JERAT HASRAT KAKAK IPAR

JERAT HASRAT KAKAK IPAR
Adam Smith


__ADS_3

Jangan lupa koment ya. Bagi yang masih punya vote silahkan berikan buat momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.😘


🍰🍰🍰


"Sayang," ucap Amber melihat Freya yang telah membuka mata.


"Bibi," sapa Freya. Dia mencoba untuk duduk.


"Tidak usah duduk, berbaring saja, apa yang kau inginkan? Bibi saja yang mengambilkannya," ucap Amber menahan agar Freya tidak melakukan banyak gerakan.


"Tidak apa-apa, Bibi, aku baik-baik saja," balas Freya.


"Apa kau haus?"


"Tidak, Bibi. Maafkan aku," ucap Freya tulus. Dia tidak boleh menjadi egois. Dia harus mengizinkan Amber menikahi Delvin. Delvin adalah ornag yang bisa dipercaya. Freya yakin Delvin akan melakukan yang terbaik untuk Amber.


"Bibi, yang harusnya minta maaf. Sayang, karena Bibi kau jadi sakit," aku Amber. Dia membetulkan selimut Freya.


"Tidak Bibi, aku yang egois," lirih Freya.


"Sebaiknya kau istirahat saja, kita tidak usah membahas apapun," elak Amber. Dia tidak ingin memicu perdebatan lagi.


"Tapi, Bibi--"


"Bibi akan memanggilkan dokter untuk memeriksamu." Amber berdiri dan ke luar dari kamar rawat inap Freya tanpa menghiraukan kalimat Freya.


Freya memghormati keputusan Amber, sebaiknya nanti mereka membahasnya lagi.


Amber datang bersama dokter dan perawat. Dokter kembali memeriksa Freya.


"Syukurlah, kondisinya telah stabil," ujar Dokter.


"Bayinya, dok?" Amber harus memastikan bahwa bayi Freya aman.


"Bayinya juga, baik-baik saja, mungkin tadi dia terbawa setress dari ibunya," sindir Dokter melirik ke arah Freya. Freya hanya tersenyum saja.

__ADS_1


"Syukurlah," ujar Amber lega dengan informasi dari Dokter.


"Kapan saya bisa pulang, dok?" tanya Freya tidak sabar.


"Sebaiknya menginap malam ini dulu ya, besok pagi sudah bisa pulang," beritahu Dokter.


***


Telah berlalu tiga hari sejak Freya keluar dari rumah sakit. Mereka beraktivitas seperti biasa. Hari ini Amber mengajak Freya berjalan-jalan di bukit-bukit tempat tinggal mereka. Pemandangan yang hijau dan sejuk akan sangat bagus bagi Freya.


"Bibi, tentang lamaran Delvin--"


"Tidak apa-apa, Delvin akan mengerti sayang, lagian Bibi kasihan dengan dia, sebaiknya dia menemukan wanita yang lebih muda," potong Amber, belum sempat Freya menyelesaikan kalimatnya.


"Bukan begitu, Bibi, dengarkan aku, Bi ... Delvin sangat mencintai Bibi, jangan lewatkan kesempatan ini," ucap Freya. Mereka masih melangkah menuju sungai.


"Bibi, telah menolaknya sayang, jadi jangan khawatir," tegar Amber. Delvin pasti tidak akan mau menerima telepon dari Amber lagi. Amber tahu baik dia maupun Delvin sangat terluka. Apa lagi Delvin seorang pria, pasti dia akan sangat marah dan membenci Amber.


Freya semakin merasa bersalah, seharusnya dia tidak egois dan ikut bahagia dengan yang Amber rasakan. Selama ini Amber selalu mendukungnya. Jadi inilah saatnya bagi Freya mendukung Amber.


"Oh, mr. Smith," sapa Amber. Dia lupa bahwa dia tengah memesan beberapa sayuran dan gandum serta daging.


"Saya tadi ke rumah, anda, tapi, tidak ada orang," ungkap Adam.


"Maafkan saya, saya lupa, kalau memesan beberapa barang." Amber menjadi merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, miss," ucap Adam memakluminya.


"Mrs. Horisson, apa kabar? Lama tidak bertemu," ujar Adam lagi.


"Baik," jawab Freya, sepertinya Adam hanya mengetahui bahwa Freya menikah dengan Edward Horisson bukan Bara Alexander Horisson.


"Sebaiknya kita ke rumah," ajak Amber.


"Ayo naik," tawar Adam. Dia memang mengantar beberapa pesanan penduduk dengan mobil kap terbuka.

__ADS_1


Amber dan Freya menaiki mobil, mereka menuju rumah.


"Sejak sir Horisson meninggal, kalian tidak tinggal di mansion lagi, apa terjadi sesuatu?" tanya Adam. Dia tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Ya, mansion memiliki pewaris baru, putra kedua sir Albert," jelas Amber.


"Apakah kalian diusir?" Adam tidak habis pikir dengan kejadian yang menimpa Freya dan Amber. Apakah saudara Edward sangat kejam sehingga mengusir mereka?


"Bukan, hanya saja kami merasa tidak pantas," jelas Amber. Padahal mereka memang diusir Bara, saat kebohongan mereka terbongkar.


"Lalu, kalian tinggal di mana?" tanya Adam lagi.


"Kami pindah ke London, hanya saja ternyata tinggal di kota tidak cocok buat kami," urai Amber. Freya hanya diam, dia tidak ingin membahas apapun tentang masa lalunya. Fokus Freya adalah masa depan dan bayinya.


"Mrs. Horisson, anda sangat pendiam sekarang?" tegur Adam kepada Freya.


"Please, cukup Freya saja," ujar Freya, dia merasa tidak nyaman lagi menggunakan nama Horisson.


"Saya merasa tidak sopan." Adam tersenyum melirik Freya.


"Tidak apa-apa, saya akan merasa sangat nyaman jika kau memanggilku hanya Freya," jelas Freya.


"Baiklah, Freya,"


Tidak terasa mereka telah sampai di rumah Freya dan Amber. Adam menurunkan pesanan Amber dan membawanya masuk sesuai instruksi Amber. Freya membuatkan teh untuk Adam.


"Beres, saya pamit dulu." Saat brlanjaan terakhir diturunkan Adam.


"Jangan pulang dulu, Freya telah membuatkan teh untuk kita," tawar Amber.


🍒🍒🍒


Pekanbaru


161022

__ADS_1


16.29


__ADS_2