JERAT HASRAT KAKAK IPAR

JERAT HASRAT KAKAK IPAR
Ketahuan


__ADS_3

Jangan lupa koment ya. Bagi yang masih punya vote silahkan berikan buat momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.😘


🍰🍰🍰


Cukup lama Delvin berada di rumah Freya dan Amber. Dia masih membujuk Amber bahwa akan baik-baik saja dengan mereka menikah. Meskipun Amber dan Delvin tidak muda lagi, mereka masih dalam kondisi prima.


Bisa saja Delvin, mendapatkan wanita muda yang lebih cantik dari Amber. Namun, entah kenapa Delvin lebih menyukai Amber yang keibuan. Delvin juga melihat sikap Amber yang menyayangi dan melindungi keponakannya. Sore hari Delvin pamit kembali ke London.


"Aku harap kau segera membicarakannya dengan Freya," ucap Delvin, dia kemudian mengecup bibir Amber sekilas. Amber memelototkan matanya, kaget dengan perlakuan Delvin yang menurutnya tidak pantas. Usia mereka tidak lagi muda dan hal itu sangat tak pantas untuk dilakukan.


"Kau!" Delvin hanya senyum nakal. Kemudian mencium pipi Amber sebelum pergi menuju mobilnya. Delvin melambaikan tangan.


"Dua hari lagi, aku akan kembali," teriak Delvin sambil melambaikan tangannya. Dia terlihat bahagia karena akhirnya bisa mengatakan keinginannya.


Amber hanya bisa tersenyum. Freya yang tadi sempat melihat Delvin mencium Amber. Bertanya-tanya apakah mereka memiliki hubungan special yang dia tidak ketahui?


Amber membalikan badannya dan kaget saat mendapati Freya telah berada di belakangnya dengan tatapan menuduh.


"A--pa kau dari tadi di sana?" tanya Amber gugup, dia takut Freya melihat tingkah Delvin tadi. Terus terang Amber belum siap untuk membicarakan tentang hubungannya dengan Delvin kepada Freya.


"Ya, cukup lama untuk mengetahui sesuatu," sindir Freya. Dia khawatir jika Amber memang memliki hubungan dengan Delvin maka hidupnya akan menjadi tidak nyaman. Tapi, Freya tidak boleh egois, jika Amber menemukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia, bukankah itu hal yang bagus? Mengingat Amber telah merelakan masa mudanya untuk merawat Freya kecil. Tapi, kenapa harus Delvin? Apakah tidak ada pria lain?


"Freya. Maafkan, Bibi," jujur Amber, dia tahu berarti Freya melihat kejadian Delvin menciumnya. Amber mengusap wajahnya menghilangkan kegugupannya.


"Apa ini?" tanya Freya saat melihat cincin berlian yang berkilauan di jari manis Amber.


"I--ni--"


"Apa dia melamar, Bibi?" Potong Freya sebelum Amber selesai memberitahunya.

__ADS_1


"Ya, tapi Bibi belum memberi jawabannya," ungkap Amber cepat, takut Freya menjadi salah paham.


Ada perasaan cemburu yang Freya rasakan. Bara tidak pernah melakukan hal itu kepadanya. Meskipun Freya merasakan cinta dari Bara. Namun, Bara bukanlah pria romantis atau karena pernikahan mereka dulunya keterpaksaan karena Freya menjebak Bara?


"Bibi, aku turut bahagia mendengarnya ... hanya saja aku masih merasa khawatir, Delvin adalah sahabat Bara, lambat laun pasti Bara akan bisa menemukan kita," panik Freya.


"Bibi, bisa pastikan, jika kelak Bara menemukan kita ... itu bukan dari Delvin, sayang. Dia telah berjanji untuk menjaga kita dari siapapun termasuk Bara," bujuk Amber. Dia sangat bahagia karena akhirnya ada pria yang serius mengajaknya menikah.


Selama ini Amber hanya mengabdikan hidupnya demi Freya dan Frank. Tidak bisakah sekarang dia ingin memiliki suami?


"Aku--" Freya tidak meneruskan kata-katanya. Baginya sangat mustahil jika dia harus melihat Amber menikah. Freya telah terbiasa dengan status lajang Amber.


"Dengar Freya, selama ini, Bibi tidak pernah merasakan perasaan seperti ini ... apa kau tidak melihat bahwa Bibi sangat bahagia saat dia melamar? Apa menurutmu Bibi tidak pantas untuk menikah?"


"Ya, Bibi tidak bisa melakukan itu. Bagaimana denganku?" teriak Freya histeris. Dia takut Amber tidak lagi menyayanginya nanti dan bahkan mengabaikannya karena sibuk dengan suaminya. Sementara Freya hanya memiliki Amber dan bayi yang sedang dikandungnya. Kondisi Freya sedang membutuhkan perhatian.


"Kenapa denganmu?" Emosi Amberpun tersulut. Apa Freya tidak bisa melihatnya bahagia? Selama ini Amber telah banyak berkorban untuk Freya dan Frank. Egoiskah jika sekarang dia ingin merasakan kebahagiaannya sendiri?


"Ah, sakit." Freya memegang perutnya.


"Freya!" panggil Amber, dia khawatir. Dia mendekati Freya dan memapahnya untuk duduk di sofa.


Amber menghubungi Delvin, berharap Delvin belum pergi terlalu jauh.


"Ya, Amber," jawab Delvin di seberang sana.


"Delvin, bisakah kau kembali, Freya--"


"Aku segera kembali ke sana." Delvin menutup telepon. Dia segera menuju rumah Amber dan Freya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Delvin begitu masuk kembali ke rumah.


"Entahlah," jawab Amber. Delvin secepat kilat menggendong Freya dan membawanya ke mobil. Amber duduk dan meletakan kepala Freya di pangkuannya.


Delvin membawa Freya ke rumah sakit terdekat. Perawat meletakan tubuh Freya di brangkar rumah sakit. Dokter dengan cepat memeriksa kondisi Freya.


"Bagaimana, dok?" tanya Amber tidak sabaran. Dia akan sangat menyesal jika terjadi sesuatu kepada Freya maupun bayinya.


"Biarkan dia istirahat dulu, kita akan menunggu hasilnya setelah dua jam," jawab dokter.


"Bayinya?" lanjut Amber lagi.


"Saat ini janinnya terlalu lemah, kami belum bisa memastikan, kita tunggu saja dulu," jelas dokter. Dia kemudian meninggalkan ruangan rawat inap Freya.


"Maafkan, Bibi. Bibi akan melakukan apa saja, agar kau bahagia," lirih Amber. Dia menyesal berdebat dengan Freya.


"Tenanglah, aku yakin, Freya dan bayinya pasti baik-baik saja," ucap Delvin menenangkan Amber.


"Aku harap begitu, ini semua salahku, aku berdebat dengannya." Sesal Amber, dia menatap Freya yang terbaring lemah.


"Berdebat?"


"Ya, Freya melihat kau menciumku," 


🍒🍒🍒


Pekanbaru


141022

__ADS_1


07.01


__ADS_2