JERAT HASRAT KAKAK IPAR

JERAT HASRAT KAKAK IPAR
Menolak


__ADS_3

Jangan lupa koment ya. Bagi yang masih punya vote silahkan berikan buat momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.😘


🍰🍰🍰


"Ya, Freya melihat kau menciumku,"Β  ungkap Amber. Dia meraih tangan Freya yang tengah tertidur. Tangan satu lagi memakai selang infus.


Amber sadar Freya tidak boleh setress dan tertekan. Namun, Amber membuat Freya tertekan. Amber paham jika Freya sangat ketakutan. Mungkin Freya takut Amber meninggalkannya, jika Amber menikah nantinya.


Delvin memegang bahu Amber, memberikannya kekuatan. Amber menengadahkan kepala dan melirik ke arah Delvin. Dia menatap Delvin dengan perasaan sengsara dan dilema.


"Delvin, aku tidak bisa menerima lamaranmu," cicit Amber, dia melepaskan cincin yang tadi disematkan oleh Delvin di jari manisnya.


Amber menyerahkan cincin tersebut kepada Delvin. Delvin bergeming, tidak mengambil cincin yang diserahkan Amber. Amber meraih telapak tangan Delvin dan meletakan cincin tersebut.


"Kenapa?" Delvin menatap tajam mata Amber, mencari apakah Amber tidak mencntainya. Delvin yakin jika Amber juga menyukainya. Mereka saling mencintai, lalu, di mana salahnya?


"Aku tidak bisa meninggalkan Freya dalam keadaan seperti ini," ungkap Amber. Tangannya masih menggenggam tangan Delvin. Amber mencium tangan Delvin, seolah-olah memberinya kekuatan.


"Aku tidak pernah menyuruhmu meninggalkan Freya ... kita akan menjaganya bersama-sama ... bagilah denganku bebanmu," bujuk Delvin. Dia memegang wajah Amber, menatap dengan lembut. Agar Amber tahu bahwa dia sangat memuja Amber.


"Freya merasa tidak nyaman ... aku tidak ingin dia tertekan, kau tahu kondisi Freya, dia sedang hamil," tolak Amber. Dia mengalihkan wajah dari tatapan Delvin.


"Apa karena aku teman Bara?" tanya Delvin. Dia kembali menarik wajah Amber agar melihat padanya.

__ADS_1


"Ya, salah satunya ... kami terbiasa bersama, aku tidak ingin jika kebahagiaanku ... membuat Freya tidak bahagia ... kau tahu aku sangat menyayanginya, aku tidak akan membiarkan dia terluka," jelas Amber.


"Dengan mengabaikan kebahagiaanmu sendiri?" ejek Delvin. Dia kesal karena Amber tidak bisa diberitahu maupun dinasehati.


"Ya, aku tidak ingin egois." Amber mengusap air mata yang mulai keluar dan mengalir di pipinya. Amber tidak tahan, dia sangat sedih, kesempatan bertemu seseorang yang mencintai dan dicintai olehnya adalah suatu hal yang sangat langka. Namun, Amber harus menepis perasaannya itu. Semua demi Freya dan bayi yang sedang dikandungnya.


"Kau tidak bisa melakukan itu padaku, aku akan bisa menerima, jika kau tidak mencintaiku ... tapi aku tahu bahwa kau mencintaiku ... dan aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja," kekeh Delvin. Dia mengusap rambut tanda frustasi.


Delvin berjalan mondar-mandir dalam ruangan. Mencoba menenangkan perasaan gundah yang menderanya.


Bagai mana caranya--agar dia dapat membujuk Amber dan meyakinkan Amber bahwa mereka bisa melewati semua ini. Delvin kehabisan kata-kata.


"Kembalilah ke London, kita tidak usah bertemu lagi ... kami bisa melalui ini semua," ucap Amber. Dia harus tega kepada Delvin.


"Bisakah, aku berbicara dengan Freya dan meyakinkannya?" Pinta Delvin.


"Jangan," teriak Amber. Dia takut membayangkan jika Delvin memaksa Freya, itu akan berdampak buruk bagi Freya.


"Kenapa kau melarang? Aku yakin bisa menjelaskannya kepada Freya. Freya harus mengerti Amber dan aku yakin Freya bukanlah wanita yang egois," bujuk Delvin lagi. Dia harus memastikan sendiri kepada Freya.


"Aku tidak ingin Freya terluka ... pergilah, pasti akan banyak wanita yang bisa menjadi pasanganmu," usir Amber, dia masih menahan air mata agar tidak mengalir.


"Tapi, aku hanya menginginkanmu," balas Delvin. Perasaan bahagia yang tadi sempat dirasakannya, mengurai begitu saja.

__ADS_1


Amber berdiri dan melangkah menuju Delvin. Dia memeluk Delvin dari belakang. Menguatkan dirinya dan Delvin. Delvin membalikan tubuhnya hingga menghadap Amber. Dia mencium Amber denganΒ  rakus, seperti hari esok tidak akan ada lagi.


Amber mencoba melepaskan diri dari ciuman Delvin. Nafas mereka memburu, baik Amber maupun Delvin hampir kehabisan nafas. Delvin memeluk Amber dengan erat, seakan tidak ingin berpisah.


"Jika kita memang berjodoh, cepat atau lambat, kita pasti bisa bersama lagi," bisik Amber dalam pelukan Delvin. Amber mengurai pelukan Delvin, menjauh dari tubuh Delvin yang seperti menyeretnya.


"Aku akan pergi, aku harap keputusanmu adalah hal yang tepat, jangan menyesal nantinya, Amber," geram Delvin. Dia ke luar dari ruangan rawat inap Freya. Meninggalkan Amber yang menangis sesegukan selepas kepergiaannya.


Amber berusaha menenangkan diri, dia harus kuat demi Freya. Hanya dia yang dimiliki Freya saat ini. Freya meneteskan air mata, dia telah sadar dan mendengar pembicaraan Amber dan Delvin. Freya sadar dia tidak boleh egois. Amber berhak untuk bahagia. Amber telah mengorbankan masa mudanya. Jangan sampai Freya juga merebut masa tua Amber.


Amber melihat tangan Freya yang bergerak. Amber lega Freya telah bangun dari tidurnya.


"Sayang,"


πŸ’πŸ’πŸ’


Pekanbaru


151022


09.03


Hi semua, aku suka baca komen kalian. Tenang aja ya, aku pecinta konflik ringan.

__ADS_1


__ADS_2