
Kimi tampak lesu sekali pagi ini. Dia tidak mau sarapan dan tidak mau diantarkan oleh Papanya. Kimi memilih berjalan kaki menuju ke tempat sekolahnya.
Sampai di sekolah.
"Kimi.." sapa Jey ketika melihat tubuh Kimi tak jauh darinya.
Kimi mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk, dia melihat wajah Jey yang tersenyum ke arahnya. Dia pun melambaikan pelan tangannya dan tersenyum kepada Jey.
Melanjutkan perjalanannya menuju ke sekolah dan berhenti tepat di sebelah Jey.
"Ayo masuk" Jey menggandeng tangan Kimi,
Mereka masuk beriringan seperti hari-hari yang sudah lalu.
"Kim" Kimi mendongak menatap Jey.
"Gue udah denger kabar meninggalnya nenek lo Kim. Gue turut berduka cita ya, dan gue mau minta maaf karena tidak bisa hadir disitu. Kemarin gue, "
"Nggak apapa Jey. Makasih perhatiannya" ucap Kimi smbil tersenyum tipis.
Jey menatap Kimi dengan penuh iba. Dia mengerti kalau Kimi masih sedih dengan kepergian neneknya. Terlihat sekali dari raut wajahnya yang murung sejak tadi.
Sekolah dimulai, semua mengikuti pelajaran. Tapi tidak dengan Kimi. Sejak tadi dia hanya diam saja dan melamunkan entah apa itu. Selalu menatap kosong kedepan tanpa melihat tulisan yang berada di papan tulis
"Kim" Jey menyentuh punggung tangan Kimi yang sedang memegang bolpoin tnya.
"Hmm" mengalihkan pandangan kosongnya ke arah Jey. Jey hanya menghela nafas saja ketika melihat respon Kimi, dia pun berbalik menghadap ke arah depan kembali.
Waktu istirahat.
Kimi membenamkan wajahnya ke atas meja dan menutup kepalanya dengan buku. Tangannya sibuk mengetuk-ngetuk meja yang saat ini sedang disandari nya.
Jey melihat ke arah Kimi. Dia mengangkat buku yang sedang menutupi kepala Kimi, dan membuat Kimi langsung membuka wajahnya menghadap ke arah Jey.
"Kimi, gue tau kok kalau lo sedih di tinggal nenek lo." terdengar helaan nafas berat dari diri Jey ketika dia menyandarkan punggungnya didinding.
"Apa lo tau kalau sedari gue kecil hidup gue selalu saja rumit. Pertama gue ditinggal oleh ibu kandung gue, kedua oleh ayah, dan ketiga oleh Mom gue. Dan apa lo tau kalau gue nggak pernah lihat wajah dari ibu kandung gue. Gue dibesarkan dengan kebohongan. Gue tau pada saat, saat-saat gue nggak pernah menduganya. Mom menceritakan semua tentang ibu kandung gue, dan keesokan harinya" Jey menoleh ke arah Kimi.
__ADS_1
"Mom terbujur kaku dikamarnya. Itulah saat-saat gue menderita, gue jual rumah yang dulu pernah gue tempati dengan kedua orang tua gue. Gue gunakan untuk bayar biaya sekolah dan juga makan sehari-hari gue bersama nenek gue. Syukurlah saat ini nenek gue masih bisa nemenin gue. Hingga sampai saat ini." Jey menatap kosong ke arah depan menerawang jauh.
"Lo harusnya bersyukur Kim, karena lo masih didampingi kedua orang tua lo. Sahabat lo dan. Dan juga pacar lo itu" terdengar miris ketika mengatakan kalimat terakhir.
Kimi menatap Jey dengan sendu. Dia tidak menyangka seorang anak sepopuler Jey punya kenangan yang menyayat hati seperti itu.
Terlihat air yang menggenang di mata Kimi, buru-buru dia memalingkan wajahnya dan mengusap matanya.
Bernafas panjang guna menetralkan perasaannya.
"Gue mau ketemu sama nenek lo" Jey memandang ke arah Kimi, mempertanyakan apa benar yang barusan di katakan nya?
"Gue mau berbincang dengannya"
Rumah Jey.
Mengetuk pintu dan keluarlah seorang wanita dengan rambut yang sudah memutih. Tersenyum melihat Jey yang datang dan menatap heran ketika melihat Kimi.
"Siapa anak cantik ini?" Nenek Jey yang bernama Suri itu bertanya kepada Jey.
"Kenalin nek ini teman Jey, Kimi namanya" Kimi mengangguk tipis dan menyalami tangan nenek Suri.
"Terimakasih nek"
Mereka masuk ke dalam dan duduk di sofa yang berada diruang tamu.
"Maaf Kim, rumah ini tak sebagus rumah lo. Lo nggak nyaman ya?" Kimi menggeleng dan malah tersenyum menatap setiap sudut rumahnya.
"Rumahnya sangat indah dan juga ada rasa jaman dulunya disini. Wanginya berbeda dengan yang lainnya" Kimi menghirup aroma rumah itu dan menghembuskannya dengan cepat.
"Syukurlah kalau lo suka, bentar gue buat minum dulu" Jey beranjak berdiri dari sofa. Berjalan menuju ke dapur dan menatap ke arah Kimi lagi.
"Oh ya, minumnya mau apa?"
"Terserah lo aja" Jey mengangguk dan berlalu kedapur.
"Baru kali ini Jey membawa wanita masuk ke dalam rumah ini. Apa kalian punya hubungan nak?" tanya Nenek Suri sambil mengelus pipi Kimi.
__ADS_1
"Bukan nek, saya hanya temannya Jey saja tidak lebih dari itu"
"Tidak usah terlalu formal nak. Anggap saja nenek ini teman kamu"
"Hehe, nenek Jey apaan sih. Mana sopan kalau nenek saya jadikan seperti teman" Nenek Suri tersenyum saja mendengar penuturan dari Kimi.
"Nenek akan saya anggap seperti nenek saya sendiri. Apa nenek tau kalau nenek saya sudah meninggalkan saya selamanya. Jadi saya akan menganggap nenek seperti nenek angkat bagi saya" ucap Kimi sambil menggenggam tangan nenek Suri
"Siapa nama nenek kamu?"
"Marry, namanya Marry nek."
"Si-siapa namanya? Marry? Apa dia Pemilik toko UTI? Kimi menganggukan kepalanya.
"Astaga" nenek Suri menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Kimi heran melihat ekspresi nenek Suri terhadap kenyataan yang diberikannya.
"Ada apa nek? Apa nenek kenal dengan uti?" nenek Suri mengangguk lemah dengan mata yang berair.
"Ini tehnya untuk nenek dan ini untuk Kimi" Kimi menganggukan kepalanya. Sedangkan nenek Suri masih saja menganga tidak percaya.
Jey duduk dan memperhatikan dua wanita di depannya. Neneknya menyandarkan kepalanya di pundak Kimi dengan menutupi mulutnya. Sedangkan Kimi dia mengelus pundak neneknya dengan tatapan heran.
"Kalian kenapa?" Kimi mengendikkan bahu. Sedangkan nenek Suri malah menangis sesenggukan.
"Nenek tenang ya. Tolong beritahu kepada saya apa yang terjadi? Kenapa nenek sampai menangis mendengar kalau uti meninggal?"
"Apa kamu tau nak, kalau Marry adalah teman kerja nenek saat dulu"
"Teman kerja nenek?" tanya Kimi memastikan.
"Iya, dulu nenek kamu, Marry pernah membawakan gorengan buat nenek. Nenek tidak akan pernah melupakan saat itu." Nenek Suri sudah menegakkan kembali tubuhnya. Nenek Suri menerawang jauh saat dirinya masih kesusahan.
"Nenek baru saja kerampokan waktu itu, nenek duduk di pinggir jalan menahan lapar. Dan mungkin nenek kamu melihat nenek nak" nenek Suri mengelus kepala Kimi dan mencium lemah kepalanya.
"Dia memberikan gorengan kepada nenek dan mengajak nenek ikutan kerja di tempatnya. Nenek sangat bersyukur sekali dengan kehadirannya, karena dengan bekerja disitu nenek dapat menghidupi keluarga nenek. Tapi setelah sekian lama kerja disitu, ada suatu ketika nenek tidak melihat Marry lagi. Menurut kata orang, beliau pergi keluar negeri, dan sampai saat ini. Nenek tidak pernah bertemu lagi dengannya."
"Kenapa nenek nggak pernah cerita tentang nenek Jey kepada gue ya?" batin Kimi bertanya-tanya.
__ADS_1
"Nenek mau ke makamnya"
Bersambung....