Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Nenek gue paling hebat!


__ADS_3

"Kimi, dimakan dong sayang makanannya" geramnya karena cucunya asik mengotak-atik HPnya.


"Eh iya uti, sebentar ya lagi balas pesan" Kimi melihat neneknya sekilas dan membalas kembali pesan Kama. Mama Kimi yang duduk disampingnya langsung memegang tangan Kimi dan menggelengkan kepalanya tanda Kimi harus patuh dengan apa yang dikatakan nenek kepadanya. Kimi yang mengerti tanda dari mamanya, langsung meletakkan HPnya dan melanjutkan makannya.


"Ma, kapan aku sekolah" tanya Kimi disela sela makannya


"Besok sayang, sekarang lagi daftar dulu ya" Kimi menganggukan kepalanya mengerti.


"Papa kita akan kembali ke Jakarta nggak?" tanya Kimi setelah selesai dengan makanannya.


"Kimi, " papa Kimi menggelengkan kepalanya karena takut nenek Kimi tidak enak karena harus memaksa mereka tinggal disitu. Terlihat nenek Kimi yang murung setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kimi kepada papanya.


"Eh uti, aku nggak bermaksud menyinggung uti, tadi aku hanya tanya saja sama papa, aku disini juga nggak masalah, malah seneng kalau bersama uti, uti jangan tersinggung ya" ucap Kimi tidak enak hati.


"Uti nggak papa, uti nggak kesinggung kok, nanti uti juga kita akan kerumah kamu kalau kamu sedang libur sekolah menengah ya" Kimi langsung antusias mendengarnya


"Benarkah ti? Kita akan ke rumah aku yang lama? Wahh senangnya" Kimi langsung berlari ke arah neneknya dan memeluk neneknya dari belakang.


Mereka semua yang ada di meja makan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kimi yang sangat antusias.


"Kenapa kamu sampai sesenang itu Kimi" tanya om Refan *Adik Papa


"Karena dapat ketemu Kama lagi" spontan Kimi.


"Wah sebentar lagi dapat menantu nih kita" Kimi langsung melotot, tersadar dengan perkataannya tadi, pipinya pun langsung bersemu.


"Waahh sampai merah gitu pipinya" goda om refan lagi.


Kimi langsung memalingkan wajahnya dan mengambil piring kotornya dan meletakkan ke wastafel cuci piring. Setelah itu Kimi jalan cepat menuju kamarnya, namun dia teringat dengan ponselnya yang masih dimeja, Kimi pun berbalik dengan menundukkan wajahnya dan mengambil ponselnya dan berlari cepat ke arah kamarnya sampai tersandung di anak tangga dan membuat semua mata ke arahnya, memalukan batinnya.


"Siapa Kama mas?" tanya Refan kepada kakaknya.


"Tetangga, dia akrab banget sama Kimi kayak mereka itu lem selalu lengket, makanya tadi lama sampai disini, Kama merengek dulu agar Kimi tidak pergi, hahaha" semua hanya menggelengkan kepalanya mendengar ceritanya.


"Mas mau jodohin mereka?"


"Kalau jodoh nggak usah jodohin juga pasti berjodoh kan?" Refan mangut mangut mengerti.


"Oh ya Brian kapan pulang?" *Brian anak dari Refan dan Refa.


"Katanya sih sebulan lagi dia akan kesini, "


"Kenapa Brian tidak sekolah disini aja? Kan lebih enak kan nggak perlu jauh jauh"


"Karena Brian mau mandiri mas, jadi dia memutuskan mau tinggal sendiri" Bram mangut mangut mengerti.


"Aku berangkat dulu ya sayang" ucap Bram kepada suaminya, begitupun Refan terhadap istrinya. Mereka berpamitan setelah itu pergi ke kantor.


"Mbak aku mau siap siap ke toko dulu ya" Mama Kimi menganggukan kepalanya.


***

__ADS_1


Kimi sedang asik dengan HPnya, dia sedang melakukan panggilan video dengan Kama. Kimi sedih karena harus meninggalkan sekolah tercintanya, meninggalkan teman temannya dan yang paling menyakitkan harus meninggalkan Kama.


Kimi tetap bahagia walaupun harus berjauhan dengan mereka, dia yakin suatu saat nanti dia akan berkumpul kembali dengan semua orang disana.


"Gue rindu lo" kata pertama yang terucap dari Kimi setelah mematikan panggilannya.


Kimi yang merasa bosan memilih keluar kamar menuju kamar neneknya.


tok tok tok


"Kimi masuk ya ti?"


"Masuk" teriak neneknya dari dalam kamar.


Kimi membuka pintu kamar neneknya dan terlihat nenek Kimi sedang memijat serta mengurut kakinya sendiri.


"Biar Kimi bantu uti" Kimi langsung mengambil minyak gosok dan memijit kaki neneknya.


"Uti jadi teringat anak uti"


"Anak uti yang mana?" tanya Kimi yang masih fokus dengan pijatan nya.


"Yang pertama"


"Oh Papa uti teringat apa dengan papa?"


"Bukan papa kamu Kimi, anak uti ada 4 yang lainnya sudah tidak ada" mendadak raut wajah nenek Kimi sendu.


"Nenek memiliki putri sebelum papa kamu lahir, "


"Terus terus, anak kedua uti Om Refan kan?" tanya Kimi dengan antusias mendengar cerita dari neneknya.


"Bukan, anak ketiga uti bernama isabella, "


"Berarti nenek punya anak cewek cowok, cewek cowok dong"


"Iya, dan Tuhan mengembalikannya dengan adanya kamu nak" nenek Kimi tersenyum dan langsung memeluk tubuh Kimi.


"Kok aku baru tau ya kalau uti punya anak 4, setahu aku nenek cuma punya papa sama om Refan aja"


"Maaf uti bukannya menyinggung, gimana anak anak uti bisa meninggal?"


"Anak pertama uti terkena penyakit jantung, dan yang ketiga baru seminggu dia lahir tapi Tuhan sudah sangat menyanyanginya jadi Tuhan mengambil anak uti mereka sekarang sudah berada di surga sana" ceritanya dengan meneteskan air matanya. Kimi yang melihat itu langsung mengusap air matanya dan memeluk neneknya.


Tempatkanlah saudara saudara Papa di surga ya Tuhan


Kimi ikut menangis dalam pelukan neneknya, Kimi merasa betapa sakitnya melihat anak yang sudah dikandungnya sudah pergi meninggalkannya dengan begitu cepat.


"Nenek yang sabar ya, kan sudah ada aku dan Brian, semoga kita bisa bahagia walaupun tidak ada mereka ya uti, Kimi sayang banget sama uti" Kimi memeluk kembali neneknya.


"Uti juga sayang banget sama kamu Kimi"

__ADS_1


"Uti jalan jalan yuk, refresing daripada sedih sedih disini kan, emm bagaimana kalau kita shopping aja sambil ngopi ngopi gitu?" Kimi melepaskan pelukannya dan memperhatikan wajah neneknya yang sudah keriput.


"Ayo Kimi, berangkat" ucap nenek Kimi dengan sangat semangatnya, nenek Kimi pun beranjak dari ranjang menuju meja rias nya dan menyapukan bedak ke wajahnya.


"Kimi ke kamar dulu ya uti, mau siap siap dulu" nenek Kimi menganggukan kepalanya dan Kimi berjalan keluar menuju kamarnya.


***


"Kama lagi apa ya?" Kimi berjalan ke arah nakas dan melihat ada banyak sekali notifikasi dari Kama yang berisi gerutuan dan makian dari Kama.


Kimi tersenyum dan hanya mengetik kata 'Maaf' dan Kimi langsung menuju lemari pakaiannya dan memakai pakaian sopan untuk pergi keluar rumah.


"Mama aku mau shoping sama uti ya" teriak Kimi dari anak tangga.


"Apa? Mama nggak denger" teriak Mamanya dari dapur. Kimi pun berjalan ke arah mamanya berada, dia langsung memeluk mamanya dari belakang.


"Aduh Kimi bikin kaget aja" mamanya mengelus dadanya karena kaget tiba tiba datang dan juga langsung memeluknya.


"Hehee mama sih makanya jangan kagetan" ledeknya


"Aku mau keluar sama uti, mau shopping boleh ya ma"


"Hemm terserah kamu saja sayang, tapi jangan membuat uti kelelahan ya nak, dan pulangnya jangan sampai kesorean." Kimi mengiyakannya dan langsung pergi begitu saja.


"Dasar Kimi, datang tak diundang, pulang tak diantar, eh jaelangkung ya" mama Kimi tercengir sendiri dan melanjutkan mencuci piring kotor tadi.


***


"Uti mau belanja apa?" tanya Kimi setelah mereka masuk ke dalam mall.


"Emm uti mau beli baju, beli sandal, dan juga mau beli HP baru, yang dulu udah kuno, uti mau beli yang baru" Kimi menggelengkan kepalanya, dia baru sadar kalau neneknya begitu modis batinnya.


"Kalau gitu kita ke toko ponsel dulu yang dekat ya uti" neneknya hanya menganggukan kepalanya saja.


"Mau beli apa mbak?"


"Wah Kimi uti di panggil mbak, apa uti terlihat masih sangat muda ya?" nenek Kimi sangat berbunga bunga hatinya, namun yang dipanggil mbak kan cucunya bukan neneknya batin pelayan yang sedang menawarkan HPnya.


Kimi hanya tersenyum saja takut neneknya kecewa


"Uti aku selalu awet muda kok" puji Kimi.


"Mbak saya mau beli yang ini" Kimi menunjuk HP dengan logo buah itu.


"Yang ini ya mbak?" ucap penjual itu menanyakan takut takut salah. Kimi menganggukan kepalanya dan membayar HP tersebut dan setelah itu Kimi dan neneknya belanja dengan sangat banyak sampai tangan mereka penuh dengan paper bag.


"Nenek udah lelah ya, udah yuk pulang" rujuk nya lagi setelah sekian banyak kalinya, namun apalah daya, neneknya masih ingin beli ini itu sampai Kimi kelelahan karenanya.


"Kamu nggak semangat banget sih! Dimana jiwa muda kamu Kimi" ucap neneknya itu.


Kimi merasa meragukan umur neneknya itu, apa benar neneknya itu sudah berumur 73 tahun? batinnya.

__ADS_1


Emang nenek gue yang paling hebat!


__ADS_2