
Jangan lupa koment ya. Bagi yang masih punya vote silahkan berikan buat momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.π
π°π°π°
Bara masih belum menemukan Freya. Semua jadwal yang di rencanakannya menjadi berantakan karena fokus mencari Freya. Akhirnya Bara memutuskan menemui penyewa rumah karena jika harus menungggu Dayton akan lama. Sementara rumah tersebut akan segera diruntuhkan.
Sore itu Bara ke rumah yang dibangun di lahan miliknya. Bara memperhatikan sepanjang jalan, tidak salah dia membangun hotel karena pemandangan yang diberikan di sekitar lahan tersebut sangat indah.
Mata Bara dimanjakan oleh pemandangan bukit-bukit yang hijau serta bunga-bunga yang indah. Memasuki jalan ke rumah tersebut terdapat sungai yang jernih.
Bara melihat rumah satu tingkat dengan warna krem. Di pekarangan rumah itu ada tanaman tomat dan kentang. Sepertinya ditanam oleh pemilik rumah.
Bara memarkirkan mobil di depan rumah tersebut. Dia keluar dari mobil ternyata tanah sedikit becek akibat hujan tadi malam. Bara melangkahkan kaki menuju rumah. Sebelum menaiki rumah Bara menghentakan kaki agar lumpur yang melekat di sepatunya turun.
Bara memperhatikan rumah tersebut, bersih dan nyaman. Sayang juga jika di hancurkan. Bara bertanya-tanya untuk apa Edward mengizinkan mr. Rodrigo membangun rumah ini?
Bara mencari bel, Namun, tidak ada akhirnya Bara mengetuk pintu. Cukup lama Bara mengetuk sampai akhirnya pintu dibuka.
"Ya, anda mencari siapa, Sir?" tanya seorang wanita. Jantung Bara berdetak sangat cepat dia mengenal suara itu dengan sangat akrab.
***
"Freya! Bibi, akan memeriksa kandungan, apa kau mau ikut?" tanya Amber, dia telah bersiap-siap.
Delvin keluar dari kamar. "Ayo, kalian sudah siapkan?" tanya Delvin kepada Freya dan Amber.
"Paman, Bibi, aku tidak ingin ikut, aku malas keluar," jawab Freya.
"Tapi, ini sudah waktunya kau untuk memeriksakan kandunganmu, Freya." Amber mengingatkan Freya tentang jadwal kontrolnya.
"Aku bulan depan saja memeriksakannya," putus Freya.
"Oh, ayolah Freya kau harus memeriksakan kandunganmu," saran Amber.
"Ya ... ya, baiklah," ucap Freya dengan tidak bersemangat. "Aku akan mengganti pakaian." Freya menuju kamarnya.
"Mrs. Blade, apakah boleh saya izin, saya ingin pulang kampung, ibu saya sakit," ujar Derby memberi tahu Amber.
"Tentu saja, silahkan, aku harap ibumu baik-baik saja," ucap Amber.
"Terima Kasih Mrs, saya pamit dulu." Derby bersiap untuk pergi.
__ADS_1
"Apa kau ingin ikut bersama kami? Aku bisa mengantarmu ke stasiun kereta," tawar Delvin.
"Terima kasih, Sir, saya akan mengambil tas." Dia meninggalkan ruangan.
"Ayo," ajak Freya saat dia telah keluar dari kamar.
Derby muncul dengan tasnya. Mereka berangkat mengantarkan Derby ke stasiun kereta api. Setelah itu ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan.
Amber menemani Freya saat nama Freya dipanggil. Delvin tetap diluar menunggu. Setelah giliran Freya adalah Amber. Freya memanggil Delvin untuk ke dalam.
"Kalian tunggu saja di sini, aku akan menebus resep," pamit Delvin. Dia menuju apotik untuk menebus resep kedua wanita hamil tersebut.
"Perutmu sudah membesar," ucap Amber, dia mengelus perut Freya.
"Sebentar lagi, perut Bibi juga akan membesar," ejek Freya.
"Kenapa kau tidak ingin dokter memeriksa jenis kelaminnya?" tanya Amber.
Apa Freya tidak penasaran?
"Aku hanya ingin surprise saat melahirkan," jawab Freya.
"Ini punya Freya dan ini punyamu sayang." Delvin menyerahkan masing-masing obat kepada Amber dan Freya.
"Freya, Paman ingin makan chicken herb yang ada di Cafe depan toko Adam," ungkap Delvin.
"Sayang, kami harus menyiapkan untuk makan malam kita," bujuk Amber.
"Tapi, aku ingin makan itu sayang," rajuk Delvin
"Kami akan membuatkannya," rayu Amber lagi.
"Aku mau yang di Cafe itu," bujuk Delvin.
"Sebaiknya kalian pergi saja, aku akan pulang dengan naik taxy," saran Freya.
"Kau tidak mau ikut kami?" tanya Delvin.
"Tidak Paman, entah kenapa akhir-akhir ini aku sering merasa kecapekan," jujur Freya.
"Kalau begitu, kami tidak jadi pergi," putus Delvin.
__ADS_1
"Tidak, kalian harus pergi tanpa aku, jika tidak aku akan merasa bersalah," tolak Freya.
"Kalau begitu kami akan mengantarkanmu ... baru setelah itu pergi," tawar Delvin.
"Itu lebih baik," jawab Freya.
"Apa kau akan baik-baik saja, jika sendirian di rumah?" tanya Amber. Dia khawatir meninggalkan Freya sendirian.
"Tenang saja, Bibi. Akukan hanya di rumah," jelas Freya.
Mereka mengantar Freya ke rumah. Freya turun dari mobil.
"Bawa handphone Bibi ini, jika ada apa-apa segera hubungi Delvin," usul Amber sambil menyerahkan Handphonenya kepada Freya. Freya memang belum membeli kartu baru karena takut Bara bisa melacaknya.
Freya mengambil handphone dan masuk ke dalam rumah. Amber dan Delvin kembali lagi ke pusat kota Maidstone.
Freya mulai memasak untuk makan malam. Tengah asik memasak sayup-sayup Freya mendengar bunyi ketukan pintu. Bara melepas apronnya dan menuju ruang tamu.
Freya membuka pintu dan melihat seorang pria berdiri di depan pintu.
"Ya, anda mencari siapa, Sir?" tanya Freya. Pria tersebut memakai mantel panjang berwarna coklat. Sekilas Freya berpikir jika pria itu seperti Bara karena postur tubuhnya yang sama. Namun, segera Freya tepis karena tidak mungkin Bara di sini, di rumahnya.
πππ
Yang sabar ya kalian, Mereka pasti bertemu kokπ€
Nah kalau mereka bertemu kalian mau mereka ngapain?
Freya memaafkannya dan kembali bersama?
atau ...?
Silahkan ungkap keinginan kalian seperti apa ya!
Pokoknya bulan depan cerita ini harus tamat ya. Mau fokus le cerita lainnyaπ€
Pekanbaru
291022
10.08
__ADS_1
.