan pingsan. Secepat kilat Bara menuju Freya sebelum dia jatuh ke lantai.


"Freya!" Panggil Bara, memegang dan menepuk pipi Freya agar Freya sadar.


Emil juga terlihat shock melihat Freya yang pingsan.


"Apa tidak sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit?" Tawar Emil.


"Kau benar." Bara menggendong Freya dan membawanya keluar.


Amber melihat Bara yang menggendong Freya, disusul Emil. Amber meminta Delvin untuk menggantikannya di kasir.


"Sir, mohon jaga sebentar, saya ingin melihat kondisi keponakan saya." Amber melangkah dan mengikuti Bara.


"Mana kunci mobilmu?" Pinta Emil.


"Tadi Delvin yang bawa mobil mungkin masih sama dia." Emil kembali ke dalam untuk meminta kunci kepada Delvin.


"Apa yang terjadi?" Tanya Amber saat berselisih dengan Emil.


"Freya pingsan." Jawab Emil.


"Apa yang kau lakukan padanya?" Amber menatap Emil dengan pandangan tidak suka. Amber yakin pasti Emil memprovokasi dan membuat Freya setress. Apa lagi sepertinya Freya tengah hamil.


"Sebaiknya kita tidak berdebat dulu, aku harus mengambil kunci kepada Delvin." Emil kembali melangkah ke dalam.


Amber menuju ke mobil Bara.


"Apa yang terjadi?"


"Aku tidak tahu, dia tadi sedang berbicara dengan Emil. Saat aku datang Freya tiba-tiba pingsan. Sepertinya dia kelelahan karena pembukaan toko roti."


"Ya, kau benar, mungkin karena akhir-akhir ini dia kelelahan dan setress dalam pembukaan toko." Amber membenarkan perkataan Bara.


Emil datang dan menekan kunci mobil. Amber membuka pintu dan Bara masuk.


"Biar aku yang menyetir!" Tawar Emil lagi dia bersiap masuk ke dalam mobil.


"Aku ikut bersama kalian," tukas Amber bersiap masuk mobil.


"Sebaiknya tidak ... toko sedang ramai, dan Delvin tidak akan bisa menanganinya sendiri tanpa kau maupun Freya ... dia tidak akan mengerti," jelas Bara.

__ADS_1


"Kau benar, aku akan di sini, kabari aku, setelah mendapatkan hasil pemeriksaannya." Amber menutup pintu mobil.


Emil melajukan mobil Bara dengan kecepatan sedang. Bara masih berusaha membangunkan Freya.


"Freya, bangunlah, jangan membuatku khawatir." Bara menepuk-nepuk pipi Freya. Dia juga menciumi wajah Freya. Emil melihat hal tersebut, menggenggam stir dengan kuat. Kecemburuan terlintas di matanya. Emil menatap ke kaca spion.


"Emil, awas!" Teriak Bara, saat melihat Emil membawa mobil seperti melamun dan mereka hampir menabrak pembatas jalan.


"Maaf, aku hanya takut terjadi apa-apa dengan Freya." Elak Emil. Dia kembali mengarahkan pandangan ke depan.


"Fokus saja menyetir, aku menjaga Freya. Dia istriku." Bara mengingatkan Emil bahwa yang seharusnya khawatir adalah dirinya, bukan Emil.


"Aku tahu." Balas Emil dengan kesal. Tapi, setelah kau tahu apa yang terjadi antara aku dan Freya, apakah kau masih akan menjadikan Freya istrimu atau kau akan membuangnya?


"Sebenarnya, apa yang kalian bicarakan tadi? Sebelum aku datang?" Tanya Bara, dia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Freya dan Emil, sebelum kedatangannya.


"Itu ada klinik, apa sebaiknya kita bawa ke sana atau mencari rumah sakit yang lebih besar?" Emil tidak menjawab pertanyaan Bara. Bara melihat ke depan, di sebelah kiri ada klinik.


"Ya, sebaiknya kita ke sana, untuk pertolongan pertama, aku tidak mau terjadi apa-apa terhadap Freya. Jika memang setelah di periksan di sana tidak bisa. Kita akan membawa ke rumah sakit yang lebih besar." Emil memasang lampu sent menuju klinik yang bernama 'Notting Hill Clinic'.


Emil memarkir mobil, kemudian membukakan pintu untuk Bara. Bara keluar dan kembali menggendong Freya.


"Aku akan meminta perawat membawa brangkar." Emil berlari masuk ke dalam klinik.


Bara menggendong Freya, saat di pintu petugas klinik telah membawa brangkar. Bara membaringkan tubuh Freya di atas brangkar. Perawat mendorong dan menuju IGD. Bara mengikuti mereka.


"Apa anda keluarganya, sir?" Tanya perawat saat brangkar telah masuk ruang IGD.


"Silahkan, sir." Perawat mengizinkan Bara masuk.


Perawat memeriksa denyut nadi dan tensi Freya sebelum dokter masuk dan memeriksa Freya. Perawat juga memberi infus kepada Freya.


Dokter mengambil catatan dari perawat. Kemudian lanjut memeriksa Freya.


"Denyut nadinya lemah dan tensi rendah. Apa dia kelelahan?" Tanya dokter.


"Sepertinya dok, hari ini pembukaan toko rotinya." Beritahu Bara.


"Denyut nadi lemah tapi cepat, sepertinya dia hamil, saya akan beri rujukan ke dokter obgyn. Seharusnya kondisi seperti ini dia tidak boleh setress dan kelelahan." Dokter membuat surat rujukan.


"Hamil, dok?" Ucap Bara dengan ragu.


"Ya, wajarkan, anda suaminya?" Sahut dokter heran dengan pertanyaan Bara. Apa pria ini tipe yang tidak ingin punya anak. Wajar sih, di kota besar seperti London, mereka tidak mementingkan tentang anak. Malahan sebagian merasa repot jika harus memiliki anak.


Entah merasa akan mengemban tanggung jawab besar. Terbatasnya kegiatan dan hilangnya kebebasan.


"Dokter, benar." Bara fokus kembali kepada ucapan dokter.

__ADS_1


Dokter memberikan surat kepada Bara, perawat membawa brangkar menuju ruangan obgyn. Bara membantu memegang infus.


"Ada apa, mau di bawa ke mana Freya?" Tanya Emil begitu Bara keluar dengan Freya yang masih pingsan di atas brangkar.


"Poli obgyn." Jawab Bara singkat. Perawat dan Bara berjalan ke poli obgyn diikuti Emil. Saat Bara dan perawat masuk, Emil menunggu di luar. Dia tersenyum licik.


Tidak lama lagi, Freya akan menjadi miliknya.


Dokter memeriksa kondisi Freya, dokter memberikan gel.le perut Freya.


"Lihat, janinnya sudah terbentuk. Sepertinya kondisinya yang sedang hamil dan kelelahan membuat dia pingsan." Jelas dokter.


Bara mendengar bunyi detak jantung.


"Suara apa itu dok?"


"Itu detak jantung bayinya." Jawab dokter.


"Apa yang terjadi? Apakah mereka baik-baik saja?" Maksud Bara adalah Freya dan bayinya.


"Tentu saja, itu hal biasa. Selamat buat anda, sir. Saya akan buatkan resep untuk anda tebus." Senyum dokter. Dia kemudian menuliskan resep.


"Oh, kepalaku." Freya bangun dari pingsannya dan memegang kepalanya yang pusing. Bara langsung menghampiri Freya.


"Kau telah sadar, apa yang kau rasakan? Beritahu, aku akan meminta dokter memeriksamu lagi." Cerocos Bara.


"Apa yang terjadi?"


"Kau hanya kelelahan dan itu hal yang wajar, karena kau sedang hamil." Beritahu Bara, dia mencium Freya.


Dokter kembali memeriksa Freya dan menyatakan Freya boleh pulang. Mereka keluar dari ruangan, Bara memapah Freya.


"Aku bisa sendiri." Bara sedikit melonggarkan pegangannya.


"Kau sudah sadar, Freya, syukurlah." Ucap Emil begitu melihat Bara dan Freya keluar dari ruangan. Freya memelototkan matanya, kenapa Emil ada di sini?


🍒🍒🍒


Hi sambil nunggu Bara dan Freya update, mampir yuks ke karya teman author.



blurb


"Aku belajar menerima dan mencintai mu dengan sepenuh jiwa, tapi kau malah main belakang dengan kakakku"


Kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali, dengan matanya ia melihat sang kakak berada dalam kungkungan suaminya. Rasa bergetar, panas, dingin semua menyatu merasuk dalam jiwa hingga membentuk menjadi amarah, dendam dan rasa ingin menghancurkan yang besar.

__ADS_1


Akan tetapi kenyataan lain menampar kesadarannya, kenyataan yang membuat seluruh sarap kewarasannya menoleransi semuanya.


Akankah Namira bertahan dan menerima semuanya begitu saja?


__ADS_2