
Jangan lupa koment ya. Bagi yang masih punya vote silahkan berikan buat momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.😘
🍰🍰🍰
Freya belum juga sadar, dokter memberitahu bahwa Freya mengalami koma. Delvin masih setia menemani mereka.
"Dokter tidak bisa memberi kepastian, kapan Freya akan sadar!" Beritahu Bara.
"Ini sudah tiga hari, apa tidak sebaiknya Frank di kuburkan saja," usul Delvin.
"Tunggu sehari lagi saja," usul Amber. Selama Freya sakit Amber meminta tolong mrs. Dorothy untuk menjaga toko.
"Baiklah," ucap Bara, dia mulai panik karena Freya belum juga sadar. Sekalipun Bara kecewa denga Freya. Dia tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan Freya.
"Sebaiknya kau kembali mengurus kantormu, aku bisa menjaga Freya," bujuk Amber melihat Bara yang kusut.
"Tidak, aku ingin di sini saat Freya sadar," kekeh Bara.
"Setidaknya, pulang dan mandilah ... Delvin coba bujuk Bara." Amber melirik ke arah Delvin.
"Dia benar Bara, sebaiknya kau pulang, kau bahkan bukan seperti manusia," sindir Delvin.
Akhirnya Bara pulang diantar Delvin.
"Apa kau ingin memberitahuku? apa yang sebenarnya terjadi?" mulai Delvin saat mereka telah di dalam mobil. Bara hanya diam, dia malas untuk membahas ini.
"Apa maksudmu dengan 'tentang perselingkuhan Freya dan Emil? Apa itu penyebab Freya koma?" ujarDelvin saat mereka meninggalkan Rumah Sakit.
"Entahlah ... aku benar-benar marah karena Freya berselingkuh dan itu dengan Emil. Bisa kau bayangkan perasaanku?"
"Apa kau yakin, dia benar-benar berselingkuh?"
"Emil memperlihatkan foto saat mereka tidur bersama." Bara mengepal tangannya menahan amarah jika mengingat hal itu.
"Freya, apa yang dikatakannya?"
__ADS_1
"Freya membela diri, dia bilang Emil menjebaknya,"
"Jadi, apa yang kau percayai Bara?"
"Tentu saja bukti yang terlihat jelas, Freya pernah membohongiku, dan tidak menutup kemungkinan. Dia berbohong lagi," marah Bara.
"Setelah Freya sadar. Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tidak tahu ... aku tidak ingin kehilangan Freya tapi aku tidak menginginkan anak itu ... Freya sendiri tidak yakin anak siapa itu?"
"Jadi kau meminta Freya menggugurkan kandungannya? Apa karena itu juga yang membuat Freya koma? Kau tega sekali," murka Delvin. Dia memukul stir mobil.
"Apa kau gila!" Teriak Bara yang kaget saat Delvin kehilangan konsentrasi.
"Kau yang gila, Bara. Apa kau tidak bisa merasakan persaan Freya?" Delvin memang sesekali berkomunikasi dengan Amber. Dan Amber bercerita semoga Freya bisa punya anak karena Freya telah lama menginginkannya. Jadi bisa dipastikan Freya tidak akan mau menggugurkan bayinya.
"Lalu. Bagaimana dengan perasaanku?" Bara membalikan pertanyaannya.
"Jika kau tidak bisa memaafkan Freya, sebaiknya kalian tidak bersama," putus Delvin.
Empat hari berlalu Freya belum juga sadar. Bara semakin mencemaskan kondisi Freya.
"Bara, tidak ada tanda-tanda jika Freya akan sadar dengan cepat. Bisakah kau membantu kami memgurus pemakaman ayah Freya?" Pinta Amber.
"Aku?"
"Ya, siapa lagi?" Bujuk Amber.
"Baiklah," sahut Bara.
Bara mengurus pemakaman Frank, cukup menyita waktunya karena permintaan Amber adalah Frank di makamkan di Maidstone. Bara pikir proses pemakaman akan bisa di selesaikannya satu hari. Ternyata Bara salah dan Bara harus membayar lebih agar proses cepat. Frank ingin di makamkan di samping istrinya. Setelah selesai prosesi pemakaman, Bara langsung menuju rumah sakit dan menuju kamar rawat Freya.
"Freya!"
🍒🍒🍒
__ADS_1
Hi author bawa karya teman lainnya yang tak kalah seru. Jangan lupa baca ya
...JERAT CINTA CEO AMNESIA
...
blurb
"Pak Bos, balikin dong! Itu harta aku satu-satunya," pinta Rafika dengan berusaha meraih ponselnya.
"Akan aku balikin saat jam kerja sudah selesai. Kamu cepat kembali kerja!"
"Pak Bos jahat banget sih! Aku kan lagi sakit perut. Tadi habis dikasih obat sama Pak Dokter ganteng jadinya sekarang agak mendingan," ucap Rafika melas.
"Apa kamu bilang? Aku tidak mau karyawan perusahaanku menggunakan sakitnya sebagai alasan untuk dia bermalas-malasan. Kamu kembali ke tempat kerjamu dan istirahat di sana," suruh Erlangga.
"Oke, Bos! Tapi balikin ponsel aku. Nanti kalau ada costumer yang menghubungi bagaimana?"
"Ambil setelah pulang kerja di ruangan aku. Soal costumer itu urusan aku."
Dasar Bos Sedeng! Bisa-bisanya dia merampas ponselku. Lagian tahu dari mana kalau aku di sini? Apa mungkin Mas Darwin yang bilang sama dia? gerutu Rafika dalam hati.
"Rafika, tidak usah mengomel dalam hati. Tidak ada satu pun perusahaan yang mengijinkan karyawannya untuk bermalas-malasan. Sekarang cepat kamu kembali ke tempat kerjamu!"
Mendengar apa yang Erlangga katakan, Rafika pun langsung berjalan mendekat ke arah Erlangga. Semakin dekat, semakin dekat, membuat Erlangga merasa heran. Dia pun berjalan mundur dengan perlahan saat Rafika semakin mendekatinya.
"Oh, ya? Benarkah begitu, Bos? Aku sebenarnya tidak malas Bos. Hanya saja, perutku memang sedang tidak enak. Apa Bos ingin tahu, bagian mana tubuhku yang sakit? Bos bisa memegangnya untuk meyakinkan kalau aku tidak bohong." Rafika langsung mengulurkan tangannya seperti akan mengambil tangan Erlangga.
Sementara Erlangga seperti terkesiap dengan sikap gadis itu. Dia sibuk menetralkan degup jantungnya yang berirama tidak beraturan. Sampai akhirnya dia kembali tersadar saat ponsel Rafika sudah diambil oleh pemiliknya.
"Bos, suara detak jantungnya sampai terdengar loh. Apa di dalam jantung Bos ada toa?" tanya Rafika seraya berlari pergi meninggalkan Erlangga yang masih mematung di tempatnya.
Tidak biasanya jantungku berdetak kencang seperti ini. Tidak mungkin aku mulai suka dengan gadis jorok itu.
__ADS_1