
Amber menyusuri supermarket, mencari ke setiap lorong. Mendorong troly belanjaan, menyisiri setiap rak. Amber sedang berbelanja kebutuhan harian di supermarket yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Pengunjung supermarketpun sangat ramai, mungkin karena weekend membuat pengunjung lebih banyak dari biasanya. Sebenarnya Amber tidak suka berbelanja saat weekend. Namun, apa mau dikata, stock harian mereka habis dan mereka membutuhkannya. Mengharapkan Freya untuk berbelanja tidaklah mungkin karena Freya memiliki kesibukan sendiri apa lagi dia masih bekerja part time. Padahal Bara telah memberi mereka cukup uang dan Freya telah mempersiapkan toko rotinya. Freya tetap bekerja sebagai latihan agar dia bisa menyerap ilmu dan sistem pekerjaan yang digunakan tempat dia bekerja. Sehingga saat toko rotinya telah buka Freya tidak canggung lagi.
Amber memilih-milih barang yang akan dibelinya. Dia telah membuat catatannya sehingga Amber hanya perlu membeli sesuai catatan.
Amber senang Freya dan Bara telah berbaikan. Dia sempat cemas jika Freya akan sepertinya menjadi perawan tua. Meskipun dia perawan tua yang belum menikah. Beda dengan Freya, tidak mungkin dia menjadi perawan tua, padahal telah menikah dua kali.
Amber melihat shampo yang dibutuhkannya. Amber mencoba menjangkaunya, namun, tidak bisa. Amber mencoba sedikit meloncat agar bisa meraih shampo tersebut. Naas seorang anak berlari melewati Amber. Membuat Amber menghindari bocah laki-laki tersebut. Amber menyenggol sebuah botol dan membuat botol tersebut jatuh. Amber justru tidak sengaja menginjak botol tersebut sehingga membuatnya kehilangan keseimbang dan hampir jatuh, jika tidak ditahan oleh seseorang dari belakang.
Pria tersebut menahan bahu Amber dan membuat Amber bersandar kepadanya. Amber yang sangat shock, merasa bersyukur karena ada yang menolongnya. Bisa dipastikan jika Amber terjatuh akan membuat isi rak shampo tersebut berceceran yang tentunya akan membuat dia menjadi pusat perhatian.
Amber mencoba berdiri kembali dengan sempurna setelah kekagetannya berlalu.
"Kau tidak apa-apa?" Suara bas seorang pria membuyarkan Amber dari menetralisirkan kekagetannya.
"Tidak ... maksudku ... aku tidak apa-apa ... terima kasih telah menolongku." Ucap Amber membalikan badan agar bisa melihat siapa pria yang telah menolongnya.
"Kau." Amber menatap pria yang menolongnya. Dia seperti pernah bertemu dengan pria ini, tapi di mana?
"Kau." Pria itu juga menatap Amber, seperti mengingat siapa wanita ini. Dia juga merasa pernah bertemu tapi di mana?
"Maaf, sir ... maafkan ketidak sopanan saya." Ucap Amber setelah sadar, seharusnya dia tidak mengatakan itu kepada penolongnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Apakah kau kenal denganku?" Tanya pria tersebut lagi karena dia juga sempat melihat expresi Amber yang seperti mengenalnya atau pernah bertemu dengannya.
Si pria memungut botol shampo yang jatuh di samping kaki Amber dan meletakannya di posisinya.
"Saya tidak yakin jika kita saling mengenal ... hanya saja ... saya seperti pernah bertemu anda, sir." Jawab Amber. Dia bergeser sedikit agar si pria bisa meletakan shampo.
"Oh ya?" Pria tersebut juga berpikiran sama dan masih berpikir di mana dia pernah bertemu dengan Amber.
"Ya, sir." Jawab Amber sopan.
"Dan apakah anda juga mengenal saya, sir?" Lanjut Amber lagi. Karena dia merasa si pria juga mengenal dirinya.
"Aku juga ... aku tidak mengenalmu ... hanya ... sepertinya aku pernah bertemu dengan anda, madam." Jawab pria tersebut, dia masih betah berdiri di depan Amber. Berpikir lebih giat lagi, di mana bertemu Amber.
"Mungkin bukan orang yang sama, hanya kebetulan mirip saja sepertinya dengan kenalan kita." Putus Amber, karena mereka sama-sama tidak ingat kapan mereka bertemu atau sebenarnya mereka belum pernah bertemu. Hanya kebetulan salah satu kenalan mereka mirip.
"Ya, memang itu tujuanku, sir, hanya saja terlalu tinggi." Jawab Amber karena semua kejadian yang menurutnya hampir membuat dia malu adalah karena shampo itu.
"Permisi ... aku akan membantumu, madam." Si pria memberi kode agar Amber sedikit bergeser sehingga dia bisa mengambilkan shampo tersebut untuk Amber. Amber sempat mencium aroma parfum pria tersebut, aroma woody dengan campuran vanila, orchid, dan sandalwood. Aroma yang sangat menenangkan. Amber segera menyadarkan diri akibat pikirannya yang menikmati harum tubuh pria tersebut.
Amber menatap pria dengan tinggi menjulang di depannya. Amber perkirakan tinggi pria ini adalah di atas 180 cm. Pria tersebut mungkin berusia empat puluh limaan lebih. Namun, otot lengannya saat menjangkau botol shampo terlihat seperti terlatih. Warna rambut pria tersebut pirang berkilau. Jenis warna rambut khas Scotlandia. Amber berpikir apakah pria ini keturunan Scotlandia. Tapi dari aksennya seperti bukan.
Pria tersebut mengenakan kemeja berwarna peach dengan lengan di gulung sampai siku. Karena itulah membuat otot lengannya yang kencang terlihat dari kemejanya. Celana yang dipakai pria tersebut adalah celana hitam dengan sepatu pantovel yang juga berwarna hitam.
__ADS_1
Jam tangan rolex yang melingkar di pergelangan tangannya, menambah kadar ketampanan serta daya tarik pria tersebut. Pria tersebut sangat rapi, menurut Amber kecuali tambutnya yang sedikit panjang sehingga si pria mengikatnya. Bulu-bulu halus di sekitar dagu dan jambang juga mulai tumbuh. Namun, tetap saja pria tersebut cukup tampan dan memiliki daya tarik sendiri.
"Ini." Si pria menyerahkankan botol shampo kepada Amber. Namun. Amber yang masih larut dalam pikirannya tidak memperhatikan bahwa pria tersebut memberikan botol shampo kepadanya.
"Berapa botol yang harus aku ambil?" Tanya si pria, dia pikir Amber tidak merespon mungkin karena Amber membutuhkan lebih dari satu.
"Oh ... cukup satu saja." Amber menerima botol shampo yang di serahkan pria tersebut. Amber malu karena dia pikir dia ketahuan memperhatikan pria tersebut.
"Terima kasih." Lanjut Amber begitu menerima shampo dari si pria. Amber menaruh shampo ke dalam troly belanjaannya bergabung dengan belanjaan yang lain.
"Sama-sama." Balas si pria, setelah Amber mengambil shampo dari tangannya.
"Apakah anda punya rencana, sir?" Tanya Amber tiba-tiba, entah kenapa dia ingin berkenalan dengan pria tersebut. Sedetik kemudian Amber menyadari kelancangannya.
"Kenapa?" Tanya pria tersebut denga pertanyaan Amber. Bahkan pria itu mengernyitkan mata.
"Tidak apa-apa ... saya ..." jawab Amber kikuk. Dia bingung harus menjelaskan apa? Tidak mungkin dia ingin mentraktir si pria karena telah menolongnya. Sangat klise sekali alasannya dan tidak mungkin semua orang yang dibantu dengan bantuan sepele akan membalas bantun tersebut dengan mentraktir makan.
Handphone pria tersebut berdering, Amber merasa lega karena dia merasa terselamatkan dengan situasi cangggung ini.
"Maaf aku harus mengangkat telepon dulu." Potong si pria sambil menunjukan handphone.
"Oh, tidak apa-apa ... silahkan dilanjutkan ... saya baru ingat harus membeli yang lainnya." Amber meninggalkan si pria dengan bingung. Namun, tidak bisa mencegah kepergian Amber.
__ADS_1
🍒🍒🍒
Up kedua ya.