
Jangan lupa koment ya. Bagi yang masih punya vote silahkan berikan buat momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.😘
🍰🍰🍰
Freya dan Amber tengah sibuk menanam kentang. Amber senang Freya telah kembali sedikit ceria. Tadinya Amber sangat khawatir jika Freya hanya mengurung diri di kamar.
Tanpa mereka sadari sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Seorang pria ke luar dari mobil dengan membawa berbagai macam perlengkapan. Pria tersebut melangkah menuju Freya dan Amber yang tengah asik di kebun.
"Sepertinya kalian sangat menikmati berkebun, sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku," ungkap pria tersebut. Amber dan Freya terkejut dengan kedatangan si pria. Freya menjadi pucat.
Kenapa dia ada di sini?
Freya menyapukan pandangan ke segala penjuru mencari sosok yang dia takuti datang bersama pria ini. Freya sedikit lega karena pria itu datang sendiri.
"Apa kau mencari Bara, Freya?" tanya si pria.
"Bagai mana kau tahu kami di sini?" Freya mengabaikan pertanyaan Delvin. Justru bertanya kembali.
Jika Delvin mengetahui keberadaan Freya, maka tidak lama lagi pasti Bara juga akan ke sini.
"Tenanglah, sayang, Delvin tidak akan memberi tahu Bara tentang keberadaan kita," jelas Amber menenangkan Freya.
"Tapi Bibi. Mereka berteman baik bahkan telah seperti keluarga. Aku tidak yakin ... dan kau, Sir, bagai mana kau tahu kami di sini?" Freya kembali mengulang pertanyaannya.
"Begitu aku tahu kalian pergi dan Bara tidak menunjukan inisiatif untuk mencari tahu kalian, aku yang mencari kalian ... aku memiliki nomor telepon Amber," urai Delvin.
Freya sedikit kecewa karena Bara tidak mencarinya. Itu artinya Bara benar-benar berniat untuk berpisah dan melupakannya. Freya menarik nafas, mencoba mengusir kesedihan yang muncul di dalam dirinya.
Freya membesarkan hati, itu lebih baik karena dia tidak perlu menuruti kemauan Bara untuk menggugurkan kandungannya.
"Delvin, berjanji membantu kita ... dia tidak akan memberi tahu Bara ... jadi kau tenang saja, sayang," bujuk Amber.
"Sebaiknya kita masuk, Bibi tidak ingin kau sakit dan kecapekan yang akan berdampak pada kandunganmu," tawar Amber. Dia membimbing Freya masuk ke dalam rumah. Cuaca juga dingin, Amber mengambil syal dan menyampirkannya di leher Freya.
__ADS_1
Delvin mengikuti mereka masuk ke dalam rumah. Dia membawa barang belanjaan yang di belinya di London.
"Ini diletakan di mana?" tanya Delvin sambil menunjuk barang yang ditentengnya.
"Taruh saja di meja pojok," jawab Amber.
Amber mempersilahkan Delvin duduk, dia ke dapur dan membuatkan teh untuk mereka. Selesai membuatkan teh Amber bergabung dengan Delvin dan Freya.
"Bagai mana perjalananmu?" Pertanyaan basa-basi.
"Baik, London ke sini tidak jauh," balas Delvin.
"Bagai mana kabarmu, Freya?" tanya Delvin.
"Aku baik, terima kasih sudah bertanya," sahut Freya. Dia merasa tidak nyaman dan masih sedikit was-was.
"Bibi, aku ingin beristirahat. Kalian nikmatilah waktu berdua," pamit Freya. Freya berjalan menuju kamarnya. Hamil muda membuat dia gampang lelah dan mengantuk.
"Istirahatlah, jangan berpikir macam-macam," teriak Amber. Freya hanya membalas dengan senyuman. Kemudian menutup pintu kamarnya.
"Ya, dia pikir jika Freya ingin pergi, terserah Freya, Selena juga membuat segalanya bertambah rumit," jelas Delvin.
"Harusnya Bara memaafkan Freya, padahal dia juga melakukan kesalahan yang sama," sesal Amber.
"Begitulah pria." Delvin mengedikan bahunya.
"Sebaiknya kita tidak usah membahas mereka, bagai mana jika kita membahas tentang kita?" Delvin melirik Amber.
"Kita? Memangnya ada apa dengan kita?" tanya Amber heran.
"Amber, apakah kau tidak ingin menikah" tanya Delvin hati-hati.
"Menikah?" Tentu saja Amber pernah bermimpi tentang pernikahan. Hanya saja sekarang umurnya tidak muda lagi dan masihkah ada pria yang mau menikahi perawan tua sepertinya?
__ADS_1
"Ya, menikah," ulang Delvin.
"Aku pernah memimpikannya dulu, saat aku masih muda ... tapi semua telah berlalu, aku rasa sekarang tidak pantas bagiku untuk memikirkannya," lirih Amber.
"Kenapa?"
"Apa kau tidak melihat usiaku?" Amber melirik Delvin.
"Bagai mana, jika ada yang melamarmu?" Amber memelototkan matanya. Tidak percaya dengan yang dikatakan Delvin. Amber kemudian tertawa karena memang menurutnya Delvin tengah menggodanya.
"Kau sangat humoris, Sir, aku hampir saja berpikir bahwa ada yang ingin melamarku," Amber menahan tawanya.
Amber terdiam saat Delvin menyematkan cincin berlian di jari manisnya. Amber melihat cincin tersebut. Memastikan benarkan sebuah cincin yang dipakaikan ke jarinya?
"Apa ini?" Amber menatap Delvin dengan bingung. Delvin kemudian berlutut di depan Amber yang sedang duduk di sofa tamu.
"Amber Hathaway, maukah kau menikah denganku?" Harap Delvin.
Amber bingung untuk menjawabnya, selain mereka baru berkenalan. Juga karena Delvin adalah teman Bara. Bagai mana lingkungan hidup mereka nantinya. Di lain sisi mereka harus menghindari Bara.
Jika Amber menikah dengan Delvin, lambat laun pasti Bara mengetahuinya.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa?" Hanya kata-kata itu yang ke luar dari mulut Amber.
"Pikirkan lah, aku akan menunggu jawabanmu ... tentang Bara tidak perlu dicemaskan, aku akan menjaga kalian," janji Delvin.
🍒🍒🍒
Pekanbaru
121022
10.18
__ADS_1
Bolehkah kita tinggalkan sejenak kisah Bara dan Freya?🤭