
Bara tidak percaya begitu saja, dia menatap Freya dengan tajam, seperti mencari sesuatu. Bara yakin ada yang disembunyikan oleh mata hijau Freya yang memesona. Bara mendekatkan diri ke Freya membuat Freya tersandar di sudut pintu. Bara Mengukung Freya dengan kedua tangannya yang berotot.
"Apa hanya itu, kau yakin tidak menyembunyikan sesuatu?" Bara menelusuri setiap inchi wajah Freya, membuat Freya merasa ditelanjangi.
"Tentu ... saja." Jawab Freya gugup, berharap Bara mempercayainya.
Posisi mereka yang sangat dekat membuat Freya dapat melihat jelas wajah Bara, aroma maskulinnya sangat memikat, percampuran woody, vanila dan mint. Freya ingin memeluk dan menyandarkan diri ke dada bidang Bara. Tidak pernah Freya setertarik ini dengan pria, bahkan Edward sekalipun, tidak pernah membangkitkan sisi liar Freya.
Tidak ada salahnya bagi Freya untuk menjerat Bara karena dia sendiripun juga terjerat oleh pesona Bara.
Barapun sama, dia memperhatikan wajah Freya yang lembut, pipi yang merona merah, serta bibir yang menggoda, haus untuk disentuh. Freya bahkan membuat bibirnya sedikit terbuka menanti, untuk dicium oleh Bara. Akal Freya menghilang akibat kesepian yang dia rasakan, dan berada dalam posisi intens seperti ini, benar-benar membuatnya seperti wanita penggoda.
__ADS_1
Bara sudah sering bertemu wanita cantik dan memikat, namun, tidak pernah terang-terangan tertarik dengan wanita. Apalagi dengan kakak iparnya sendiri. Bagi Bara setiap wanita hanya menjadi penghangat ranjang. Oleh sebab itu dia menyukai hubungan dengan Selena, Selena tidak pernah membatasinya bergaul dengan wanita manapun. Bahkan saat Bara bosan dengan Selena dan mencari wanita lain, Selena tidak mempermasalahkannya, begitupun Bara, dia tidak akan cemburu saat Selena bersama pria lain, asal jangan pria yang dia kenal.
Bara mendekatkan wajahnya, Freya menutup mata, berharap akan mendapatkan ciuman pertamanya. Namun Bara segera sadar, mengingat Freya adalah janda saudaranya. Ada perasaan tidak rela dalam diri Bara bahwa Freya pernah bergaul dengan Edward.
Bara menjauhkan tubuhnya dari Freya, nafasnya memburu, tidak ingin melakukan hal lebih.
"Tunjukan padaku kamarnya." Freya yang menanti, sadar dan merasa malu. Anehnya Bara tidak meminta maaf.
Tidak pernah ada lelaki yang membuatnya setertarik ini bahkan menunjukan hasrat dan gairah yang selama ini Freya sembunyikan.
Freya berjalan menuju kamar yang akan di tempati oleh Bara. Kamar tersebut tidak jauh dari kamar Freya.
__ADS_1
"Ini dia, silahkan. Aku akan meminta pelayan membawakan kopermu." Ucap Freya lagi, masih sambil menenangkan jantungnya yang gugup.
"Terima kasih." Bara segera memasuki kamar tersebut. Merenungi yang dia lakukan kepada Freya. Dia tidak mengerti dengan dirinya, biasanya, Bara sangat mudah mengendalikan diri, namun entah kenapa Freya membuat hasratnya gampang tersulut. Pertama kali dia mengenal Freya bahkan baru beberapa jam yang lalu mereka berkenalan. Tapi melihat Freya langsung membuat fantasi liar Bara terbangkitkan.
Pelayan mengetuk pintu, Bara mempersilahkannya untuk masuk dan membawakan barang-barang Bara.
"Apakah saya perlu membereskan barang-barang ini dan meletakannya di lemari, sir." Ucap pelayan laki-laki sopan.
"Silahkan dan terima kasih, aku akan mandi dulu." Mandi agar pikirannya kembali normal dari memikirkan Freya.
Bara tidak habis pikir, kenapa dia bisa sebejat itu akan menggagahi kakak iparnya sendiri disaat mereka baru pertama kali bertemu. Bersyukur akal sehatnya kembali mengingat bahwa Freya adalah kakak iparnya, kalau tidak pasti pertahanan dirinya akan habis. Sebaiknya dia harus menghindari keadaan berdua dengan Freya. Itu akan membuat mereka berdua aman.
__ADS_1
🍒🍒🍒