
Jangan lupa koment ya. Bagi yang masih punya vote silahkan berikan buat momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.😘
🍰🍰🍰
"Adam!" seru Amber saat membukakan pintu. Amber bertanya-tanya kenapa Adam kembali lagi.
"Maaf, miss, saya lupa membawakan buah-buahan pesanan, anda," ucap Adam memperlihatkan keranjang yang berisi buah-buahan.
"Oh, ya ampun, saya lupa, kalau memesan buah-buahan untuk Freya." Amber menerima buah-buahan tersebut. "Padahal, besok pagi juga bisa di antar, tidak harus hari ini," ucap Amber.
"Semua sudah di bayar, miss, jadi harus di antarkan ... siapa tahu kalian ingin makan buah sambil bersantai," seloroh Adam. Amber memang memesan buah-buahan untuk Freya. Wanita hamil sangat bagus makan buah dan sayur.
"Freya dan bayinya memang membutuhkan ini," ungkap Amber. Adam yang tidak tahu jika Freya hamil menjadi penasaran.
"Apakah Freya hamil, miss?" tanya Adam ingin tahu.
"Oh, itu ... benar." Amber salah tingkah, kenapa dia harus membicarakan tentang kehamilan Freya. Tapi, lambat laun orang-orang akan tahu juga jika Freya hamil.
"Apakah Freya telah menikah lagi?" Adam bertanya hati-hati.
"Ya, maaf aku harus kembali ke dalam, kami sedang memasak makan malam," bohong Amber. Dia tidak ingin membicarakan tentang pernikahan Freya.
"Oh, baiklah," jawab Adam kikuk. Dia tahu jika Amber tidak nyaman membicarakan tentang pernikahan Freya.
"Terima kasih telah mengantarkan buah-buahan ini," ucap Amber tulus.
"Sama-sama." Adam membalikan badan dan menuju mobilnya.
Amber menutup pintu dan membawa keranjang yang berisi buah-buahan ke dalam. Amber berencana mencucinya dan menambahkan sebagai hidangan pembuka makan malam mereka.
Baru berjalan tiga langkah, pintu kembali di ketuk. Apakah Adam melupakan sesuatu lagi? Amber membalikan badan dan kembali membukakan pintu.
Seorang pria langsung memeluknya dengan erat. Membuat Amber menjatuhkan keranjang yang berisi buah-buahan karena terkejut.
"Aku sangat merindukanmu," sosor pria tersebut.
__ADS_1
"Delvin! Apa yang kau lakukan di sini?" Amber membiarkan Delvin memeluknya. Karena dia pun merindukan pria ini.
"Aku diundang seseorang," akunya. Delvin mengurai pelukan, menatap wajah Amber. Kemudian Delvin mencium bibir Amber dengan rakus.
"Delvin, le--paskan ... nanti Freya melihat," lirih Amber.
"Freya telah menyetujui hubungan kita," beber Delvin. Dia menggengam tangan Amber dan menciumnya.
"Maksudmu?" Amber menatap Delvin dengan bingung.
"Freya menghubungiku dan memintaku untuk menikahimu," jelas Delvin.
"Apa?" Amber mengeryitkan dahi karena bingung. Kapan Freya berbicara dengan Delvin.
"Oh, kau telah datang," sapa Freya saat keluar dari kamar dan melihat Delvin dan Amber di depan pintu ruang tamu.
"Ada yang bisa menjelaskan kepadaku, apa yang terjadi?" sungut Amber menatap Freya kemudian Delvin.
"Sebaiknya kita makan malam dulu, Bibi ... kasihan paman Delvin, dia baru saja datang," ajak Freya yang mendapat pelototan mata dari Amber. Sedangkan Delvin tersenyum karena Freya memanggilnya dengan sebutan 'paman Delvin'.
Freya berjalan menuju ruang makan, diikuti Delvin. Amber masih mencerna yang baru saja terjadi. Melihat Amber yang belum bergerak. Akhirnya Delvin berinisiatif menarik tangan Amber, agar mengikuti mereka.
Mereka makan dengan tenang. Selesai makan Amber membersihkan peralatan makan.
"Letakan saja di sana?" Tunjuk Amber saat Delvin membawa piring kotor.
"Aku akan membantumu," sahut Delvin. Dia mendekat ke arah wastafel, tepat berdiri di belakang Amber.
Freya melap meja makan, dia ingat melihat keranjang buah-buahan yang terjatuh di depan pintu. Freya ke sana dan mengambil buah-buahan itu. Dia berencana untuk memakan buah-buahan tersebut saat berbicara dengan Amber dan Delvin nanti.
Freya membawa buah-buahan ke dapur. Melihat adegan Amber dan Delvin yang romantis. Freya semakin yakin bahwa Delvin akan membahagiakan Amber.
"Hmm," deham Freya. Otomatis Amber mendorong tubuh Delvin untuk menjauh darinya. Delvin sadar diri, dia segera menyingkir dan memberikan akses untuk Freya mendekat ke Amber.
Amber selesai mencuci piring.
__ADS_1
"Biar, Bibi yang mencucinya," tawar Amber kepada Freya. Freya memberikan buah-buahan tersebut.
***
Mereka duduk di ruang keluarga, di sana telah tersedia buah-buahan dan roti yang dibeli Delvin di Freya's cake and Bakery.
"Wah, Paman dari toko kami?" tanya Freya saat melihat roti dari tokonya.
"Ya," balas Delvin singkat.
"Bagaimana keadaan toko?" Kali ini Amber yang bertanya.
"Masih ramai, sayang sekali kalian tidak di sana," sesal Delvin.
"Sebaiknya kita membicarakan pernikahan kalian, jadi kapan rencananya?" cecar Freya. Dia mengupas buah Apel dan memakannya.
Delvin melirik Amber. "Apakah bisa besok?" tanya Delvin yang langsung mendapat tatapan tajam dari Amber. Freya pun trauma dengan pernikahan kilat. Pernikahannya dengan Bara juga secepat kilat dan berakhir dengan cepat juga.
"Kenapa secepat itu, bukankah pernikahan butuh persiapan?" tanya Freya.
"Aku bisa melakukan persiapan dalam waktu satu minggu," ujar Delvin lagi. "Beritahu saja catatannya dan aku akan membereskan semuanya," Delvin memegang tangan Amber. "Percaya padaku," ucapnya.
"Baiklah, kami serahkan semua padamu, tamu pun tidak akan banyak, hanya teman dekat saja," putus Amber.
"Aku pun tidak bisa mengundang teman maupun rekan bisnis," jelas Delvin. Jika rekan bisnisnya tahu dia telah menikah, pasti Bara juga akan tahu.
"Maafkan aku, karena masalahku, berdampak pada kalian." Sedih Freya.
"Tidak sayang, semua bukan salahmu," bujuk Amber. Dia merasa lega Freya merestui pernikahannya.
Apalagi yang diharapkan Amber, ini adalah hal yang paling bahagia di hidupnya. Diusia sekarang tidak penting bagi Amber pernikahan seperti apa. Cukup seseornagbyang mencintainya dengan tulus.
🍒🍒🍒
Pekanbaru
__ADS_1
201022
12.54