
"Kam lo nggak mau berangkat sekolah?" tanyanya kepada Kama yang masih memejamkan matanya disampingnya..
"Gue sakit Kim" ucap Kama dengan nada seraknya.
"Apa?" Kimi menyentuh kening Kama
"Nggak usah bohong deh Kam! Nggak panas gitu kok dibilang sakit, kalo lo sakit beneran gimana ha! Gue sekarang udah mau pindah!" seru Kimi.
"Biar lo nggak pindah terus nemenin gue sampe gue sembuh. Andai saja gue sak, "
"Ssttt jangan bilang kalau lo mau sakit, gue nggak mau lo kenapa napa saat gue nggak ada disini. Sekarang lo janji sama gue nggak akan sakit saat gue nggak ada disini dan selama gue datang kesini lo bakal selalu sehat selalu" Kimi mengangkat jari kelingkingnya.
Kama menatap sekilas jari kelingkingnya namun Kama memilih memeluk Kimi lagi dan malah menangis di pelukannya.
"Jadi laki kok cengeng!"
"Biarin"
"Udah dong nangisnya baju gue basah nih!" godanya.
"Biarin"
"Ayolah Kam berangkat sekolah, jangan mbolos hanya karena gue"
"Biarin"
Sabar sabar.
"Gue mau seharian bersama lo Kim. Lo berangkatnya nanti siang kan?" Kama mendongak memperhatikan wajah Kimi.
"Iya makanya lo berangkat sekolah. Kan ada waktu bisa nemuin gue nanti"
"Nggak ah nggak lama gue mau nempel sama lo seharian" Kama mengeratkan pelukannya lagi
"Ah sudahlah terserah lo. Sekarang bangun Kam gue mau mandi, lo juga sana mandi!" Kimi mendorong kasar tubuh Kama agar menjauh darinya. Dan dia berlari keluar kamar saat terlepas dari Kama.
Kimi turun ke dapur membantu mamanya memasak.
"Mama kenapa kita nggak menyewa pembantu saja?" tanya Kimi sambil mencuci sayuran nya.
"Karena kalau kita mempekerjakan pembantu akan membuat kamu manja Kimi" Ucap Mama Kimi sambil berbalik badan dan berjalan ke arah meja makan dan meletakkan makanannya.
"Kenapa mama bilang kalau aku manja" tanya Kimi dengan mengerucutkan bibirnya. Mama Kimi menarik tangan Kimi agar duduk di depannya.
"Begini Kimi, nanti kalau kita mempekerjakan pembantu, kamu akan selalu meminta itu, tolong bikinin itu, mau ini mau itu dan lain sebagainya. Kamu tidak akan mandiri kalau kita punya pembantu. Coba lihat saja sekarang, kamu sekarang aja belum bisa masak kan? Nah nggak ada pembantu aja kamu nggak bisa masak apalagi kalau ada pembantu mungkin kamu nggak bisa ngepel, nyapu, dan bersihin rumah kan?" Kimi mangut mangut mengerti.
"Tapi kita saat kita di Semarang ada pembantu juga nggak disana?"
"Nggak ada Kimi"
"Dan ya satu lagi kalau kita tidak memiliki pembantu, pada saat kamu memiliki suami nanti, pasti suami kamu akan lebih sayang banget sama kamu kalau kamu pandai melakukan segala hal tanpa membebani nya, dan walaupun suami kamu tidak terbebani dan memiliki harta yang melimpah, namun kamu harus berjaga jaga, misalnya suami kamu ada masalah di kantornya, atau bangkrut, dan harus memiliki rumah sederhana tanpa pembantu tanpa perabotan mahal lagi, kamu sebagai istri harus mengutamakan suami kamu pada saat seperti itu. Dan semoga saja kamu selalu mendapatkan rezeki yang berlimpah sayang. Jangan terus terusan kamu membebani suami kamu." Kimi terharu mendengar penuturan dari mamanya yang bijak.
"Iya ma aku akan selalu ingat kata kata mama" Kimi menggenggam tangan mamanya yang sedang mengelus rambutnya.
__ADS_1
"Jadi mulai sekarang ajari aku memasak ya ma, kalau urusan rumah nyapu ngepel mah itu kecil buat aku"
"Wahh ada apa ni kok seru banget ceritanya" Papa Kimi langsung gabung duduk dimeja makan.
"Pah aku mau belajar masak tau" ucap Kimi dengan bangga.
"Oh ya?"
"Ihh papa kok gitu sih, semangatin dong anaknya" ucap Mama Kimi yang melihat Kimi cemberut karenanya.
"Iya iya" Papa Kimi berjalan ke arah Kimi dan memeluknya.
"Papa nggak sangka kalau sebentar lagi kamu akan memiliki suami, Papa akan melepaskan kamu kepada suami kamu, dan kamu akan membuatkan papa sama mama cucu, hahaha"
"Ah papa itu masih lama banget! Aku nggak mau nikah muda ah, nanti kalau melahirkan pasti sakit banget."
"Semua melahirkan pasti akan sakit sayang, tapi kamu tau nggak saat keluarnya bayi kamu, kamu bakal tersenyum, terharu, kamu akan menangis saat mendengar suara pertamanya"
"Benarkah?"
"Iya sayang jadi kamu jangan takut saat melahirkan ya"
"Baiklah pa aku nggak akan takut melahirkan lagi sekarang"
"Nah gitu dong anak papa"
"Wahh ada apa ini seru banget kayaknya" kama turun menapaki tangga dan duduk didepan keluarga Kimi yang sedang berkumpul.
"Siap om nanti pasti Kimi bakal jadi istri aku, dan aku akan menyiksanya sampai puas" Semua orang melotot melihat Kama.
"Becanda Om" Kama berjalan dan memeluk keluarga Kimi.
"Aku akan jaga sebaik mungkin anak kesayangan om ini dan aku juga akan menyayanginya bahkan lebih sayang dari diriku sendiri." Kimi terharu mendengarnya.
"Ya sudah, semoga ucapan kamu benar adanya, dan sekarang sudah pelukannya kita makan dulu lapar" ucap Papa Kimi dengan menepuk pundak Kama
***
"Lo cerita apa aja tadi dibawah sama tante dan om?"
"Gue diberikan pencerahan pagi tau!"
"Oh ya? Emang otak lo bisa cerah ya?" godanya.
"Begini, lo tau nggak kenapa mama nggak pernah mempekerjakan pembantu dirumah?"
"Hmm karena nggak ada uang mungkin" Kimi langsung memukul paha Kama.
"Kalo ngomong ngehina banget! Begini Kam mama nggak pernah nyewa pembantu karena mama ingin gue mandiri, biar apa coba? Biar nanti suatu saat, saat gue akan menikah, gue akan menjadi istri yang baik tanpa merepotkan suami gue nanti. Gue bakal bisa masak, ngebersihin rumah, semuanya gue bisa. Dan lo tau nggak nanti kalo gue bisa apa apa gue bakal di sayang terus sama suami gue" Kimi langsung memegang pipinya ketika membayangkan itu terjadi.
"Gue bakal Terima lo apa adanya Kim, lo bisa masak kek nggak kek nggak papa gue nggak keberatan"
"Gue berdoa itu bakal terjadi."
__ADS_1
"Lo harus nikah sama gue kan Kim,"
"Tergantung"
"Tergantung apaan lagi? Kayak pakaian aja digantung terus"
"Ya tergantung lah, nanti gimana nantinya, apa lo jodoh gue atau nggak. Tapi gue berdoa agar lo yang jodoh gue" Kama tersenyum mendengarnya
"Ya sudah yuk masuk udah mau naik aja nih matahari" Kama beranjak dari duduknya dan menggandeng tangan Kimi agar pergi dari bangku belakang rumah Kimi.
"Kenapa ya Kim siangnya kok cepet banget, gue mau lo disini terus" ucap Kama dengan menggelayuti tangan Kimi.
"Udah dong kita udah banyak cerita pagi ini di taman, masak nggak puas sih!"
"Nggak puas dan nggak akan puas!"
"Kimi mobilnya udah siap koper kamu juga udah mama taroh dibagasi, ayok berangkat," teriak Mama Kimi dari arah dapur.
"Iya ma" serunya
"Udah nggak usah sedih gitu, gini aja gue bakalan kesini besok atau lusa, emm atau lo yang ke Bandung aja?"
"Lo nggak pamitan sama keluarga gue dulu Kim"
"Ih iya lupa!"
"Mama! Kita belum pamitan sama mama papanya kama lho" teriaknya
"Lah ini kita mau pamitan, ayok makanya Kimi cepetan dong"
"Ayok Kam" Kimi menarik tangan Kama agar mengikutinya.
***
"Hai Jess, ini bekal ku untuk kalian" ucap Mama Kama menyerahkan bekal makanan yang sempat dibuatnya
"Eh makasih mbak, ngrepotin kan jadinya" Mama Kimi menerima beklnya.
"Nggak ngrepotin sama sekali, kok Jess hati hati dijalan ya semoga balik lagi kesini"
"Iya mbak semoga saja"
"Kama muka kamu jangan ditekuk terus gitu dong" ucap Mamanya
"Aku nggak mah kalian pindah" Kama menyenderkan kepalanya dibahu mamanya.
"Tenang saja Kama nanti kami akan selalu kesini kok" ucap Mama Kimi.
Kama dan Kimi berpelukan, begitu pula Mama dan papa mereka. Kimi masuk ke mobil bersama orang tuanya dan melambaikan tangannya melalui kaca mobil.
Terlihat Kama yang masih saja menekuk wajahnya saat Kimi sudah pergi menjauh darinya.
Bersambung...
__ADS_1