JERAT HASRAT KAKAK IPAR

JERAT HASRAT KAKAK IPAR
Permintaan Freya


__ADS_3

Jangan lupa koment ya. Bagi yang masih punya vote silahkan berikan buat momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.😘


🍰🍰🍰


Delvin terus melajukan mobil menuju Maidstone. Saat melihat papan penunjuk arah yang bertuliskan bahwa Delvin memasuki Maidstone. Delvin baru sadar jika dia menuju Maidstone. Delvin menepikan mobil dan berhenti.


"Kenapa aku jadi ke sini?" gumamnya. Delvin memperhatikan jalan, tidak banyak kendaraan yang sedang lalu lalang. Delvin memukul stir mobil, merasa bodoh karena tanpa dia sadari pikiran bawah sadarnya membawa dia menuju ke tempat Amber.


Delvin melirik jam tangan, waktu menunjukan pukul 5.30 pm. Delvin menatap roti yang dibelinya di Freya's cake and bakery.


"Apa sih yang aku lakukan?" kesal Delvin dengan tingkahnya yang tidak biasa. Pria itu sadar dia tidak muda lagi dan seharusnya dia tidak seperti ini. Yang bucin karena seorang wanita. Parahnya wanita tersebut juga tidak muda lagi.


Delvin mengambil handphonenya, ingin mencari tempat untuk melarikan diri selain Maidstone. Delvin membuka handphone. Alangkah kaget dia saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari Amber. Senyum Delvin merekah, pria itu senang Amber menghubunginya.


Delvin menimbang, apakah sebaiknya dia menghubungi Amber kembali atau langsung ke rumahnya. Mumpung dia telah memasuki kawasan Maidstone. Apa Amber salah menghubungi? Tapi tidak mungkin karena jika salah pasti hanya sekali panggilan. Sedangkan ini berkali-kali.


Akhirnya Delvin memutuskan untuk menghubungi Amber kembali. Mencari tahu apa yang diinginkan Amber. Pada deringan kedua handphone diangkat oleh seorang wanita. Delvin tahu bahwa itu bukan suara Amber, wanita pujaannya.


"Halo, Delvin," ulang wanita tersebut di seberang sana.


"Ya, aku hanya memastikan suara saja, dan siapa ini?" balas Delvin.


"Aku Freya," jawab wanita di seberang sana.


Delvin sedikit kecewa karena ternyata bukan Amber yang mengangkat teleponnya, melainkan Freya. Delvin penasaran kenapa handphone Amber berada pada Freya. Apakah terjadi sesuatu?


Atau apakah Freya menyita handphone Amber, memastikan agar Amber tidak berhubungan dengannya?


"Apa yang terjadi? Kenapa handphone Amber, ada padamu?" tanya Delvin.


"Sebentar," bisik Freya. Delvin menunggu, sepertinya Freya berjalan menjauh dari tempat dia berdiri sebelumnya.

__ADS_1


"Delvin, aku ingin berbicara serius, apa kau punya waktu?"


Delvin mencoba menenangkan diri, dia tahu pasti Freya menyuruhnya untuk menjauhi Amber. Tanpa diminta Freya pun, Delvin akan melakukannya. Diapun merasa terluka karena Amber lebih memilih Freya, keponakannya daripada dia.


"Silahkan," jawab Delvin dingin, seperti es di kutub selatan.


"Sebelumnya aku minta maaf," ucap Freya, dia menarik nafas.


"Untuk?" tanya Delvin tanpa ekspresi.


"Karena keegoisanku, membuat Bibi, menolakmu," aku Freya. Delvin tersenyum kaku, ternyata Freya menyadari keegoisannya. Sekarang apa yang diinginkan wanita ini?


"Lalu?" Delvin masih menjawab dengan datar. Delvin mempersiapkan hati untuk mendengar permintaan Freya selanjutnya.


"Aku ingin kalian menikah." Freya merasa lega telah mengatakan keinginannya.


Delvin terdiam, apa dia salah dengar? Apa kata-kata tersebut benar Freya yang berbicara?


"Ya, aku dengar, kau ingin aku menikah dengan Amber?" Delvin memastikan kembali.


"Ya, di mana kau sekarang?" Lanjut Freya lagi.


"Aku di perbatasan Maidstone," jujur Delvin. Dia berharap Freya mengundangnya, agar bisa membahas ini lebih lanjut lagi.


"Bagus, bisakah kau ke sini? Sebaiknya kita membicarakannya secara langsung," saran Freya.


"Baiklah, aku segera ke sana." Delvin menutup telepon. Dia sangat bahagia, akhirnya dia bisa menikahi wanita pujaan hatinya.


***


"Siapa yang menelepon?" tanya Amber yang tiba-tiba telah berada di belakang Freya, membuat Freya terkejut.

__ADS_1


"Bibi!" Freya mengusap dadanya. Apakah Amber mendengar pembicaraannya dengan Delvin. Tapi Amber bertanya siapa yang menelepon, itu artinya Amber tidak mendengar pembicaraan Freya dengan Delvin.


"Siapa yang menelepon?" ulang Amber karena Freya belum menjawab pertanyaannya.


"Apa itu Dorothy?" tanya Amber lagi, tanpa menunggu jawaban Freya.


"Ya," bohong Freya.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Amber.


"Ya, dia baik ... apakah semua telah selesai, Bibi?" Freya mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, tinggal dihidangkan saja," jawab Amber.


"Biar aku yang menatanya di meja makan, Bibi, sebaiknya mandi dan bersiap-siap," ujar Freya, mendorong Amber masuk rumah. Freya memang menelepon Delvin di teras rumah, agar Amber tidak mendengar pembicaraannya dengan Delvin.


"Kau juga harus segera mandi," perintah Amber.


"Siap, jangan lupa dandan yang cantik," teriak Freya. Amber mengeryitkan dahi dengan tingkah Freya. Amber sedikit curiga. Namun, diabaikannya. Mungkin Freya ingin mencairkan suasana saja.


Amber memasuki kamarnya untuk mandi. Pekerjaan telah selesai. Begitu di kamar Amber kembali teringat Delvin dan menjadi sedih. Segera ditepisnya perasaan nelangsa tersebut.


Freya menyiapkan hidangan untuk tiga orang. Selesai diapun ke kamar untuk mandi.


Amber keluar kamar untuk memeriksa makan malam mereka. Belum sempat ke ruang makan. Seseorang mengetuk pintu luar. Aneh, siapa yang bertamu saat makan malam?


🍒🍒🍒


Pekanbaru


191022

__ADS_1


11.01


__ADS_2