Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Akhir


__ADS_3

Memotong pita yang terbentang di pintu kafe yang baru saja didirikan Kimi. Dia merasa sangat senang sekali ketika memotong pita itu dengan gunting.


Terharu, tentu saja Kimi terharu. Inilah gedung pertama yang didirikan Kimi selama hidupnya. Senyumnya mengembang seiring tepuk tangan riuh yang menyertainya.


Merasa sendirian, itulah yang dirasakan Kimi saat ini. Tidak ada kedua orang tuanya yang ikut menyertai kebahagiaan dirinya saat ini.


Dan, Kama. Lelaki itu seakan tertelan oleh tanah. Tidak pernah mengabari ataupun hanya mengirim pesan singkat kepadanya.


Kedua orang tua sambungnya yaitu Paman Fan dan juga Bibi Re. Mereka yang selalu bersama disamping Kimi. Mendukungnya dengan segenap rasa yang ada.


Tidak ada yang lebih indah dari keluarga yang sempurna. Memang benar, Kimi merasakan itu. Perbedaan antara ketika dia masih duduk di bangku SMA dengan sekarang yang sudah menjadi bos di Kafe


Dulu dia merasa disayang dengan semua keluarga. Di sayang orang tua-nya, orang tua Kama. Semua anggota keluarga. Teman-teman nya. Dan, Kama. Dialah orang yang selalu men-support dirinya. Tapi sekarang tidak ada. Semuanya sudah tidak ada.


"Kimi, ayo duduk dulu" ucap Bibinya yang membuat lamunan Kimi seketika buyar. Diapun duduk di salah satu meja disitu dan menarik tisu untuk mengelap air matanya dan juga ingusnya.


"Bibi bangga denganmu Kimi. Setelah lama kamu bekerja sekarang kamu punya usaha sendiri. Semoga usaha kamu ini lancar ya Kim"


Kimi mengangguk dengan senyum mengembang.

__ADS_1


Bagaimanapun kasih sayang orang tua sambungnya tidaklah sama dengan kasih sayang orang tua aslinya.


Semua bergantian mengucapkan selamat kepada pemilik Kafe ini. Dan seiring waktu berganti semua orang yang berada di dalam kafe itu berjalan keluar darinya. Dan,


Ada yang baru masuk ke dalam kafe itu. Memakai pakaian serba hitam lengkap dengan para bodyguardnya. Dia berjalan dengan langkah tegas menuju ke arah meja Kimi.


Heran. Itulah yang dirasakan Kimi sekarang. Pikiran buruk mulai menggelayari hati Kimi.


Apakah tanah ini tanah sengketa? Tapi mana mungkin kan? Tanah ini resmi menjadi miliknya. Kimi pun berdiri dengan gugup dengan berpegangan erat di pinggiran meja bundar yang saat ini dia tempati.


"Siapa ya? Dan ada apa?" tanya Kimi gagap dan ragu-ragu menatap ke arah pria misterius itu.


"Surpriseee!" teriakannya dengan merentangkan tangannya.


"Kama!" Kimi langsung memeluk erat sahabat kecilnya serta cinta pertamanya dengan perasaan haru yang menyeruak didadanya. Dia merasakan bahagia yang kembali ke hidupnya.


Selang beberapa menit terdengar telapak kaki yang menapaki lantai kafe baru ini. Kimi melihatnya dan mengamati siapa yang datang. Terlihat modis sekali pakaiannya. Dan dia digandeng suaminya. Siapa mereka?


"Kimi" panggil orang itu.

__ADS_1


Kimi melepaskan pelukannya dan berlari menghampiri pasangan paruh baya itu.


"Astaga. Tante," ucap Kimi ketika berdiri didepan Mama Kama.


"Tante sangat cantik dan tambah muda saja" puji Kimi yang membuat wanita itu tersipu olehnya.


"Kamu bisa aja Kimi."


"Dan om. Astaga aku sampai tidak mengenali om. Om sangat berbeda sekali hari ini. Sangat gagah dan macho" kagum Kimi ketika melihat penampilan Papa Kama yang memakai pakaian mirip dengan Kama.


Papa Kama merentangkan tangannya dengan senang hati Kimi langsung memeluk tubuh Papa Kimi itu dengan hangat.


Tidak disangka walaupun orang tuanya tidak berada di sisiNya tapi Keluarga Kama berada disini. Berdiri bersama dirinya.


Cerita ini diakhiri dengan Bibi Re dan Paman Fan menyerahkan Kimi kepada keluarga Kama. Menurut dengan Amanah dari kedua orang tua Kimi yang akan menjodohkan dirinya dengan Kama.


"Kenapa kalian akan meninggalkan aku?" Kimi terisak di pelukan bibinya ketika mengetahui Paman dan Bibinya akan pindah ke Amerika untuk tinggal di sana. Menyerahkan semua harta warisan yang ditinggalkan keluarga Kimi kepada anak satu-satunya itu.


"Kita akan sering bertemu Bibi pastikan itu"

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2