
Sebelum baca pencet dulu tombol Favoritenya ya cintah. Mumpung hari Senin jangan lupa vote buat diberikan kepada momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau sangat disarankan.😘
🍰🍰🍰
Freya terbangun dan melihat Emil tidur di sampingnya. Pakaian berserakan. Freya menangis, dia mencoba mengingat kejadian yang barusan dialaminya. Namun, Freya tidak ingat apa-apa. Freya menarik selimut dan memakai pakaiannya kembali.
Freya meninggalkan kamar, dia menyesal bertemu Emil hari ini. Freya bertekad untuk tidak bertemu lagi dengan Emil. Bara, apa yang akan disampaikannya kepada Bara?
Haruskah Freya jujur tentang kejadian ini? Bagaimana reaksi Bara? Freya baru sejenak merasakan kebahagiannya. Freya merutuki kebodohan yang dibuatnya.
Sepanjang perjalanan air mata menetes di pipi Freya, dia tidak ingin pulang ke rumah Bara. Freya menuju rumah lamanya. Hanya Amber yang bisa dimintainya pendapat.
Setelah membayar taxy, Freya keluar dari mobil dan menuju rumah lamanya.
"Bibi!" Freya memeluk Amber yang sedang membersihkan meja.
Amber heran dengan tingkah Freya yang tiba-tiba memeluknya.
"Ada apa Freya? Apa kau bertengkar dengan Bara? Apa Bara menyakitimu lagi?" Amber mendorong tubuh Freya, agar bisa melihat wajahnya. Wajah Freya telah berlinang dengan air mata. Dia masih sesegukan dan menangis.
"Jawab Freya ... jangan membuat bibi cemas." Lanjut Amber lagi. Dia menyeka air mata yang terus mengalir ke pipi Freya. Tidak pernah dia melihat Freya dalam kondisi kacau seperti ini.
"Maafkan aku bibi ... aku." Kalimat Freya tercekat di tenggorokan dan tidak bisa dia teruskan. Freya kembali terisak. Suaranya bergetar dan parau.
"Aku apa Freya? bicaralah yang jelas ... bibi tidak tahu apa yang ingin kau sampaikan?" Amber mencoba menenangkan Freya. Dia mengajak Freya duduk, Amber mengambilkan air minum dan memberikannya kepada Freya. Freya memimun air tersebut.
"Jika kau telah merasa tenang ... ceritakanlah." Bujuk Amber. Dia menarik kursi agar dekat dengan Freya.
Freya menceritakan yang dialaminya hari ini. Semuanya dari Emil yang mengajak bertemu dan tingkah Emil yang aneh. Hingga kondisi Freya yang tiba-tiba sangat mengantuk dan tidak sadarkan diri.
Amber berdiri dan menutup mulutnya. Tidak percaya dengan apa yang barusan dialami Freya. Amber mengerti jika Freya pasti sangat ketakutan. Amber juga tidak menyangka jika Emil tega melakukan hal itu kepada Freya. Sudah pasti Emil telah merencanakan untuk menjebak Freya.
"Bisa saja, dia hanya menjebakmu, sama saat kita menjebak Bara ... padahal tidak terjadi apa-apa." Amber mencoba menenangkan Freya dan dirinya sendiri.
"Aku juga berharap begitu, bibi ... hanya saja sebelum pingsan aku ingat Emil mendekatkan wajahnya ke wajahku." Jelas Freya, dia merasa kotor, dia merasa telah berselingkuh dan mengkhianati Bara, suaminya.
.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan, bi?" ucap Freya frustasi, dia mengacak rambutnya dan memukul kepalanya karena begitu bodohnya.
Amber menahan tangan Freya yang memukul kepalanya. Amber tidak ingin Freya menyakiti dirinya.
"Apa kau masih mencintai Bara?" Tanya Amber, dia menatap kasihan kepada Freya. Baru Freya merasakan kebahagiaannya dan sekarang masalah baru muncul.
"Tentu saja aku mencintai Bara, dan selamanya hanya dia yang aku cintai." Ujar Freya bergetar menahan tangisannya.
"Kalau begitu, lupakan saja kejadian ini." Amber memberikan pendapatnya kepada Freya.
"Lupakan? Bagaimana maksud bibi? Bagaimana jika Bara mengetahuinya dan menganggap aku berkhianat dan berselingkuh?" Freya masih panik dan menangisi nasibnya. Dulu saat Freya tidak berselinhkuh saja, Bara sangat murka. Apalagi ini?
Freya tidak menyangka jika Emil tega melakukan hal tersebut padanya? Apa maksud Emil menjebaknya? Apa karena dia begitu mencintai Freya dan ingin memiliki dirinya? Atau dia ingin Freya berpisah dengan Bara.
***
Freya masih mondar-mandir di dalam rumah. Bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Bagaimana jika dia jujur dan Bara kembali mengusirnya? Atau--pasti pandangan Bara terhadapnya kembali berubah, menganggap Freya wanita yang gemar berselingkuh dan menggoda para pria?
"Apa perlu ... aku tanyakan kepada Emil, apa maksud semua ini?." Lanjut Freya lagi, menghentikan gerakannya dari mondar-mandir yang membuat Amber juga menjadi pusing.
"Bibi benar ... siapa tahu dia sengaja dan tentu akan mengancamku dan memintaku menuruti semua maunya." Freya menyadari ada yang tidak beres.
Handphone Freya berdering, dan itu panggilan dari Emil. Freya memberikode kepada Amber bahwa yang menghubunginya adalah Emil.
"Mau apa dia menghubungimu?" Tanya Amber, memelototkan mata ke layar handphone Freya.
Berani sekali pria itu menghubungi Freya setelah apa yang dilakukannya kepada Freya. Dasar laki-laki kurang ajar, maki Amber dalam hatinya.
"Aku juga sama seperti bibi ... tidak tahu apa maksud Emil menghubungiku setelah yang dia lakukan padaku." Freya merasa jijik.
"Tolak saja, agar dia tahu bahwa kau marah padanya." Perintah Amber. Mengambil handphone Freya dan menolak panggilan dari Emil.
Tidak lama kemudian telepon kembali berdering. Freya membiarkannya, namun, Emil masih juga menghubunginya.
"Apa maumu?" Dengan kesal Freya menjawab telepon tersebut.
"Apa yang terjadi Freya?" Tanya Bara di seberang sana. Freya melihat nama di handphone, ya ampun ternyata Bara yang menghubunginya. Apa yang harus Freya jawab.
__ADS_1
"Tidak." Jawab Freya singkat. Amber melotot kepadanya. Freya memberi kode apa yang harus dijawabnya.
"Lalu kenapa kau kesal." Tanya Bara lagi. Jika Bara berada di sini pasti Bara akan mencurigai Freya.
"Aku hanya kesal karena yang memasang design di kaca salah." Freya terpaksa berbohong. Amber menarik nafas.
"Sekarang kau di mana?" Tanya Bara kembali.
"Aku di toko." Sahut Freya. Dia mencoba memikirkan kata-kata apa yang tepat untuk mulai membicarakan kejadian yang menimpanya kepada Bara.
"Bagaimana dengan pertemuanmu dengan Emil ... aku sedikit khawatir." Jujur Bara, karena merasa khawatir. Freya yang tidak siap dengan pertanyaan Bara menjadi sangat gugup. Keringat dingin menetes di dahinya. Padahal tadi mencoba memikirkan untuk berbicara hal ini kepada Bara, namun, saat Bara bertanya, kata-kata seperti tercekat di tenggorokannya.
"Lancar ... Bara ada yang ingin ... aku sampaikan." Freya menarik nafas mencoba menetralisir jantung yang semakin berdegub kencang.
"Freya ... maaf aku akan tutup teleponnya ... aku harus ke ruangan meeting sekarang." Bara memotong pembicaraan Freya dan mematikan sambungan. Antara lega dan masih ada mengganjal di hati Freya.
Amber yang menyaksikan juga ikut menarik nafas lega.
"Aku tidak tahu ... apakah jujur adalah hal yang tepat untuk dilakukan?" Ujar Amber dia mengambil botol mineral dari kulkas dan meminumnya. Entah kenapa kesulitan yang dialami Freya membuatnya ikut setress.
"Tapi aku tidak ingin memulai hubungan dengan adanya kebohongan lagi, bibi." Ujar Freya, dia kembali duduk di kursi. Kejadian hari ini benar-benar menyita energinya.
Handphone Freya kembali berdering. Freya melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata Emil lagi, Freya benci untuk mengangkat telepon tersebut. Freya meletakan handphone di atas meja, mencoba mengabaikannya.
"Siapa?" Tanya Amber.
"Emil." Jawab Freya dengan nada tidak bersahabat.
"Aku jadi penasaran ... apa yang ingin dia bicarakan denganmu ... berani sekali dia menghubungimu ... setelah ...." Amber tidak meneruskan kalimatnya.
🍒🍒🍒
Semoga kalian masih betah baca ya.
Jangan lupa mampir ke karya ku yang lain ya.
Unexpected Marriage dan I Wanna You, My Cold Boy. Dua2nya udah tamat jadi kalian tidak perlu nunggu lagi.
__ADS_1