
Kimi berlarian mengelilingi restoran yang hampir tutup itu. Matanya sembab karena menangis sejak tadi. Sementara Kadeo dia menatap Kimi dengan raut wajah yang sulit dimengerti.
"Cath dimana kamu?" Kimi terduduk lemas di atas lantai berwarna abu-abu itu. Semuanya tidak ada yang mengetahui adanya kucing kesayangannya itu. Tertunduk menangis dengan memegangi dadanya yang sesak.
"Maaf mas apa disini tidak ada CCTV?" Tanya Kadeo.
"CCTV-nya rusak mas. Belum di perbaiki"
Tiba-tiba ada yang masuk ke dalam restoran. Langkahnya tegas dan keras, membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Cath, " Teriak Kimi kemudian bangun dan berlari menuju ke arah orang yang membawa peliharaannya.
"Astaga Cath kamu dimana tadi? Kenapa membuatku khawatir ha?" Kimi menciumi kucingnya yang sudah berada di dalam pelukannya.
"Terimakasih Pak, sudah menemukan kucing saya. Terimakasih banyak" Menundukkan kepalanya sedikit.
"Sama-sama nak, lain kali jaga kucingnya yang benar ya. Dia sepertinya lapar, karena itu kucing anda mengeong di depan saya saat saya sedang makan. Jadi saya membawanya ke Alfamart membelikan makanan untuk nya"
"Terimakasih sekali lagi Pak. Maaf jadi merepotkan anda." Mengusap air matanya.
"Saya akan mengganti uang Bapak yang sudah membelikan makanan untuk peliharaan saya, sebentar" Kimi merogoh tasnya dan mengeluarkan uang seratus ribu.
"Ini Pak. Angap saja ini balas budi saya kepada Bapak karena sudah membelikan makanan dan juga menjaganya" Bapak itu menolak namun Kimi memaksanya dan akhirnya Bapak itu menerima.
Kimi berpisah dengan Kadeo. Dia masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya ke rumahnya.
Berhenti dipinggir jalan. Dia memperhatikan mobil yang dikemudikan Kadeo mengikutinya.
"Kenapa ngikutin?" Teriak Kimi dari dalam mobil melalui jendela.
"Memastikan keselamatanmu" Jawabnya.
"Aku baik-baik saja. Jangan membuntuti!"
Menaikkan kembali jendela mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi, karena hari sudah muali menggelap.
"Dia membuntuti ku terus. Ah senang sekali, hari ini tidak akan terlupakan. Harus di abadikan di buku memory"
Senyum-senyum sendiri sambil memandangi mobil idolanya dari pantulan spion mobilnya.
Sampai dirumah, Kimi memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil. Dia berjalan dan menghampiri mobil yang masih saja terparkir di jalanan depan rumahnya.
"Kenapa kamu masih disini? Mau masuk? Ayo kalau mau masuk"
"Emm, " Kadeo berfikir sambil melihat jamnya.
"Udah mau malam. Mending pulang" Dalam hati Kimi dia ingin sekali mengusir secara kasar dengan orang di depannya. Tapi sepotong hati lainnya mengingatkannya agar tetap sopan.
"Astaga lama sekali dia berfikir. Kenapa tidak langsung pergi saja sih! Hello! Gua juga mau mandi kalik!" Membatin dengan tetap tersenyum paksa.
Cepatlah pergi! Ayolah
"Hemm, benar juga udah mau malam. Nanti kapan-kapan saja kesininya. Jangan sedih gitu dong mukanya" Dia langsung melajukan mobilnya tanpa menatap Kimi yang sudah berapi-api ingin sekali mencekiknya.
__ADS_1
"Oke sabar Kimi, tarik nafas hembuskan, tarik nafas hembuskan. Dia idolamu jangan mengecewakannya. Semangat!"
Berjalan menuju ke dalam rumah dengan kucing kesayangannya. Dia masuk dan melihat ada Bibinya yang sedang bergelut di dalam dapur.
"Hai Bi, nanti menunya apa?"
"Ayam geprek"
"Wihhh enak sekali. Yang pedeeees sekali ya Bi. Dan ya dimana Brian? Apa dia sedang pacaran lagi?"
"Bi Re tidak mengizinkannya untuk pacaran. Anak masih bau kencur gitu kok"
"Terus hubungan keduanya gimana?" Kimi melihat pundak Bibinya yang naik dan turun.
"Bi, ini buahnya sudah hampir busuk. Apa tidak lebih baik dibuang saja"
"Iya, nanti Bibi buang"
Kimi pun pamit ke kamarnya.
Dia duduk bersandar dengan ponsel di tangannya. Dengan lihai jari - jari itu menggeser setiap foto yang menampakkan dirinya dengan idola.
"Memang dia sangat tampan. Berkharisma, sungguh seperti melihat malaikat hihi, "
Dia memposting gambar yang menurutnya sangat bagus di insta storynya. Semua menanggapi postingan nyaa.
"Kenapa sebanyak ini? Andai saja jadi kenyataan kalau aku akan menjadi adiknya. Kalau istrinya pun tidak apapa"
Senyum-senyum sendiri menatap deretan komentar dari pengikutnya dan, Janggal! Ada yang menjanggal.
Meletakkan ponselnya dan masuk ke dalam kamar mandi.
________
Kama duduk di restoran bersama pacarnya. Bukan pacar sungguhan, dia hanya mainan bagi Kama.
Kama dulu bukanlah sekarang. Dia banyak berubah, terutama terhadap wanita. Gonta-ganti wanita sudah menjadi kebiasaan dirinya sejak ditinggal Kimi 3 tahun silam.
"Kamu sangat manis sekali Kam." Ucap gadis yang duduk di depan Kama dengan pipi yang merona.
"Kamu lebih maniss, bahkan lebih manis dan menyehatkan daripada madu terbaik dunia sekalipun" Ucap Kama dengan mengedipkan matanya.
Genit.
"Astaga, " Mendadak wanita itu gugup bukan main.
"Kita makan dulu?" Wanita itu mengangguk.
"Ayo dimakan. Kenapa lihatin sampai kayak gitu? Ada yang salah?" Kama meraba wajahnya, apa mungkin ada makanan sisa diwajahnya.
"Iya, sangat salah. Kenapa Tuhan memberikan cowok se-mempesona dirimu."
Tertawa renyah menanggapi celoteh wanita di depannya.
__ADS_1
"Kau lebih mempesona di bandingkan model terkenal se - Asia ini."
"Kau memang sangat bisa berkata manis" Menundukkan kepalanya menutupi pipi yang akan memerah setelahnya.
"Aku akan membahagiakan mu seperti Tuhan memberikan kebahagiaan kepada kita."
Terharu, wanita itu bahkan sudah hampir menitikkan air matanya.
"Terimakasih untuk semuanya"
Belum juga sehari bersama wkwk.
Kama mendekatkan wajahnya kepada wanita itu. Jelas saja gugup, wanita itu sangat gugup, sampai refleks memejamkan matanya.
"Jangan cium dulu. Aku belum siap"
Tertawa renyah
"Siapa yang akan cium kau gadis manis. Ada benda jatuh di kepalamu. Aku akan mengambilkan nya."
Memalingkan wajahnya malu.
Drrtt.
"Habiskan dulu makanannya, aku akan mengangkat telepon terlebih dahulu" Wanita itu mengangguk pelan.
Kama menjauh dari jangkauan pacarnya. Lalu menggeser icon telepon berwarna hijau.
"Hallo Pa, ada apa?"
"Pulang! Kapan kamu akan pulang ha! Mamamu sampai sakit sekarang! Sampai kapan kamu akan seperti ini terus! Sekarang pulang!"
Tut.
Panggilan terputus.
Suara Papanya melebihi kerasnyaa jika speakernya aktif.
"Sampai pengang telinga gua" Menggosok telinganya dan duduk kembali di depan wanita itu.
"Maaf aku harus pulang sekarang. Kau tidak apapa kan? Kalau pulang sendirian?"
"Kenapa mendadak sekali? Kau bahkan belum menghabiskan makananmu. Dan aku, kenapa kau meninggalkan aku begitu saja"
"Karena ini lebih penting Divya. Kamu mengerti ya"
"Kata kamu tadi aku lebih penting dari segalanya" Wanita itu memberengut kesal sambil berdiri.
Nah kan senjata makan tuan.
"Jangan membantah lagi! Kita putus sekarang!"
Berjalan cepat meninggalkan wanita yang meneriaki namanya. Dan berusaha mengejarnya.
__ADS_1
Duduk di belakang kemudi dan menancapkan gas secepat mungkin.
Bersambung...