JERAT HASRAT KAKAK IPAR

JERAT HASRAT KAKAK IPAR
Testpack


__ADS_3

Setelah karyawan pergi, Amber yang tidak sabaran kembali mencerca Freya dengan pertanyaan.


"Jelaskan apa yang kau cemaskan?" Amber menarik tangan Freya dan mengajaknya duduk di kursi yang ada di dapur. Amber sendiri mengambil posisi duduk di depan Freya


"Bibi, ingat saat Emil menjebakku?" Amber berdiri secara reflexs, membuat kursi jatuh. Amber menutup mulutnya. Dia paham dengan maksud Freya. Apakah Freya ragu, jika dia hamil, anak siapakah yang dikandungnya?


Amber saja membayangkan menjadi setress, apalagi Freya?


"Jadi kau ragu, anak siapa yang kau kandung?" Amber memastikan pendapat Freya.


"Aku masih yakin, ini anak Bara, hanya saja juga tidak menutup kemungkinan, ini anak Emil, sekalipun aku tidak merasa melakukannya ... hanya saja." Freya tidak berani meneruskan kalimat. Dia tidak ingin mengingat kejadian naas tersebut.


"Kubur saja Freya, ini pasti anak Bara ... lagian kau juga belum tentu hamil ... sebaiknya bibi ke apotik depan dan membeli testpack." Amber mengambil tasnya dan keluar dari dapur. Membiarkan Freya dengan pikirannya sendiri.


Amber datang kembali membawa tiga tespack dengan beberapa merk yang berbeda.


"Ini." Amber menyerahkan kantong yang berisi testpack. Freya yang sedari tadi melamun akhirnya sadar dan menerima kantong tersebut.


Freya melangkah ke kamar mandi dengan berat. Dia merasa seolah-olah sedang berjalan di bara api yang panas. Freya membaca petunjuk dalam kemasan cara menggunakan alat tersebut.

__ADS_1


Setelah cukup mengerti dan memahami, Freya mencoba salah satunya. Berharap hasilnya negatif, jika tidak ada kejadian dengan Emil. Freya pasti akan berdo'a dengan sangat hasilnya positif. Namun, saat ini hatinya bimbang.


Freya menutup mata tidak sanggup untuk melihatnya. Perlahan Freya membuka mata untuk melihat hasilnya. Do'a Freya tidak terkabulkan hasil testpack tersebut adalah positif. Freya tidak percaya begitu saja. Dia mencoba dua lagi dan hasilnya masih sama, positif. Freya melempar alat tersebut dengan kesal.


"Tidak mungkin ... ini tidak boleh terjadi ... ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan?" Isak Freya sendirian, mondar-mandir di kamar mandi. Apa Tuhan mempermainkannya? Saat dia sangat menginginkan anak dulunya, Tuhan tidak memberikan kepadanya. Sekarang? Freya merasa kecewa dengan nasib yang menimpanya. Bagaimana bisa hidupnya menjadi seperti ini. Freya tidak pernah berbuat jahat.


"Kenapa harus seperti ini, Tuhan." Cicit Freya dia hampir terduduk lemas di kamar mandi. Freya memegang wastafel, menahan tubuhnya, agar tidak terjatuh ke lantai.


"Freya!" Panggil Amber dari luar. Dia bingung karena Freya belum juga keluar dari kamar mandi. Freya tidak menjawab panggilan Amber.


"Freya, apa kau baik-baik saja?" Amber mencoba menggedor pintu kamar mandi, setelah mencoba beberapa kali, akhirnya Freya membukakan pintu. Amber langsung masuk dan melihat tespack yang dilempar oleh Freya.


Amber membawa Freya ke kamar lamanya. Membaringkan Freya di ranjang. Freya tidak mengucapkan apa-apa, pandangannya kosong menatap langit-langit kamar.


Amber membiarkan Freya untuk beristirahat sejenak. Sampai shocknya pulih. Amber memahami kondisi Freya. Amber ikut sedih, kenapa hal ini terjadi kepada keponakannya.


"Istirahatlah, setelah itu kita akan pikirkan lagi." Freya hanya memandang Amber, kemudian membalikan badan sehingga membelakangi Amber. Amber mengusap kepala Freya agar gadis kecilnya itu nyaman.


Entah apa yang dipikirkan Freya, suaranya tidak keluar. Namun, air mata tidak berhenti mengalir dari matanya.

__ADS_1


Amber bangkit dari sisi ranjang Freya, dia ingin membiarkan Freya beristirahat sendirian. Amber berjalan keluar kamar.


"Bibi!" Suara Freya menghentikan langkah Amber.


🍒🍒🍒


Apa yangbakan Freya lakukan?


yuks Vote


A. Gugurkan


B. Jujur kepada Bara


C. ..... ( silahkan isi sendiri di kolom koment ya)


Pekanbaru


230922

__ADS_1


09.23


__ADS_2