Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Nggak seru Kimi!


__ADS_3

Perjalan menuju Semarang. Kama dan Rian menggunakan motor mereka masing-masing. Mereka berhenti saat lampu rambu menunjukkan warna merah. Kama melihat sekitar, namun ada yang aneh. Ada sosok Kimi yang duduk di taman dekat rambu lalu lintas.


Kama menajamkan matanya. Namun suara klakson dari kendaraan lain membuat Kama fokos kembali dengan jalanan.


"Lo kenapa Kam?" seru Rian saat tengah berada di jalanan yang lumayan sepi. Kama menggelengkan kepalanya saja dan semakin cepat melajukan motornya meninggalkan Rian.


Ada yang nggak beres sama tuh anak kayaknya. Rian mulai mengejar Kama dengan menambah kecepatan laju motornya.


•••


"Assalamu'alaikum" Kama berdiri dengan mata celingukan ke dalam rumah.


"Lo bener nggak alamatnya Kam?" tanya Rian yang mulai risau akan salah alamat.


"Eh iya mas ada apa ya?" seorang paruh baya keluar dengan memegang sapu ditangannya."


"Maaf Bu apa benar ini rumahnya Bu Marry?" tannyanya dengan ragu.


"Maaf mas Bu Marry siapa ya?"


"Emm kalau nggak salah anaknya pemilik roti UTI"


"Owhh Bu Marry itu. Rumah Bu Marry tidak disini mas. Jadi Masnya tinggal lurus belok ke kanan terus ada perempatan masnya ke kiri, nah gang yang berwarna merah masnya masuk terus disanakan ada toko besar namanya UTI jadi masnya tinggal tanya saja disana biar jelas" jelas wanita paruh baya itu.


"Ohh jadi disana, maaf ya Bu jadi ngrepotin"


"Nggak apapa mas, lah masnya darimana ta?"


"Saya dan teman saya dari Jakarta Bu, jadi kami kesini mau ke rumah teman kami yang baru saja pindahan kemarin Bu"


"Ohh ndak namane Mbak Jessy ya?" Kama menganggukan kepalanya.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya Bu, terimakasih untuk infonya" pamit Kama dan dijawab sama-sama olehnya. Kama pun berjalan lagi ke arah motornya dan melesat ke arah dimana yang diberitahukan Ibu-Ibu tadi.


"Inikan toko UTI itu?" tanya Kama kepada Rian. Rian menganggukan kepalanya dan mulai turun dari motornya dan menanyakan alamat rumah nenek Kimi. Sudah beberapa kali mereka menanyakan rumah nenek Kimi hingga waktu malam sudah akan menunjukan pukul 9 malam, namun mereka belum menemukan dimana rumah nenek Kimi berada.


Tiba-tiba bugh.


"Mas! Kalau naik motor pelan-pelan dong! Lihat nih tangan aku lecet semua" ucap wanita yang tak sengaja terserempet motor Rian. Rian dan Kama turun dari motornya dan membantu wanita itu.


"Maaf mbak saya nggak sengaja, sakit?" dengan prihatin Rian berjongkok di samping wanita itu dan melihat tangannya.

__ADS_1


"Ya sakitlah punya mata nggak sih! lihat dong!" seru wanita itu tanpa mau melihat wajah orang yang menyempretnya barusan.


"Ya maaf. Emm gimana ya, saya lagi buru-buru nih mbak, emm gimana kalau saya kasih uang ganti rugi aja?" Rian sudah akan mengeluarkan dompetnya. Namun wanita itu menghalanginya. Mereka saling tatap.


"Ehem" deheman Kama membuat mereka buyar.


"Uang itu tidak bisa membeli segalanya!" seru wanita itu sambil berdiri dan melangkah seperti tanpa ada rasa sakit sedikitpun.


"Cewek disini apa seperti itu semua ya? Cih! Kalau semua cewek seperti itu gua ogah banget nemenin lo sampe ke sini."


"Udah nggak usah ngegrutu gitu, ayok berangkat. Mungkin itu jodoh lo haha" Kama mulai menaiki kembali motornya dan memasang helmnya.


"Hiiii nggak mau gue" Rian mulai menaiki motornya dan melajukan mengikuti Kama.


°°°


tok tok tok


"Semoga saja ini rumah yang terakhir kita kunjungi" Rian mengangguk.


Pintu terbuka terdapat Mama Jessy disana.


"Wah tante akhirnya aku sampai disini juga" Kama memeluk Mama Jessy dengan begitu eratnya sampai dirinya hampir kehilangan nafasnya. Untung saja Rian mengingatkannya. Dan Kama pun melepaskan pelukannya.


"Kimi" Kama berjalan mendekat ke arah Kimi dan merentangkan tangannya. Kimi pun langsung berhambur memeluknya.


"Udah pelukannya jangan lama-lama, ayok duduk di sana" Mama Kimi menunjuk ke arah ruang keluarga. Disana sudah ada nenek Kimi dan juga semua anggota keluarga berkumpul disana.


Kama dan Rian duduk. Karena Kama sudah akrab dengan orang tua Kimi jadi tidak butuh waktu lama untuk menyesuaikannya dengan keluarga Kimi yang lainnya. Tetapi yang paling mengeneskan disini adalah Rian dia sangat gugup sekali. Seperti hendak menghadapi ujian saja.


"Oh iya uti, ini namanya Rian dia temen sekelasnya Kama" Rian menyalami tangan nenek Kimi dengan canggung.


"Wah ganteng sekali anak ini" nenek Kimi mengelus kepala Rian kebelakang sama halnya dengan Kama yang diperlakukan seperti itu olehnya. Rian hanya tersenyum canggung.


"Kalian nggak leluasa sepertinya disini. Kimi ajak mereka ke taman belakang rumah ya" Kimi menganggukan kepalanya. Kimi mengajak Kama dan Rian ke taman belakang rumahnya.


"Kim lo nggak mau kasih kita minum gitu? Haus nih" Rian mengelus tenggorokannya.


"Oh iya lupa, sebentar gue ambilin dulu" Kimi beranjak berdiri dan masuk kedalam. Tak butuh waktu lama Kimi membawa cairan menyegarkan itu.


"Lah lo yang bener aja Kim, masak air putih doang" sewot Rian.

__ADS_1


"Kalo nggak mau nggak usah minum!" seru Kama dengan menonyor kepala Rian.


"Tumben otak lo pinter Kam, ada perubahan kayaknya gue tinggal disini" ucap Kimi sambil menuang air putih ke dalam gelas. Kama hanya tertawa saja mendengarnya. Kama dan Rian sudah menghabiskan air didalam gelas dengan cepat.


"Lagi" tawar Kimi, mereka menggelengkan kepalanya.


"Oh ya, ngapain kalian kesini?"


"Ya mau ketemu lo lah! Gitu aja kok nggak ngerti" gerutu Kama.


"Gue juga tau! Maksudnya ngapain kalian mau nemuin gue? Ada masalah?"


"Nggak Kim, kita kesini ya mau jenguk lo." ucap Rian.


"Emang gue sakit pakai dijenguk segala?"


"Emang orang yang di jenguk hanya orang sakit saja?" Kimi mengendikkan bahunya dengan malas.


"Lo tau nggak Kim perjuangan kita sampai sini?"


"Apa tuh?"


"Gue sama Rian pulang sekolah langsung kesini lho Kim. Gila jauh bener! Kalau kayak gini naik motor udah keluar asapnya mungkin ya. Besok lagi gue kesini naik pesawat tempur aja ah biar cepet."


"Kok pesawat tempur?"


"Karena kalau pesawat biasa nggak seru nggak ada tempur-tempurnya" ucap Kama nyleneh.


"Dan lo tau apa yang bikin gue kesel?" Kimi menggelengkan kepalanya.


"Gue udah nanya orang seratus kali Kim! Gila, ini rekor terbanyak gue cari alamat." Kimi menggelengkan kepalanya saja.


"Dan lo tau apa yang bikin gue kesel?" ucap Rian. Kimi mengatakan apa namun tak bersuara


"Gue nyrempet orang! Dan lo tau orangnya, kayaknya dia itu masih semumuran kayak kita. Dan dia lebih galak daripada guru BK kita"


"Oh ya? Seru juga cerita lo"


"Seru darimananya coba?"


"Hehe ya seru lah coba bayangin deh, kalian kan nggak pernah ngerasain rasanya cari alamat. Nah pas lagi cari alamat malah kesasar-sasar"

__ADS_1


Nggak seru Kimi!


Bersambung...


__ADS_2