
Jangan lupa komen ya Besties. Buat yang masih punya Vote silahkan beri untuk Freya dan Bara ya. Kasih kembang, kopi, kursi pijat, pisau dan nonton iklan sangat disarankanπ
π°π°π°
Maidstone, Kent, Inggris.
Freya menatap ke luar rumah, pemandangan alami bukit dan matahari yang masih malu-malu membuat perasaan Freya tentram. Dia mendambakan kehidupan di Maidstone. Satu bulan telah berlalu sejak dia meninggalkan rumah sakit dan memutuskan tinggal di Maidstone seperti saran mrs. Dorothy dan suaminya.
Mereka menyewa rumah sederhana di lingkungan yang jauh dari mansion Horisson maupun rumah sewa mereka dulu. Rumah sederhana yang masih sangat asri. Rumah tersebut berada di bukit, cukup jauh dari perkotaan Maidstone.
Amber sengaja mencari rumah seperti itu untuk mereka tinggali. Mereka akan mencoba berkebun sendiri, seperti permintaan Freya. Berharap dengan berkebun sendiri mereka bisa menghemat keuangan.
Freya belum membuat rencana baru untuk masa depannya. Setidaknya uang mereka cukup untuk keperluan mereka setahun ke depan. Freya tidak lagi membuka rekening, karena takut Bara bisa melacaknya. Semua uang telah dibuka atas nama Amber. Walaupun, sedikit cemas Bara akan bisa mengetahuinya. Tapi hanya itu satu-satunya cara untuk menyimpan uang mereka.
Kondisi Freya telah mulai beransur-ansur pulih. Freya telah mengganti nomornya dengan yang baru. Barang-barang di rumah Bara tidak ada yang dibawa Freya. Beruntung rumah di toko roti, masih ada pakaian Freya yang tertinggal. Jadi Amber hanya membawa itu saja.
"Sayang, ayo sarapan," ajak Amber, sambil membuka pintu kamar Freya. Sejak ke luar dari rumah sakit, Freya seperti kehilangan gairah hidup. Beruntung dia masih mengingat ada nyawa yang harus dijaganya.
Kejadian bertubi-tubi yang dialami Freya membuat hidup Freya tertekan. Amber masih sering bersedih jika melihat Freya yang lebih sering melamun. Berbeda saat pertama kali Bara mengusir mereka, setidaknya saat itu Freya masih memiliki semangat menata masa depan. Sekarang Freya tak lebih dari tubuh yang seperti kehilangan jiwa.
"Aku akan segera menyusul, Bibi, aku belum mandi," ujar Freya. Dia segera menuju kamar mandi.
Amber menutup kembali kamar Freya. Dia mencuci peralatan masak sambil menunggu Freya. Tidak lama Freya telah bergabung di dapur, Freya menarik kursi dan duduk. Amber meletakan piring yang telah diisi omelet. Amber kaget saat Freya meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Sayang, ada apa?" tanya Amber, apakah Freya tidak suka dengan sarapan yang dibuatnya?
"Tidak apa-apa, Bi, aku hanya ingat, Bara sangat suka dengan omelet," lirih Freya. Entah kenapa dia masih mengingat Bara. Apa lagi sejak hamil, Freya gampang sekali bersedih.
"Apa sebaiknya untuk selanjutnya, Bibi, tidak memasak omelet lagi," tanya Amber hati-hati takut menyinggung perasaan Freya yang masih sensitif. Apa lagi kondisinya sedang hamil.
"Tidak perlu, Bibi. Aku saja yang terlalu melankolis," ucap Freya, sambil menghapus air matanya.
"Makanlah yang banyak sayang, ingat kau punya satu nyawa lagi yang harus kau jaga dan beri makan," tutur Amber.
"Bibi benar." Freya segera memakan omeletnya beserta kentang tumbuk.
Amber memberikan susu hamil kepada Freya. Freya meminumnya dan terus melanjutkan sarapan pagi mereka.
"Itu ide yang bagus, Bibi, aku mulai bosan jika hanya di dalam rumah," balas Freya.
Selesai makan, Freya mengajukan diri untuk membersihkan meja makan dan mencuci piring bekas sarapan mereka. Freya rasa cukup baginya untuk bermalasan selama satu bulan ini. Dia harus mulai bergerak dan melakukan sesuatu. Kegiatan akan mengalihkan pikirannya dari masalah yang dihadapinya.
Mereka menuju kebun yang terletak di belakang rumah. Ternyata tanahnya telah di cangkul, sehingga memudahkan Amber dan Freya untuk menanamnya.
"Siapa yang mencangkulnya, Bibi," tanya Freya.
"Adam yang melakukannya, dia bersedia membantu," ucap Amber.
__ADS_1
"Adam? Maksud, Bibi, Adam Smith? Putra mrs. Smith?"
"Ya, apakah kita mengenal Adam yang lain?"
"Bibi, bagai mana bisa Bibi meminta bantuannya?" Freya khawatir, jika salah satu orang yang mengenalnya yang berhubungan dengan keluarga Horisson tahu keberadaannya, maka, bisa di pastikan lambat laun Bara pasti akan menemukannya. Itupun jika Bara mencarinya. Namun, jika tidak, maka bisa Freya ketahui bahwa Bara tidak begitu mencintainya.
"Tenanglah, dia telah, Bibi minta untuk tidak menceritakan bahwa kita berada di Maidstone. Bahkan kepada keluarganya sekalipun. Lagian yang tahu tentang pernikahanmu dengan Bara hanya pelayan mansion, pekerja pabrik dan perkebunan tidak tahu" jelas Amber.
"Bibi benar." semenyedihkan itu pernikahannya dengan Bara. Bahkan setelah bersama lagi, tidak ada niat Bara untuk mengumumkan tentang pernikahan mereka kepada karyawannya di London. Maupun memperkenalkan Freya kepada mereka. Membuat Freya sadar, hanya dia yang mencintai Bara.
"Di mana, Bibi bertemu dengannya?" lanjut Freya lagi. Mencoba menghapus perasaan sedih yang muncul.
"Tidak sengaja, saat Bibi ke pasar untuk berbelanja. Padahal pasar tersebut cukup jauh dari mansion. Ternyata pria itu tidak ikut bekerja di perkebunan Horisson, dia lebih memilih membuka usaha sendiri. Dia menjual buah-buahan dan sayur-sayuran," beber Amber.
"Semoga dia bisa dipercaya, aku sedikit khawatir," timpal Freya.
"Tidak usah khawatir, sayang, semua akan baik-baik saja, percayalah. Kita akan melalui semua ini," tambah Amber.
πππ
Pekanbaru
101022
__ADS_1
07.49