Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Cewek menyebalkan


__ADS_3

Hari berlalu tanpa adanya Kimi disamping gue. Gue menatap ke arah ponsel. Benar sekali. kita sedang melakukan video call.


"Oke bay" kata terakhir gue saat berpamitan dengan Kimi. Kimi sekarang berbeda, gue bisa merasakannya. Menutup telepon bersiap dan main ke rumah Rian.


-


-


-


" Wihh ada yang kesasar ke sini nih" ucap Rian ketika melihat Kama duduk di ruang tamu rumahnya.


"Banyak omong lo! Sini gue mau curhat" Rian duduk di depan Kama. Dia memperhatikan wajah temannya sedang tidak bersahabat dengan situasi.


"Cih, curhat kayak mama dedeh aja lo" ledek nya.


"Curhat dong mah"


"Iya dong"


"Hahaha." Kama tambah muak saja melihat candaan tak ada gunanya seperti ini.


"Gue serius bambang! Jangan mancing gue!" Kama melempar bantal sofa ke muka Rian.


"Santai Kam. Bik ambilkan minum" Tak butuh waktu lama pembantu rumah Rian datang membawa jus dan air putih.


"Kok cuma air putih bik?" tanya Rian keheranan.


"Buahnya habis den. Jadi adanya air putih"


"Udahlah Yan, nggak papa ini juga cukup kok" Rian memerintahkan pembantunya untuk masuk. ART itu menganggukan kepalanya dan berlalu. Kama langsung mengambil jusnya.


"Lah gue kira lo mau minum air putih"


"Kata siapa?"


"Kan lo tadi yang bilang tadi 'ini aja cukup kok bik' gitu kan!" seru Rian.


"Coba lo perhatikan kata-kata gue. Dimana gue mengatakan kalau gue akan minum air putih itu?" Rian langsung memicingkan matanya kesal. Dia menyahut air putih itu dan meneguk nya.


"Ayo ikut gue" Kama meletakkan jusnya. Berdiri dan berjalan keluar rumah Rian. Rian ikut berdiri dan mengikuti Kama keluar rumah.


"Kita mau kemana?" tanya Rian sambil menaiki motornya.


"Ke mana aja" Kama melajukan motornya meninggalkan Rian yang berdecak kesal.


"Nah kebiasaan orang Ini nih! Ditanya nggak pernah bener jawabnya! Huh!" Rian ikut melajukan motornya berada dibelakang Kama.


Kama berhenti diparkiran mall. Dia turun dari motor dan diikuti Rian dibelakangnya. Rian tersenyum senang. Pasti dia mau nraktir gue batin Rian.

__ADS_1


"Mbak pesen yang ini, ini, dan juga ini," ucap Rian sambil menunjuk ke gambar yang tertera dibuku menu.


"Lo mau apa Kam?" tanya Rian karena sedari tadi Kama tidak berniat memesan.


"Samaan aja" Pelayan itu menganggukan kepalanya setelah mencatat pesanan dia berlalu pergi dari sana.


"Lo yang bayar Kam" Kama menganggukan kepalanya saja. Dia enggan sekali berbicara.


Pesanan datang Rian makan dengan lahap. Dia melihat ke arah Kama yang memainkan ponselnya tanpa mau menyentuh makanannya.


Rian hendak mengambil piring yang masih utuh dengan mie nya. Dia menarik piring itu. Plak! Kama memukul tangan Rian yang hendak menarik makanannya.


"Gue diem bukan gue nggak lapar" ketus Kama. Kama meletakkan ponselnya dan memakan makanannya. Rian hanya menghela nafas kecewa karena tidak mendapatkan makanan Kama.


"Tadi nggak disentuh sekarang gue mau makan di rebut!" lirih Rian sambil memasukkan mie ke mulutnya dengan cepat. Kama memperhatikan mulut Rian yang menggerutu. Dia melirik saja dan melanjutkan makan.


"Yan" panggil Kama ketika makanannya sudah habis. Dia menatap ke arah Rian yang masih asik menghabiskan minumannya.


"Hemm"


"Ah emang nggak ada gunanya lo" Kama berdiri dan berlalu dari sana.


"Kam lo mau kemana?" Kama berhenti.


"Balik" singkatnya tanpa menatap ke arah Rian.


"Dasar tengil!" seru Rian.


Kama menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. Dia rebahan menghela nafas kasar. Dan dia mulai bangkit, menatap rumah Kimi. Dia termenung saja menatap ke arah rumah itu. Sampai suara yang membuat dia terbangun dari lamunannya.


"Eh bocil sini." seru Maya dari jendela rumah Kimi. Oh bukan rumah Kimi, sekarang rumah itu milik Maya. Kama menoleh ke sampingnya. Siapa yang dimaksud bocil tadi? gumam Kama.


"Lo! Sini!" Maya menunjuk ke arah Kama. Kama menunjuk dirinya sendiri. Maya mengiyakan. Kama berlalu pergi dari kamar dan menemui Maya ke rumahnya.


Tangan Kama mengambang hendak mengetuk pintu.


Saat Kimi disini mana mungkin nih pintu tertutup.


Dia mulai mengetuk pintu itu. Baru satu ketukan pintu itu sudah terbuka dan terdapat wajah Maya disana. Dia tersenyum kepada Kama.


"Kimi?" Kama melotot melihat ke arah Maya. Maya mengernyitkan dahinya.


"Oh e bukan. Sudahlah lupakan ayo masuk" Kama masuk duluan meninggalkan Maya yang menutup pintu.


"Jadi kayak gue yang tamunya disini" Kama hanya mengendikkan bahu malas.


"Ngapain lo nyuruh gue kesini?" ucap Kama to the point.


"Emm nggak papa sih. Gue mau nyuruh lo anterin gue ke mall aja" ucap Maya sambil berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Ke mall ngapain?" tidak ada sahutan dari Maya.


Maya turun dari tangga dengan pakaian yang lebih sopan. Bahkan dia berhijab.


"Hai Kakak kalau lo berhijab cantik juga ya" puji Kama.


"Gue emang cantik dari lahir. Nggak usah terlalu memuji" ucap Maya sambil berjalan menuju keluar rumah. Mama Maya datang dari dapur membawa minuman.


"Loh kalian mau kemana?" Mama Maya meletakkan minumannya ke atas meja.


"Mom aku pamit mau pergi ke mall ya" Maya menyalami tangan Mamanya begitupun Kama.


Maya mengucapkan salam dan dijawab mamanya. Kama dan Maya pergi meninggalkan kawasan rumah mereka dengan mengendarai mobil milik Maya.


"Hai bocil. Terimakasih karena sudah mau nemenin gue" ucapnya tanpa melihat ke arah Kama. Dia hanya fokus dengan menyetir melaju jalanan.


"Apa lo bilang? Bocil!" seru Kama tidak Terima dengan penuturan Maya. Dia menatap tajam ke arah Maya. Dan Maya hanya melirik nya saja dan tersenyum.


Sampailah di mall. Maya memarkirkan mobilnya, memakai kacamata hitamnya dan keluar dari mobilnya.


"Cih, sok keren!" Kama ikut turun dari mobil Maya dan mengikuti Maya di belakangnya. Dia mulai berfikir kalau dia di belakang kesannya seperti dia bodyguardnya Maya.


"Ngapain lo pindah?" Maya menoleh ke arah Kama yang berada di sampingnya


"Nggak papa" Maya hanya tersenyum sinis saja. Dia berjalan menuju toko pakaian. Kama menyamakan jarak langkahnya dengan Maya. Maya melihat-lihat pakaian yang tergantung disana.


Ngapain dia milih pakaian cowo? Ah mungkin buat pacarnya hihi


"Apa lo senyum-senyum gitu?" gertak Maya ketika mendapati mata Kama yang menatap ke arahnya.


"Jangan bilang kalau lo naksir sama gue!" Maya menunjuk ke arah Kama dengan jari telunjuknya.


"Cih, naksir apaan! Gue cuma aneh aja kenapa lo beliin pacar lo baju? Kenapa nggak dia aja yang beliin lo barang?"


"Wahai bocil. Dengarkan baik-baik perkataan gue! Gue disini beli baju buat cowo gue itu bukan urusan lo! Dan lo nggak berhak ngelarang gue sedikitpun!" ketus Maya dan menabrak tubuh Kama dengan sengaja.


"Gue merasa heran bagaimana cowo wanita itu? Apa dia ustadz? Ah pasti ustadz. Sampai sabar banget ngeladenin cewek galak kayak gitu"


"Daripada lo nggibahin gue gitu. Mending lo bantuin gue milih pakaian yang cocok" ucap Maya tanpa melihat kearah Kama. Tangan dan matanya masih sibuk memilih pakaian.


"Yang ini bagus kan?" tanya Maya sambil memperlihatkan pakaian yang dipilihnya.


Kama hanya menganggukan kepalanya tanpa menatap ke arah Maya. Jari dan matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Maya menyahut ponsel Kama dengan kasar. Dia langsung pergi ke kasir tanpa memperdulikan wajah Kama yang sudah memerah marah.


Setelah melakukan pembayaran Ke kasir dia pergi keluar. Memberikan telfon Kama kembali ke pemiliknya.


"Cepetan jangan lama-lama" ketus Maya dan berlalu meninggalkan tempat itu.


"Jadi cewek nyebelin banget!" decak kesal Kama dan memasukkan ponselnya ke saku depan celananya.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2