Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Buat toko roti


__ADS_3

Pagi hari di Jakarta.


Terlihat tubuh Kama yang sedang berguling-guling di atas kasur empuknya. Sampai terdengar panggilan yang berkali-kali dan gedoran pintu kamarnya. Dengan sangat terpaksa dia turun dari kasur dan melangkah menuju ke pintu kamar.


"Ngapain Yan? Pagi-pagi gini. Gue masih ngantuk nih" gerutu Kama sambil mengucek matanya.


"Lo bilang ini pagi? Astaga Kama! Ini sudah jam 11!" teriak Rian tak habis pikir dengan sahabatnya ini.


"Alahh. Masih jam 11 Yan! Lo tau nggak? Dari semalam gue nggak tidur!" Kama berbalik badan dan tengkurap kembali ke atas kasur.


"Ngapain lo nggak tidur ha? Cepat katakan!" Rian pun duduk di samping tubuh Kama dengan gaya yang menyelidik.


"Vc sama Kimi" Kepala Kama pun menoleh ke kanan agar tidak terkena sialaunya matahari dari jendela.


"Dasar bocah! Bucin lo itu udah sangat akut tau nggak!" seru Rian sambil mengambil bantal dan melemparkannya di atas kepala Kama.


"Berisik! Sana keluar!" seru Kama dengan mengerutkan keningnya.


"Lo nggak mau party? Ayolah Kam. Gue udah jemput lo nih! Nggak ngehargain banget."


"Berapa harga lo. Nanti gue bayar"


"Dasar songong lo! Cepetan mandi! Apa gue harus panggil tetangga lo biar lo dimandiin ha!"


"Terserah lo mau bilang apa" Kama pun mencoba untuk kembali melanjutkan tidurnya dan pergi ke alam mimpi yang indah.


"Oke, gue akan panggil tuh si Maya"


Hening


Hening


Hening


Kama sudah terlelap dan bukannya mimpi bertemu bidadari memakai gaun putih yang sangat cantik malah menemui iblis memakai gaun merah dan ada tanduknya pula. Lihatlah wajah Kama yang sudah gelisah dan mengeluarkan keringat dingin diwajahnya.


Iblis itu hendak membuang bara api yang panas di wajah Kama dan seketika Kama bangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah.


"B! Mimpi apa barusan gue? Hah basah pula" dengan gelagapan Kama mengelap keringat di wajahnya dan juga badannya yang basah.


"Akhirnya bangun juga lo. Tos dulu May"


"Yahaa emang lo yang bisa bikin Kama bangun"


"Benar sekali"


Kama memicingkan matanya kesal ke arah suara itu. Matanya memerah hendak memangsa mangsanya. Dia berdiri sambil mengepalkan tangannya dan maju secara perlahan ke arah Rian dan Maya.


Wajah Rian dan Maya sudah pias. Mereka melotot kan matanya dan berjalan kebelakang menjauhi Kama. Merekapun berhenti saat badan mereka menempel ke tembok. Memejamkan mata adalah pilihan mereka sambil bergandengan tangan menguatkan.


Cekrek


Cekrek

__ADS_1


"Hahaha ada yang baru jadian nih. Traktir bisa kalik" ternyata Kama mengambil ponselnya di meja yang berada di dekat Rian dan Maya


dia pun memotret saat Maya dan Rian bergandengan tangan dengan memejamkan matanya.


"Gimana ya, kalau gue serahin foto ini ke Nadia. Wah akan terjadi perang besar nih"


"Awas ya lo Kam! Jangan berani-berani-nya lo kirim itu ke Nadia!" Kama sudah berlari dulu keluar kamar guna menghindari serangan yang akan dilakukan Rian kepadanya.


"Dasar anak-anak itu. Kenapa mereka seperti anak kecil?" Maya hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah dua anak itu.


"Hai tante" sapa Maya ketika melihat Mama Kama yang sudah kembali dari kebun.


"Dari kebun ya tante?" Mama Kama menganggukan kepalanya.


"Tante mau mandi dulu ya May. Udah kotor banget nih bajunya. Kalau kamu mau makan sesuatu tinggal ambil saja ya maaf tante nggak bisa temenin." Maya menganggukan kepalanya dan berjalan mencari dua anak nakal itu.


"Bocil. Lo dimana?" teriak Maya sambil berkeliling rumah Kama. Samapai di


"Astaghfirullah" Maya mengelus dadanya ketika Kama dan Rian tiba-tiba datang dan menabrak dirinya.


"Dasar bocil!" seru Maya ikut-ikutan mengejar mereka.


"Kesini kalian!" Mereka kejar-kejaran naik turun tangga, ke taman, jalanan, seluruh rumah di pijaki mereka.


Dan cukuplah mereka lari-lari. Kama kelelahan berhenti dan tertabrak Rian mereka pun jatuh. Maya tersandung dan terjatuh pula.


"Aduhh" rintihan mereka sambil berusaha bangun dari posisinya.


"Kama!" teriak seorang wanita dari pintu yang memisahkan rumah dengan taman belakang rumah Kama. Seketika Kama mengubah posisi tengkurap menjadi terlentang. Betapa terkejutnya dia melihat Kimi yang sedang membawa se-ikat bunga.


"Duh! Mam-pus gue"


o(愒o愒)


"Sama siapa kamu kesini nak? Sudah lama sekali kan kamu nggak berkunjung kesini? Hampir setahun lho. Dulu waktu kamu disini, rumah ini nggak pernah se sepi ini."


"Benarkah? Tapi tadi aku lihat Kama Rian dan mbak Maya ya?" Maya mengangguk.


"Mereka tidur-tidur an di atas rumput taman" imbuhnya sambil menatap tajam ke arah Kama yang sudah berubah pias sejak tadi.


ting. suara pesan masuk dari ponsel Maya


"Maaf semuanya saya pulang dulu ya, " pamit Maya sambil berdiri dari posisi duduknya.


"Lo mau kemana tan?" tanya Kama sambil menatap ke atas memperhatikan wajah Maya.


Apa Kama bilang tadi? Tan? Intan maksudnya? Permata? Gilak!


Seketika Kimi menekuk wajahnya sambil melihat dan mendengar yang dibicarakan di depannya.


"Oh ya udah sana pulang!" Maya mengangguk, menyalami tangan Mama Kama, mengucapkan salam dan keluar dari rumah itu.


"Kam, gue balik juga ya. Udah kesiangan. Party-nya nanti malem aja. Saya pulang dulu tante"

__ADS_1


Sekarang tinggal Kama dan Kimi yang berada di ruang keluarga itu, setelah Mama Kama pergi dari situ. Kecanggungan terjadi di antara mereka. Cowok itu bingung mau merangkai kata-kata. Sedangkan cewek itu sedang manatap tajam ke arahnya.


"Emm lo mau mi instan?" tawar Kama, dan Kimi mengangguk mengiyakan.


"Udah sana buatin. Ngapain lo masih disini?" Kama pun mengangguk dan berlalu dari sana.


"Ngapain balik?" Kama terlihat ragu menyampaikannya.


"Mi nya habis."


"Ya udah sini duduk" Kama duduk lebih jauh dari Kimi.


"Nih bunga buat lo" Kimi mengambil bunga yang sempat diletakkannya tadi di sana dan menodongkan bunga itu di hadapan Kama.


"Makasih"


Gila! Gue kayak ketahuan selingkuh aja. Eh? Apa Kimi kira gue selingkuh? Gue sampe nggak mandi gara-gara dua bocah tengil itu.


"Oh ya Kim. Lo kesini bawa apa? Eh maksudnya sama siapa?"


"Sama Brian" Kama mangut-mangut mengerti.


"Kim," panggil Kama yang sejak tadi diacuhkan Kimi dengan bermain ponselnya.


"Lo marah?" Kimi menggeleng.


"Jawab yang bener dong!" Kama sudah tidak sabar lagi, diapun merampas ponsel yang sejak tadi digenggam Kimi.


"Haduhh. Gue marah kenapa coba?"


"Kan lo lihat tadi gue sama Rian sama Maya jatuh disana barengan"


"Terus? Kenapa gue harus marah? Lo kan jatuh?"


Kenapa makin rumit kayak gini?


"Ya, ah nggak tau lah. Terus kenapa lo jawabnya nggak mengenakkan hati seperti itu dari tadi?"


"Karena gue lagi kerja! Gue lagi jualan kue! Tau nggak sih lo. Sekarang gue jadi marah beneran nih sama lo! Kemarikan hp gue" Kama menyerahkan ponselnya ke empunya. Dan Kimi sibuk kembali dengan benda itu.


"Lo buka toko kue?" Kimi menganggukan kepalanya.


"Hebat juga ya lo. Buka toko kue sendiri? Atau sama temen-temen lo?"


"Sama Jey. Dia yang punya ide buat toko kue ini. Enak lho buatan neneknya. Mau coba? Gue bawa tapi nggak banyak. Sebentar gue keluar dulu"


Kimi keluar dari rumah Kama dan mengambil kue di mobil. Dia berdecak kesal melihat Brian yang malah tiduran di sana. Kimi tak menghiraukan nya dan mengambil sekotak kue dan membawanya ke dalam rumah Kama.


"Gimana? Enak kan?" tanyanya ketika Kama mulai memasukkan kue itu ke dalam mulutnya.


"Enak kok"


"Nah kan benar apa yang gue bilang. Enak lagi kalau dimakan sambil minum susu. Umm enak sekali"

__ADS_1


"Gimana kalau kita buat toko roti juga disini?"


Bersambung...


__ADS_2