
Mumpung hari Senin jangan lupa Vote ya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.😘
🍰🍰🍰
Freya, Amber dan semua karyawan sangat disibukan dengan pembukaan toko rotinya. Freya tidak menyangka antusias pengunjung akan seramai ini. Freya dan karyawan yang membantunya memasak menjadi sangat kerepotan.
Seharusnya dia mencari karyawan paruh waktu selama satu minggu pembukaan. Namun--karena Freya pikir tidak mungkin seramai ini. Seharusnya Freya bisa memprediksikan kemungkinan seperti ini.
Freya melihat Bara dan Delvin datang, Freya sangat senang karena sepertinya Bara ingin membantu. Akan tetapi, senyum Freya menghilang saat ternyata tidak hanya Bara dan Delvin yang datang, Emil juga bersama mereka.
Kenapa Emil ada bersama Bara? Apa yang dilakukan Emil di sini? Apakah dia memberitahu Bara?
Freya tidak sanggup membayangkannya. Tiba-tiba nafasnya menjadi sesak.
"Mrs. Horisson, anda baik-baik saja?" Tanya karyawan laki-laki Freya, saat melihat Freya sedikit pucat dan sesak nafas.
"Ya, aku baik-baik saja." Balas Freya, mencoba menenangkan diri agar dia bisa tetap melalui hari ini dengan baik. Freya tidak ingin pembukaan toko rotinya menjadi kacau.
Bara memeluk dan mencium Freya, Emil memperhatikan dengan tatapan yang tidak bisa dipahami Freya. Jangan sampai Emil mengacaukannya.
"Aku lihat kau kerepotan, dan aku membawa dua orang tenaga kerja tambahan ... jadi tiga denganku." Ujar Bara dia melepaskan pelukannya dari Freya.
"Beritahu kami, apa yang harus kami lakukan?" Delvin mulai melepaskan jas dan menggantungnya di dinding. Dia juga mulai menggulung lengan baju.
"Mungkin bisa dengan mengeluarkan roti dari oven dan membawanya keluar." Jelas Freya dia memberikan apron kepada Delvin.
Bara dan Emil juga menggantung jas dan menggulung lengan baju. Freyapun membagikan apron kepada Bara dan Emil, untuk Emil, Freya tidak berani menatap matanya. Sekalipun Freya merasakan tatapan mengintimidasi dari Emil. Dengan bersusah payah Freya untuk tetap bersikap tenang.
"Apa kabarmu Freya?" Pertanyaan basa-basi Emil.
"Aku baik." jawab Freya cepat.
"Aku akan membawa roti ini keluar." Bara keluar dari dapur dan membawa beberapa roti.
Freya memeriksa roti yang sedang di proofing di lemari proofing. Mengeluarkannya dan memasukannya ke dalam oven. Emil masih berdiri, dia tidak berinisiatif membawa roti yang telah di keluarkan Freya dari Oven dan membawanya keluar. Sepertinya Emil sengaja agar di dekat Freya terus.
"Aku akan membawa ini keluar." Ujar Delvin saat masuk kembali ke dapur. Dia melihat satu loyang roti yang telah matang.
"Kau tampak cantik sekalipun sedikit pucat." Emil mencoba berbicara dengan Freya.
__ADS_1
"Terima kasih." Jawab Freya singkat. Dia kembali mengambil roti yang telah di proofing dan memasukannya ke dalam oven.
Karyawan Freya sibuk mencetak adonan. Freya melihat mixer yang sedang memutar adonan. Freya memeriksanya memastikan adonan telah mencapai window pane. Freya mematikan mixer dan mengeluarkan adonan dan meletakannya di meja agar bisa di bentuk-bentuk oleh karyawannya.
"Apa yang harus aku lakukan, untuk membantumu?" Tanya Emil, dia sedikit kesal karena Freya--sepertinya menghindarinya.
"Bisakah kau pergi dari sini?" Usir Freya tanpa memedulikan perasaan Emil karena Freya merasa tidak nyaman dengan keberadaannya di sini.
Bukanya merasa terbantu, Freya justru merasa terhambat. Kehadiran Emil membuat pikiran Freya menjadi was-was. Seolah-olah Emil adalah bom waktu yang setiap saat bisa meledak dan memporak-porandakan kebahagiaan yang sedang dirasakan Freya.
"Kenapa?" Emil mendekat kepada Freya.
"Kau tahu sekali maksudku." Freya menghindari Emil dengan kembali memeriksa oven satunya lagi. Emil mengikuti Freya.
"Aku rasa itu bukan solusi yang bagus." Jawab Emil, dia ingin meraih rambut Freya. Freya berjalan ke sisi satunya dan membuka lemari mengambil adonan yang telah di timbang. Freya mulai memasukannya ke dalam mixer dan menghidupkan mixer.
"Dengar Freya, jangan coba-coba untuk menghindariku." Ancam Emil.
"Bukankah kau berjanji tidak akan menggangguku?" Freya membalikan badan dan memberanikan diri untuk menatap Emil. Meskipun dia merasa jijik setiap melihat Emil. Bayangan kejadian sebulan yang lalu kembali menghantuinya.
"Akukan memang tidak mengganggumu, tapi, aku tidak berjanji untuk menjauh darimu." Senyum Emil, membuat Freya pucat.
"Apa yang kau inginkan?" Freya menatap Emil tajam, seakan-akan dia ingin mencekik leher Emil.
Apa Emil menjadi gila, tidak bisakah dia merelakan Freya bahagia dengan Bara?
"Aku sangat mencintai Bara, tolong biarkan kami bahagia." Mohon Freya dengan memelas.
"Lalu bagaimana denganku?" Egois Emil, tidak mau Freya bahagia.
"Kau bisa mencari wanita lain." Bujuk Freya.
"Tapi aku hanya menginginkanmu Freya."
"Itu tidak mungkin, aku telah menikah dan aku mencintai Bara, suamiku dan kau juga temannya."
"Aku tidak peduli, sekalipun Bara temanku, aku hanya menginkanmu." Ucap Emil dengan keras kepala. Dia tidak mau mendengarkan perkataan Freya.
"Pelankan suaramu." Freya tidak ingin karyawannya bertanya-tanya apa yang terjadi dengannya dan pria ini.
__ADS_1
Tempat mixer memang diberi sekat dengan meja cetakan. Freya memundurkan tubuh melihat karyawannya. Bersyukur mereka asik membentuk adonan.
Emil mendekatkan diri menuju Freya, membuat Freya mundur.
"Jangan mendekat." Freya mendorong tubuh Emil yang mulai mendekat kepadanya. Freya menuju ke tempat karyawannya. Dan membantu mereka mencetak adonan. Freya gemetaran karena Freya yakin Emil sepertinya ingin melakukan hal jahat lagi kepadanya.
Aku harus kuat, jangan mudah tertindas Emil.
Emil kembali mengikuti Freya, namun, dia tidak bisa berbuat banyak. Freya mengambil roti yang telah dicetak dan memasukannya ke dalam lemari proofing.
Freya keluar menghindari Emil, Freya membawa beberapa cake untuk di pajang di etalase. Freya melihat Bara tengah membantu dengan mengantar minuman. Bara melihat Freya yang sedang menyusun cake di etalase. Bara tersenyum kepada Freya membuat jantung Freya berdetak kencang hanya dengan senyuman yang diberikan Bara.
Freya memberi kode kepada Bara bahwa dia harus masuk ke dapur lagi. Bara menganggukan kepala. Jika bisa memilih Freya ingi di luar saja dari pada bertemu Emil.
Freya memasuki dapur dan melihat Emil sedang mengeluarkan roti dari oven.
"Apakah sudah matang?" Freya bertanya justru ke karyawannya.
"Tadi oven telah bunyi." Emil yang menjawab.
Freya menghindari Emil, dia merasa sangat tertekan dengan situasi ini. Emil semakin kesal karena Freya terus saja mengabaikannya.
"Jangan pernah mengabaikanku. Atau kau tahu sendiri, akibatnya!" Emil mengancam Freya. Freya semakin ketakutan.
"Apa yang kau inginkan? Aku mohon pergilah." Mata Freya mulai berkaca, namun, masih ditahannya karena dia tidak ingin terlihat lemah di depan Emil.
"Kau!" Balas Emil menatap tajam Freya.
"Kau tahu itu tidak mungkin ... jangan membuat permintaan yang tidak mungkin aku berikan ... kau berjanji akan tetap jadi temanku. Lupakan aku." Pinta Freya
"Aku tidak bisa melakukannya." Ucap Emil.
"Tidak bisa melakukan apa?" Ujar Bara saat masuk ke dapur.
🍒🍒🍒
Pekanbaru
260922
__ADS_1
10.48
Sambil bikin bolu gulung🤭