
Jangan lupa koment ya. Bagi yang masih punya vote silahkan berikan buat momnya Bara dan Freya. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.😘
🍰🍰🍰
"Hamil!" Delvin merasa bahagia. Dia tidak pernah menyangka jika akan menjadi ayah.
Bara yang mendengar itu menjadi penasaran. Siapa yang hamil? Apa Delvin memiliki kekasih? Bukankah kemarin Delvin jujur bahwa dia menyukai Amber, bibi Freya. Lalu siapa yang menelepon Delvin dan mengatakan tentang hamil?
"Ya, tapi aku belum memeriksakan diri ke dokter, hanya melakukan testpack," lanjut Amber.
"Nanti, aku hubungi lagi," Delvin menutup teleponnya secara sepihak.
"Siapa yang hamil?" tanya Bara, dia memang penasaran dengan pembicaraan Delvin dengan seseorang di telepon tadi.
"Oh, Itu istri tukang kebunku." Bohong Delvin. Tidak mungkin dia jujur dan bilang istriku hamil, akan dicecar dia oleh Bara dengan berbagai pertanyaan.
"Aneh, kenapa dia menghubungimu ... dan sejak kapan nomor handphonemu diketahui tukang kebun?" Heran Bara, dia tahu Delvin tidak pernah sembarangan memberikan nomor handphonenya.
"Dia meminta izin untuk pulang kampung, entahlah, aku juga tidak tahu dia dapat dari mana? Mungkin dari kepala pelayan," jawab Delvin cuek.
"Jadi kapan kau akan memulai project hotel di Maidstone?" Delvin mengalihkan pertanyaan. Sekalian dia harus mengetahui kapan Bara ke Maidstone. Agar Delvin bisa memberi peringatan kepada Freya dan Amber.
"Minggu depan aku akan ke sana," ujar Bara.
Mereka membicarakan kembali detail pengerjaan project tersebut. Delvin memberikan saran dan rekomendasi kontraktor yang bisa dipakai Bara.
***
"Bagaimana, Bibi? Apa kata paman?" cecar Freya begitu Amber menurunkan hanphone dari telinganya.
"Dia hanya bilang akan menghubungi lagi nanti," jawab Amber tidak semangat. Dia merasa Delvin mengabaikannya.
Freya melihat perubahan raut muka Amber yang tidak bahagia.
"Mungkin paman sedang sibuk," bujuk Freya. Dia tahu Amber pasti sangat kecewa dengan respon Delvin. Apalagi hormon hamil membuat segalanya menjadi drama.
"Entahlah, setidak-tidaknya dia harus mengatakan sesuatu yang penting, meskipun sibuk," rajuk Amber.
"Ayo, kita ke dokter saja, untuk memastikannya," ajak Freya. Dia menarik Amber untuk keluar.
"Tidak usah, Bibi tidak semangat lagi, biar saja," kesal Amber.
"Bagaimana kalau kita cuci mata ke pasar?" ajak Freya lagi.
__ADS_1
"Boleh deh," putus Amber.
Mereka ke pasar, Freya memakai masker begitu juga Amber. Mereka tidak ingin diketahui oleh orang-orang, terutama orang yang mengenal mereka.
***
Selesai berbicara dengan Bara, Delvin langsung menuju Maidstone. Dia sangat bahagia mengetahui Amber hamil. Tadi Amber memberitahu bahwa dia belum ke dokter. Delvin berencana menemani Amber ke dokter kandungan.
Delvin sampai di rumah, dia memarkir mobil dan memasuki rumah, sepi?
"Amber!" panggil Delvin. Pintu rumah tidak dikunci itu artinya ada orang di rumah.
"Sir Delvin!" Seru Derby dari dapur. Dia habis membersihkan dapur.
"Ke mana istriku?" tanya Delvin.
"Mrs. Blade dan mrs. Horisson sedang ke pasar, sebentar lagi mereka pasti pulang," terang Derby.
"Derby!" panggil Amber dari luar.
"Panjang umur, mereka telah kembali, Sir," sahut Derby. Dia langsung berjalan keluar dan membantu mengangkat barang belanjaan Amber dan Freya. Sopir juga membantu membawakan ke dalam.
"Sayang!" panggil Delvin begitu melihat Amber masuk. Amber mengabaikan Delvin. Dia masuk ke dalam kamar. Delvin menatap heran, kemudian melihat ke arah Freya, seakan meminta penjelasan.
"Bibi merajuk karena paman tidak antusias dengan berita yang disampaikannya," ungkap Freya.
"Apa? Paman tidak memberitahunya aku di sini 'kan?" Freya khawatir Delvin tidak menepati janjinya.
"Tentu saja tidak, sebentar aku akan membujuk, Bibimu dulu dan membawanya ke dokter kandungan," jelas Delvin. Dia meninggalkan Freya dengan kebingungan dan kekhawatiran.
Delvin melihat Amber tidur di kamar, posisi memunggungi Delvin.
"Sayang, maafkan aku jika aku melakukan kesalahan," ucap Delvin, dia memegang bahu Amber dan mencoba membalikan tubuh Amber agar menghadap dirinya.
"Sudah, tidak usah pedulikan, toh, belum pasti juga aku hamil," rajuk Amber. Dia tidak bergerak saat Delvin mencoba membalikan tubuhnya.
"Kau tahu, begitu kau bilang kau hamil, aku ingin menari saking senangnya, bahkan jika Bara tidak ada pasti aku akan langsung ke sini," urai Delvin. Amber membalikan badan dan duduk menghadap Delvin.
"Maksudmu, kau sedang bersama Bara? Saat aku menelepon?" Delvin menganggukan kepala.
"Ya, Bara ingin membangun hotel di Maidstone," ungkap Delvin.
"Ayo keluar, kita harus memberitahu Freya," ajak Amber, dia langsung turun dari ranjang dan melangkah keluar.
__ADS_1
Freya tengah duduk di kursi tamu, Freya seperti melamun.
"Freya!" panggil Amber. Freya menatap Amber.
"Bibi," seru Freya.
"Freya sepertinya kau harus tahu," ujar Amber. Dia duduk di samping Freya. Sedangkan Delvin mengambil posisi di depan Amber. Amber melirik Delvin agar memberitahu Freya.
"Freya, minggu depan, Bara akan ke Maidstone memulai project hotelnya," ungkap Delvin.
"Apa?"
"Freya aku ingin memberitahimu bahwa, Bara menyesal, dia sedang mencarimu ... dia pikir kalian ke Scotlandia," ucap Delvin.
"Ya, kami memang membeli tiket ke Scotlandia, sesuai saran dari suami Dorothy," jelas Amber.
"Bara menyewa detektif swasta di sana dan London untuk mencari kalian," sambung Delvin.
"Untuk apa dia mencari Freya, bukankah kau pernah mengatakan Bara tidak mencari Freya?" cerocos Amber. Freyapun ingat bahwa Delvin, pernah mengatakannya dan itu membuat Freya sedih karena ternyata Bara benar-benar tidak peduli padanya.
"Awalnya memang seperti itu. Tapi, Bara tahu bahwa anak yang dikandung Freya adalah anaknya, bukan anak Emil," beber Delvin.
"Kenapa dia yakin?"
🍒🍒🍒
Hi jangan lupa mampir ke karya ku yang lain yang tak kalah kerennya
...UNEXPECTED MARRIAGE...
Viona Retwinata adalah seorang ibu tunggal berusia 25 tahun. Suaminya telah meninggal 7 tahun yang lalu. Dia memiliki anak laki - laki berusia 7 tahun, bernama Darrel Saputra. Karena keadaan Viona akhirnya menikah dengan Vino Welton.
Vino Welton adalah seorang pewaris tunggal Welton Group, berusia 30 tahun. Mencintai kebebasan dan tidak ingin terikat dengan yang namanya pernikahan. Baginya wanita hanya untuk teman tidur.
"Dengan siapa pun aku menikah, aku akan menjalankannya dengan baik dan sempurna, karena memang itulah takdirku,"
\= Viona Retwinata \=
"Bagaimana mungkin seorang janda yang telah memiliki seorang putra, namun masih virgin?"
\= Vino Welton \=
Pekanbaru
__ADS_1
231022
11.33