
Jangan lupa koment ya. Bagi yang masih punya vote silahkan berikan buat momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.😘
🍰🍰🍰
Bara dan Delvin pulang dengan taxi yang dipesankan oleh salah satu karyawan clubs. Mereka memberikan alamat apartment Bara karena alamat itu yang biasa Bara beritahu mereka.
Bara dan Delvin yang menuju apartment dengan sempoyongan. Bara menekan kunci apartment. Selena yang tengah tidur dengan nyaman menjadi kaget. Bersyukur kekasihnya tidak menginap, jika tidak bisa dipastikan dia akan ketahuan oleh Bara. Seharusnya dia mengganti kode apartment Bara ini.
Delvin dan Bara masuk ke dalam apartment.
"Oh, Selena, ternyata kau di sini? Semua karena kau," racau Delvin.
"Kalian mabuk, kenapa ke sini?" Selena berkacak pinggang menandakan bahwa dia tidak suka Bara membawa Delvin ke sini. Jika hanya Bara saja, mungkin Selena bisa bermesraan dengan Bara dan menghabiskan malam panjang.
"Ini apartmentku," racau Bara. Dia menyingkirkan Selena dan menuju kamarnya. Diikuti Delvin yang menuju kamar Bara juga.
"Apa-apaan kalian, kau telah memberikan apartment ini kepadaku," teriak Selena, dia tidak suka jika apartment yang telah menjadi miliknya diacak-acak orang.
Selena harus menyembunyikan pakaian kekasihnya. Jangan sampai Bara curiga. Selena mencoba menarik Delvin yang ikut tidur di samping Bara. Namun, tidak bisa, di tambah dia sedang hamil.
Selena kesal karena tidak berhasil mengusir Delvin, dengan terpaksa Selena tidur di kamar tamu. Mana Delvin dan Bara muntah di kamar membuat Selena semakin kesal harus membersihkan muntahan mereka.
***
Delvin terbangun dengan kepala berat dan pusing. Dia melihat Bara terlelap di sampingnya. Delvin mencoba mengingat kejadian semalam. Dia ingat membicarakan Amber.
Apakah dia memberi tahu Bara bahwa dia tahu di mana keberadaan Freya. Tapi, kenapa dia harus memberitahu Bara. Toh Bara sendiri tidak berniat untuk mencari Freya.
Delvin turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dia ke luar kamar dan melihat Selena tengah sarapan. Selena mengabaikannya.
"Apa kau lihat sepatuku?" tanya Delvin dengan perasaan biasa tanpa bersalah.
"Aku tidak tahu," gerutu Selena, dia tetap melanjutkan sarapan tanpa menawarkan kepada Delvin untuk sarapan.
Delvin mencari sepatunya tanpa bertanya lagi kepada Selena. Bara ke luar dari kamar.
__ADS_1
"Sayang kau telah bangun, aku telah membelikan sarapan untukmu." Selena menghampiri Bara dan mengapit lengannya. Delvin hanya tersenyum menyindir melihat acting Selena.
"Dasar wanita iblis," gerutu Delvin.
"Apa kau mengatakan sesuatu, Delvin?" tanya Bara, dia seperti mendengar Delvin berbicara.
"Aku tidak mengatakan apa-apa. Kau salah dengar," kelit Delvin. " sebaiknya aku pulang, terima kasih telah menampungku," sindir Delvin.
"Kau mau pulang? Aku ada yang inginku bahas denganmu," ucap Bara.
"Lain kali saja, aku masih ada urusan." Delvin keluar dari apartment Bara. Dia muak melihat Selena yang bermanis-manis palsu kepada Bara.
Semakin cepat dia pergi, semakin bagus untuk matanya. Delvin menuju apartmentnya. Dia melirik cincin yang masih tersimpan di saku celananya. Meskipun ini telah berlalu selama empat hari dari penolakan Amber padanya.
Delvin melirik handphonenya, berharap Amber menghubunginya. Namun, sampai saat ini Amber tidak pernah menghubunginya.
"Ternyata dia wanita yang keras kepala," kesal Delvin. Delvin berharap Amber menghubungi dan merubah pikirannya. Delvin masih menantikan telepon dari Amber.
Delvin menuju Freya's cake and bakery. Entah kenapa dia ke sana? Sepertinya Delvin bernostalgia dengan tempat itu.
Dia hanya melihat aktifitas toko dari dalam mobilnya. Puas melihat Delvin penasaran dan membeli beberap roti. Delvin menjalankan mobil ke sembarang arah. Anehnya dia justru menuju Maidstone.
***
Freya keluar dari dapur menuju ruang tamu. Dia mencari nomor handphone Delvin. Freya mencoba menghubungi Delvin. Dia sengaja menelepon di ruang tamu, agar Amber tidak mendengar pembicaraannya dengan Delvin. Freya yakin pasti Amber tidak akan setuju dia menghubungi Delvin.
Freya menunggu nada sambung di seberang sana. Namun, tidak diangkat. Berkali-kali Freya mencoba hasilnya tetap sama, Delvin mengabaikan panggilan dari Amber.
Apakah Delvin marah dan tersinggung? Sehingga tidak sudi lagi menerima telepon dari Amber? Perasaan Freya semakin merasa bersalah. Dia harus bisa menyatukan Bibinya dengan Delvin.
Menurut Freya mereka terlihat cocok. Apalagi Freya lihat sendiri dan mendengar bahwa Delvin sangat mencintai Amber.
Freya yakin bahwa Amber tidak akan bertemu lagi pria seperti Delvin. Yang mencintainya dengan tulus.
Freya mencoba menghubungi Delvin lagi. Tapi, masih sama Delvin tidak mengangkat telepon. Freya mondar-mandir di ruang tamu, masih mencoba menghubungi Delvin. Amber di dapur memasak makan malam untuk mereka.
__ADS_1
"Freya, apa kau baik-baik saja?" teriak Amber dari dapur. Dia masih memotong asparagus.
Menu makan malam mereka adalah sop asparagus dan lobster serta steik daging. Amber cemas terjadi sesuatu kepada Freya karena dia lumayan lama menelepon. Amber tidak tahu siapa yang dihubungi Freya, mungkin Dorothy. Membahas tentang toko rotinya.
"Ya, Bibi, aku baik-baik saja, sebentar lagi aku ke sana," balas Freya. Dia pasrah untuk menghubungi Delvin.
Mungkin besok bisa dicobanya lagi dan siapa tahu besok Delvin telah sedikit lebih baik. Dan mau menerima telepon dari Freya.
"Ambilkan daging yang sudah Bibi bumbui," perintah Amber begitu Freya berada di dapur.
Freya meletakan handphone Amber dan membantu Amber. Freya mengeluarkan daging steik dari kulkas dan membiarkannya pada suhu ruang sebelum di bakar. Sambil menunggu daging, Freya mengukus buncis, jagung dan wortel sebagai pelengkap steik.
Kemudian Freya memotong-motong kentang dan menggorengnya. Amber menyiapkan saos blackpaper untuk steik. Mereka terlihat sibuk, padahal makanan yang disiapkan hanya untuk dua orang.
"Bagai mana, jika besok kita melihat tempat yang diberi tahu Adam tadi?" saran Amber. Dia memberi susu UHT pada saos steik.
Mereka harus merencanakan masa depan. Uang pemberian Bara tidak akan bertahan lama jika mereka hanya memakainya tanpa diputarkan sebagai modal. Biaya hidup dari tahun ke tahun pasti akan semakin besar.
Apalagi Freya akan melahirkan dan tentu saja membutuhkan biaya besar nantinya. Baik untuk persalinan maupun untuk si bayi. Perlengkapan bayi saja akan membutuhkan uangbyang tidak sedikit.
"Aku belum memikirkannya Bibi," Freya masih takut untuk bertemu orang ramai. Bagaimana jika mereka bertemu pekerja pabrik maupun perkebunan? Apa yang akan dikatannya nanti? Mereka pasti bertanya-tanya, jika Freya tinggal di Maidstone. Kenapa tidak tinggal di mansion?
"Kita harus kembali membuat rencana baru, sayang," saran Amber.
"Bibi benar, hanya saja aku belum siap," ucap Freya.
"Bibi mengerti, sebaiknya kau istirahat saja dulu satu bulan ini, setelah itu baru kita pikirkan lagi," putus Amber.
Handphone Amber berdering, dan itu dari Delvin. Freya melirik Amber, dia takut Amber melihatnya.
Jangan sampai Bibi melihat panggilan dari Delvin.
🍒🍒🍒
Pekanbaru
__ADS_1
181022
13.21