Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Guru tembok


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana hari gue lagi ya, hari yang susah-susah bahagia, walaupun tidak sebahagia yang gue pikirkan sih. Nama Kimi, nama yang selalu gue sebut saat gue sedang rindu dengannya. Hari Senin, 7 September pertama kalinya, eh bukan yang pertama, ini yang kedua kalinya gue jauh dari Kimi.


°°°


Hari dimulai. Kama beserta gengnya sedang nongkrong di kantin sekolah sebelum bel itu berbunyi.


Semua teman Kama memperhatikan Kama yang tampak tak bersemangat seperti kemarin saat ada Kimi disekolah ini.


"Woy Kam, lesu aja lo semenjak Kimi nggak ada disini" Kama menghela nafasnya.


"Gue baru telpon Kimi"


"Lah harusnya seneng dong, udah telpon kok masih cemberut aja, iya nggak" Aldo menoleh ke Rian.


"Ah bener sekali tuh, udahlah Kam nggak usah di buat pusing Kimi nya. Ah gue tau, giaman kalau kita ke Semarang aja"


"Hemm kayaknya gue nggak bisa ikut deh, soalnya harus jaga adek gue di rumah" ucap Aldo


"Wah yang udah persiapan jadi hot dady nih" ledek Kama.


"Nah gitu dong ketawa, murung aja lo Kam" ucap Rian diiringi gelak tawa darinya.


"Ayo, nanti pulang sekolah aja kita kesana. Gue juga rindu Kimi hihi" Kama memicingkan matanya kesal. Kama langsung menonyor kepala Rian.


"Yah sensi dia haha. Santai Kam becanda"


"Nggak lucu" ketus Kimi


"Udah ah ayok masuk bel udah bunyi tuh" Kama beranjak berdiri mengambil tasnya dan masuk terlebih dulu.


Suara siapa yang tadi di tlpn Kimi ya? Ah bodo amat! Gue juga akan temui Kimi kan nanti. Oke Kam lo harus sabar! Semangat! Nggak mungkin Kimi khianati gue. Tante sama Om aja udah restuin. Jadi positif thinking aja Kam!.


Kama melangkah dengan penuh wibawa masuk kedalam kelasnya. Namun siswa yang tak diinginkan Kama dilihat sedang berdiri di depannya. Siapa lagi kalau bukan Sasa, Kama berjalan tanpa memperhatikan Sasa yang sedari tadi memperhatikannya.


"Kam," panggil Sasa dengan memegang tangan Kama. Kama langsung menyentak tangan Sasa dan langsung duduk di bangkunya.

__ADS_1


"Nggak usah ganggu gue sekali ini aja bisa nggak sih Sa!" teriak Kama yang sudah mulai geram dengan kelakuan Sasa yang sejak tadi memanggil namanya terus.


"Maaf" Sasa langsung melangkah mundur dari tempat Kama.


"Cih, ganjen banget si Sasa" bisik salah satu teman disana. Sasa hanya menundukkan kepalanya saja.


"Heh, siapa yang ganjen ha! Kalau ngomong di jaga!" Kama menggebrak meja siswa yang yang mengatakan Sasa ganjen tadi. Kama berjalan keluar, tak lupa dia melirik Sasa dengan tatapan kesalnya itu dan berlalu pergi keluar kelas.


Sikap Kama begitu membingungkan.


'Dasar si Sasa! Nyusahin aja kerjaannya! Kapan sih dia keluar dari rumah gue!' gerutuan Kimi tak sampai disitu saja. Dia bahkan masih menggerutu sampai guru berdiri di depannya dan kenyamanan dirinya. Namun Kama masih menggerutu saja.


"Ehem"


"Lo bisa diem nggak sih!" seru Kama sambil berdiri dari posisi duduknya. Dan menatap tajam ke arah sang empunya suara. Namun kerutan kesal di wajahnya berubah menjadi lurus kembali saat mendapati guru yang sedang menatap tajam ke arahnya.


"Eh Ibu, dari kapan ibu kesini?" tanya Kama sambil menggaruk kepala bagian belakang. Guru itu tersenyum, namun menurut Kama itu adalah senyum yang akan membuat dia kelelahan nanti.


"Hehe Ibu nggak akan hukum kok tenang saja" Kama langsung bernafas lega karenanya.


"Tapi ibu akan suruh kamu lari keliling lapangan basket 10 kali aja." Kama langsung melotot mendengarnya.


"Hehe silahkan kamu kerjakan Kama" Guru itu memberi ruang agar Kama berlalu ke lapangan.


Dengan langkah gontai Kama mulai berlari kecil dari kelas menuju lapangan. Sampainya disana Kama kaget karena gurunya masih saja mengikutinya sampai kelapangan.


"Kenapa Ibu disini?" Guru itu tersenyum penuh misterius.


"Karena Ibu baik hati, maka ibu akan menemani kamu sampai kamu selesai melakukannya."


"Apa bu? duh mati gue Bu kenapa nggak mengajar yang lain saja di kelas kenapa harus menemani saya, saya nggak usah ditemenin nggak papa Bu, saya akan menyelesaikan hukuman saya kok bu" Kama mengangkat jari telunjuk dan tengahnya.


Guru yang masih cantik dan masih muda itu berjalan masuk ke dalam sekolah. Ke kelas mungkin? Menuruti apa yang dikatakan Kama.


"Fyuhhh" Kama menghembuskan nafas lega. Dan tentu saja Kama tidak akan melakukan apa yang tadi diucapkan olehnya kepada guru itu. Kama mulai berjalan ke arah bangku yang terdapat di bawah pohon beringin yang berada tak jauh dari lapangan. Kama mulai membaringkan tubuhnya dan menutup matanya dengan lengan tangannya yang kanan.

__ADS_1


Tiba-tiba Kama merasa telinganya ada yang menjapit, apa mungkin gue udah dalam alam mimpi? Semakin lama japitan itu terasa sangat sakit dan mulai panas telinganya. Kama pun bangun dan mendapati guru yang paling ditakuti oleh semua siswa. Guru BIMBINGAN KONSELING!


Bagaimana gue bisa kepergok gini sih! Ini pasti Bu Dewi yang ngelaporin. Oh Shit! Hari paling bahagia!.


"E eh ada bapak, ada apa pak?" ucap Kama dengan nada bergetar sambil mengusap telinganya yang memerah karena jeweran tadi. Guru itu melengkungkan kumisnya, terpampang sudah wajah garangnya itu.


"Saya dapat amanah dari Bu Dewi untuk menemani kamu sampai hukuman kamu selesai" serunya dengan nada mengeja diakhir kata. Kama menelan salivanya.


"Laksanakan!" Kama kehilangan konsentrasi. Dia tidak menjawab dan langsung berlari dengan sekencang-kencangnya.


Guru BK yang bernama Pak Dody itu duduk dibangku yang tadi dibuat kasur oleh Kama. Dengan jari yang masih menainkan kumisnya mata pun tak lepas untuk menatap tajam ke arah Kama yang sudah berlari.


Dasar anak muda jaman sekarang! Susah banget kalau diatur.


Sudah 8 putaran yang dilakukan Kama. Matahari mulai naik ke atas menjadi penyebab tenggorokan Kama mulai mengering ingin dialiri air yang segar. Bagaimana mau minum berhenti saja mungkin sudah mustahil bagi Kama. Kama berusaha untuk kuat,


Gue laki! Cuma lari 10 kali jangan ngrendahin harga diri lo Kam! Oke gue harus bayangin kalau gue lagi jogging sama Kimi


Kama menoleh ke samping terdapat Kimi disampingnya yang sedang berlari dengannya. Sangat cantik. Oke menurut Kama.


"Kenapa anak itu! Malah noleh kesamping? Dan tersenyum lagi. Sangat aneh" ucap Pak Dody dengan masih memainkan kumisnya.


Kama semakin semangat karena adanya Kimi disampingnya. Dia semakin cepat berlari karena semakin semangat adanya Kimi disampingnya.


"Hah selesai Pak" dengan nafas ngos-ngosan Kama duduk disamping gurunya dan malah membuat pundak guru itu sebagai sandaran kepalanya yang dipenuhi keringat.


"Kurang ajar sekali kamu ya!" Guru itu berdiri dan otomatis membuat kepala Kama hampir terjedut pohon beringin di sampingnya.


"Eh ma maaf Pak saya kelelahan jadi tidak sadar. Maaf ya Pak pliss" Kama membuat wajah yang memelas membuat guru itu tak jadi memarahinya.


"I iya sudah sana kamu masuk kelas. Jangan lupa keringin dulu tuh baju kamu, penuh dengan keringat. Lihat nih baju Bapak jadi kena kan!"


"Hehehe kan saya udah minta maaf tadi pak" ucap Kama dengan cengiran nya.


"Ah Sudah nggak usah minta maaf terus! Sana masuk kelas kamu!" ketus guru itu. Kama berjalan masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


Dasar guru tembok!


Bersambung...


__ADS_2