Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Waww imajinasi hebat


__ADS_3

"Kenapa muka kamu kusut Kam?" tanya Sasa setelah keluar dari sekolahnya hendak meninggalkan sekolahnya.


"Kam kamu kenapa sih!" seru Sasa karena tidak mendapati jawaban dari Kama.


"Lo nggak usah bikin gue mumet deh Sa, lo pulang sendiri sama! Gue mau keluar sebentar" Kama langsung meninggalkan Sasa sendirian disana untuk mengambil motornya dan pergi melewati Sasa tanpa memperhatikan Sasa.


"Kama kenapa ya?" dengan wajah sedihnya Sasa menghentikan taksi yang berlalu didepannya.


***


Kama frustasi karena sejak tadi dia menghubungi Kimi namun tidak kunjung ada jawaban dari Kimi, dan hanya operator saja yang selalu berbicara.


"Gue benci situasi ini! Ahh! " teriak Kama di taman dekat sekolahnya.


Hampir satu jam lamanya Kama masih saja duduk di situ dengan tangan yang masih saja terus menghubungi Kimi.


Kama menyerah dan meletakkan ponselya dengan keras disampingnya. Hingga terdengar ponselnya bergetar, ada yang menelopnnya, Kama masih saja menundukkan kepalanya dia berpikir bukan Kimi yang menelopnnya melainkan mamanya. Karena suara itu terus menggema ditelinga Kama, akhirnya dia mengangkat telponnya.


"Apaan sih ma! Aku akan pulang nanti!" seru Kama dengan nada yang menggelegar.


"Hallo Kam? Ini gue" lirih Kimi dari seberang sana. Kama tercengang kerutan didahinya mendadak hilang, dia langsung menatap layar ponselnya dan melihat nama Kimi yang tertera di sana.


"Akhirnya Kim lo angkat juga panggilan gue, kenapa lo nggak bisa dihubungin ha! Gue seharian nelpon lo, nggak nyadar banget sih lo! Gue khawatir tau nggak! Kalo lo sakit hati disana karena Sasa tinggal di rumah gue, gue bisa jelasin Kim! Lo jangan diemin gue dengan matiin HP lo dong! "


"Santai aja Kam, gue bukan wanita yang lemah karena Sasa tinggal di rumah lo, gue nggak papa kok Sasa tinggal di rumah lo, itukan hak lo kan? Dan gue nggak sakit hati! Camkan itu baik-baik!"


"Beneran? Tapi lo kenapa matiin ponsel lo ha!" terisknya lagi, sampai orang yang keluar dari supermarket melihat ke arahnya. Kama langsung menundukkan kepalanya saat semua mata tertuju kepadanya.


"Nggak usah teriak teriak! Gue ada di belakang lo sekarang" Kama langsung membalikkan badannya, dan benar saja ada Kimi yang sedang tersenyum dengan tangan yang merentangkan ke arahnya.


Kama langsung beranjak berdiri dan langsung merentangkan tangannya sambil berlari ke arah Kimi dan menangkap Kimi. Kama sampai mengangkat tubuh Kimi dan berputar-putar layaknya dua insan yang sudah bertahun tahun tidak bertemu.


"Udah dong Kam pusing nih gue" Kimi menepuk-nepuk pundak Kimi agar berhenti. Kama menurunkan Kimi dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.


"Ayok pulang ngapain lo disini sendirian?"


"Gue bakal maki-maki lo kalo lo tanya kayak gitu"


"Ya udah skip aja maki annya apa lo nggak mau kangen kangenan dulu sama gue? Sekarang ayok pulang" Kimi menggandeng tangan Kama menuju motornya. Kama langsung mengambil tangan Kimi untuk melingkar di pinggangnya. Kama terus tersenyum saat berada di perjalanan.


"Kim gue seneng banget deh lo disini, lo kangen nggak sama gue?"


"Emm kangen nggak ya"


"Kalo lo bilang nggak sih nggak papa"


"Kenapa?"


"Karena aku akan selalu berusaha buat kamu kangen dan selalu kangen sama aku"


"Cih! Panggilannya aku kamu jijik gue dengernya haha"

__ADS_1


"Biar romantis. Bisa nggak kita ubah panggilan kita?"


"Ubah seperti apa tuh?"


"Kita pakai panggilan, saya dan anda"


"Lohh kenapa nggak pakai panggilan aku dan kamu"


"Karena, kita udah pernah pakai panggilan 2 itu, sekarang kita akan pakai panggilan Saya dan Anda."


"Ahh lucu"


"Coba lo pakai panggilan itu ke gue"


"Hai Kama, apakah anda suka saya disini?"


"Saya selalu suka bila anda terus bersama saya"


"Hahaaha" mereka tertawa di bawah teriknya matahari yang menerpa kulit mereka.


________________________


"Eh jangan turun dulu" Kama turun lebih dulu dari atas motornya. Berlagak seperti pangeran yang menurunkan kekasihnya dari kuda putihnya.


"Silahkan anda turun tuan putri"


"Baiklah seperti yang anda minta pangeran" dengan senyum yang terus terlukis dibibir keduanya.


"Eh jangan turun seperti itu, " Kimi mengerutkan keningnya saat kakinya hendak melayang ke kiri untuk turun. Kenapa? Tanyanya.


"Hahaha" gelinya saat mendengar kata formal yang terdengar dari mulut Kama. Lebih menggelikan lagi ada kata sayang di akhir kalimatnya. Kimi tertawa sekencang nya. Kimi mengikuti apa yang diperintah Kama. Setelah melakukannya, lantas Kimi langsung mengalungkan tangannya di leher Kama ketika Kama menggendongnya ala bridal style. Mereka tertawa senang setelah melepas rindu 2 hari, what? cuma dua hari? kangen? wkwk.


Kama dan Kimi masuk ke dalam dan menemui mamanya yang berada di meja makan.


"Eh kalian ngapain kayak gitu?" tanya mama Kama terkejut melihat kedatangan mereka dengan Kimi digendongannya. Sementara Sasa hanya tersenyum canggung saja melihat mereka.


"Karena kita bahagia, akhirnya kita bisa bersama"


"Kalian kayak nggak ketemu satu abad saja" ledek nya.


"Malah dua abad ma"


Mama Kama menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku anaknya.


"Ya udah sini duduk, makan siang dulu" Kama menurunkan tubuh Kimi dengan hati hati.


"Kayak pengantin baru aja kalian" ucap Mama Kama dengan menggelengkan kepalanya.


"Sebentar lagi akan jadi Ma" Sasa tersedak mendengar penuturan dari Kama. Dengan cepat Mama Kama mengambilkan minuman untuk Sasa dan menepuk nepuk pundaknya.


Kama dan Kimi langsung makan tanpa memperdulikan lagi tersedak nya Kimi barusan.

__ADS_1


"Ma aku ke atas dulu ya" Mama Kama menganggukan kepalanya.


"Ayok Kimi kita masuk ke dalam" Kimi menggelengkan kepalanya.


"Gue masih mau disini, lo aja sana yang masuk ke kamar"


"Ayolah Kim" Kama langsung menarik tangan Kimi agar mengikutinya. Kimi yang tertarik tangannya hanya mengikuti saja arah Kama menariknya


"Apa mereka masuk satu kamar tante?"


"Iya"


"Apa?"


"Eh maksudnya, apa nggak papa kalau Kama dan Kimi berduaan dikamar gitu?"


"Kamu tenang aja, Kama dan Kimi nggak mungkin ngelakuin hal yang berada di pikiran kamu kok Sasa" ucap Mama Kama kemudian beranjak berdiri.


"Tante masuk kamar dulu ya" pamit mama Kama kepada Sasa dan dianggukinya.


'Apa bener yang dikatakan Mama Kama barusan?' Sasa terus bergelut dengan pikirannya, sampai akhirnya dia menyerah tanpa mendapat titik temu yang jelas. Dia memilih untuk mengambil semua piring kotor di atas meja dan meletakkannya di wastafel cuci piring.


"Eh non ngapain? Biar bibi aja non yang bersihin" ucap pembantu Kama.


"Eh nggak papa kok bi, aku juga bisa kok bersihin ini sendiri" setelah berdebat dengan pembantu tersebut, akhirnya Sasa memilih untuk menyerahkan tugas cuci piring ke pembantu Kama.


***


"Kama kenapa kamu buka baju disini? Ternodai nih muka!"


"Hahaha"


Si Kama bener bener deh.


"Udah belum?" karena tidak mendengar jawaban dari Kama, dengan ragu ragu Kimi menoleh kebelakang dimana Kama berdiri.


Kimi kaget karena mendapati wajah Kama yang berada dibelakangnya dengan senyumannya itu.


"Lo kok ngagetin sih! Kalau gue jantungan gimana?"


"Kan tadi aku udah bilang panggilannya aku kamu dong, katanya saya anda jelek? terlalu formal"


"Gue spontan aja tadi, eh maksudnya aku spontan aja tadi."


"Hahahaha"


"Oh ya kalau kamu jantungan, aku malah seneng"


"Kok seneng?"


"Karena aku akan memberikan jantungku untuk kamu dan kita akan dalam satu tubuh bersama"

__ADS_1


"Waww imajinasi hebat, haha"


Bersambung...


__ADS_2