
"Lo beneran pindah Kim?" tanya Griss yang sudah duduk di bangku kantin.
"Iya Griss gue pindah besok ke Semarang" ucap Kimi.
"Kenapa kok lo mau pindah?" tanya Griss seperti mengintrogasi
"Santai aja mukanya nggak usah tegang gitu Griss"
"Emm gue biasa biasa aja sih, ya udah lanjutkan"
"Gue tinggal di Semarang karena gue mau nemenin nenek gue disana" jelas Kimi.
"Cuma nemenin?" tanya nya heran masak cuma nemenin harus tinggal disana? Kan bisa bolak balik, eh tapi butuh waktu berapa jam ya? Batinnya.
"Gue mau menghabiskan waktu sama nenek gue sampai akhir hayatnya" ucap Kimi murung sambil menangkup kan wajahnya ke atas meja.
"Sabar ya Kim, umur hanya Tuhan yang tau, kita aja nggak tau kalau nanti semenit kemudian atau bahkan sedetik kemudian kita udah nggak ada disini, di dunia ini" nasehat Griss dengan mengelus rambut Kimi.
_____
"Kimi kemana sih daritadi ditungguin nggak nongol nongol" gerutu Kama dengan mengedarkan matanya melihat sekeliling.
"Apa? Gue nggak salah lihat kan? Itu Kimi sama Griss? Ngapain mereka?" dengan kesalnya Kama beranjak dari motornya dan menghampiri Kimi di kantin.
"Kim gue udah nunggu lo sehari yang lalu" ucap Kama dingin dengan menatap tajam ke arah Griss seperti hendak mencabik cabik mangsanya.
"Mana ada nunggu gue seharian, ya udah yuk pulang" Kimi beranjak berdiri dan berpamitan dengan Griss dan berlalu meninggalkan sekolahnya.
"Lo ngapain sama Griss? Lo selingkuh ya!" gertak Kama saat dalam perjalanan.
"Iya" singkat Kimi yang membuat Kama berhenti mendadak dan membuat wajah Kimi menubruk punggung nya.
"Lo apaan sih! Sakit nih muka! Nanti kalo tabrakan gimana? Lo mau tanggung jawab ha!" seru Kimi di tengah jalan
Tanpa menjawab apa yang dikatakan Kimi kepadanya. Kama langsung melajukan motornya ke rumah.
Sampainya dirumah Kimi, Kimi langsung turun dari motornya, namun anehnya Kama tidak masuk ke rumahnya seperti biasa, dia bahkan langsung pulang ke rumahnya tanpa berpamitan dengannya. Bahkan dia memasang wajah dingin setelah makian tadi dijalan yang sempat dia lontarkan.
"Apa gue salah? Salah gue apa coba! Cih si Kama nggak ada jentel jentel nya jadi cowok! Huh!" Kimi langsung masuk ke rumah dengan tangan yang mengepal geram.
Kimi masuk ke rumahnya, karena hawanya panas Kimi memilih untuk berendam guna menghilangkan panas ditubuhnya.
Selang beberapa menit Kimi keluar dari kamar mandi tak lupa dia sudah mengunci pintu kamarnya dulu karena Kimi seolah enggan untuk mengganti bajunya.
Dengan helaan nafas kasar dia mengambil hape-nya yang ada dinakas dan membuka enstegrem miliknya. Dia hanya membuka, melihat dan meletakkannya lagi.
"Hufffttt bosan sekali" Kimi langsung meletakkan hpnya dengan kasar menatap kosong ke depan dengan menyanggah kepalanya. Tak lama kemudian dia tertidur.
tok tok tok
'Tumben dikunci, Kimi lagi apa ya?'
"Kim buka pintunya" ucap Kama dengan menggedor pintunya namun tetap saja belum ada suara dari dalam kamar.
"Gue kan punya kunci cadangan kamar Kimi, " kama langsung melangkah menuruni tangga menuju rumahnya. Dan kembali lagi ketika tangan sudah memegang kuncinya.
Ceklek
Mata Kama langsung melotot melihat pemandangan di depannya yang hanya memakai handuk, itupun hampir melorot. Dengan cepat Kama langsung mengalihkan pandangannya dan mengambil selimut guna menutup tubuh Kimi.
__ADS_1
'Cih! Si Kimi ceroboh banget dia, kalo aja bukan gue yang masuk malah orang jahat, eh nggak nggak gue nggak akan biarin'
Kama pun pergi keluar dari kamar Kimi dan pulang ke rumahnya.
***
"Aaaaa" teriak Kimi karena mendapati tubuhnya yang dibalut selimut dan lebih parahnya lagi dia sedang telanjang.
"Siapa yang nglakuin ke gue?" ucap Kimi risau dengan menggigit kuku kuku jarinya sambil melihat ke sekeliling kamarnya. Namun tidak ada siapapun disitu. Kecuali,
"Siapa yang nglakuin, siapa? Gue udah tutup kan pintunya tadi, jendela (menoleh kejendela) ketutup kok" tanyanya dengan heran.
Terdengar suara pintu terbuka yang membuat Kimi memeluk selimut didadanya.
"Aaaaa" teriaknya karena Kama masuk ke kamarnya.
"Ssttt" Kama langsung menutup mulut Kimi agar tidak teriak dan membuat seluruh manusia di dalam rumah pergi ke arahnya.
"Jangan berisik, iya gue lepasin" Kama melepaskan tangannya dari Kimi dan duduk di tepi ranjang.
"Haaa apa jangan jangan lo lecehin gue ya!" serunya.
"Eh mulut lo mau gue tampol ya, mana ada gue lecehin lo! Lo pikir dong kalo gue lecehin lo sakit nggak tuh" Kimi mengikuti gerak tangan Kama dan dia pun langsung melotot dan langsung memukul Kama.
"Jangan banyak gerak Kim nanti melorot lho selimutnya hahaha" goda Kama dan menghentikan tangan Kimi.
"Pergi Kam!" serunya.
"Iya iya gue pergi" ucap Kama dengan beranjak berdiri.
Kimi langsung melotot saat Kama menindih tubuhnya. Kama langsung mengecup pipi Kimi dan berdiri.
"Kunci Kam" seru Kimi dari dalam kamarnya.
"Nggak ah nanti gue mau ngintip lagi hahaha" Kama pun mengunci pintunya.
'Wah nggak aman nih kalo gue ganti baju disini, gue ke kamar mandi aja ah'
Kimi berjalan dengan melilitkan selimutnya ke lemari dan mengambil pakaiannya dan berlalu pergi ke kamar mandi
"Udah belum Kim" Kama menggedor pintu kamar mandi
"Lo ngapain belum balik?" teriaknya.
"Gue nungguin lo lah, kok lo lama banget sih! Lo nggak bunuh diri kan?"
"Lo bisa diem nggak sih Kam susah ni pake celananya"
"Mau gue pakein Kim?" godanya.
"Lo kalo nggak bisa diem gue bakal nurutin apa yang lo katakan tadi" ancam nya.
"Eh iya iya gue diem"
Selang beberapa menit Kimi keluar dari dalam kamar mandi dan mengambil koper.
"Eh lo mau kemana?"
"Lo lupa? Gue mau pindah?" ucap Kimi tanpa mengalihkan pandangannya dari lemari dengan tangan yang mengambil baju.
__ADS_1
"Nanti aja gue mau ajak lo sekarang" ucap Kama dengan memegang tangan Kimi yang hendak memasukkan baju ke dalam koper.
"Ajak kemana?"
:)
"Ngapain kita kesini?" tanya Kimi heran karena Kama mengajaknya ke toko fotocopyan.
Kama pun mendudukan Kimi di salah satu bangku disitu dan dia mengeluarkan buku beserta album masa kecil mereka dan menyerahkan kepada Kimi.
"Buat apa?"
"Begini" Kama langsung menyaut kertas di buku dan menulis.
ππππ 26 π°ππππππ 2020 ππππ’ππππππ ππππ π:
πΊπππ πππ πΊπππ πππππ πππππ ππππππππππ
πΊπππ πππππππ πππππ πΊπππ ππππππππ’π πππ πππππππππ’π
πΊπππ πππππ ππππ πππππππππππ πΊπππ ππππππππππ πππππππππ’π.
πΊπππ ππππ ππππππ πππππππ πΊπππ π πππππππ ππππππ πππππ ππππππππ-πππππ ππ πππππππ’π.
πΏπππππππππ πππ ππππππππππ ππππ πππππ πππππ
πππ³ πππ³
πΊπππ πππππππππ πΊπππ ππππππ’π
"Lo tanda tangan disini" dengan menunjuk nama Kimi berada dan Kimi pun menandatangani suratnya. Begitupun dengan Kama.
"Terus?"
"Ayo" Kama menggandeng tangan Kimi kedalam tempat fotocopyan.
"Mas saya mau fotocopy terus di print keduanya ya mas" Kama menyerahkan suratnya ke masnya tadi
"Ini mas" Kama mengambil print nya tadi
"Yang asli buat lo dan yang di copy buat gue" Kama menyerahkan surat asli yang tadi di print ke Kimi.
"Ini buat apaan?"
"Buat lo inget gue terus saat lo di rumah nenek lo nanti" Kimi tersenyum dengan ide Kama yang briliant ini.
Hening
Saat Kama mendekatkan wajahnya Kimi langsung berdebar tidak karuan dia langsung menundukkan wajahnya.
"Jangan disini malu" ucap Kimi lirih.
"Siapa juga yang mau cium lo, pd banget hahaha"
"Nggak lucu!'
"Kimi" teriakan dari seorang pria yang berjarak jauh dari posisi mereka. Pria itu berlalu mendekat dan mendekati mereka.
"Griss?"
__ADS_1
Bersambung...