Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Gimana ceritanya?


__ADS_3

"Gimana ceritanya atong nganiaya uti? Ceritain dong uti sama kita, gimana kehidupan uti dari kecil?" dengan antusias Brian mengatakan itu dan mendekat ke arah neneknya bersamaan dengan Kimi


"Kehidupan uti bermula bukan dari sini, nenek tinggal di pageruyung kabupaten kendal, saat masih kecil nenek memiliki tujuh bersaudara, da"


"What? Tujuh bersaudara? Banyak bener uti" ucap Brian


"Ssstt diam! Ayo uti lanjut ceritanya" Kimi menatap tajam ke arah Brian dan memperhatikan neneknya lagi.


"Uti memiliki 7 saudara dan uti anak yang ke tiga, saudara uti sudah memiliki cucu seperti kalian cantik-cantik dan ganteng-ganteng" ucap neneknya dengan mengelus kepala mereka.


"Masa kecil uti, sangat tidak enak, karena waktu uti kecil, kira kira waktu itu uti menginjak umur 8 tahun, uti sudah dihajar sama ibu uti, buyut kalian" sambil kepala menyandar di punggung ranjang.


"Dihajar gimana uti?" tanya Kimi.


"Uti sudah di suruh bekerja, bahkan uti jalan kaki kira kira sampai 3 kilo meteran dengan alas kaki yang tipis, bahkan biasanya tidak memakai alas kaki" Kimi nyengir ngeri membayangkan. Brian masih fokus menatap neneknya.


"Nenek berjalan, menyunggi kapuk, padi, kadang juga jagung. Bukan hanya itu saja, sampai uti dirumah, uti langsung disuruh sama buyut kalian buat jaga adik-adik uti yang masih kecil. Bahkan suatu ketika saat uti tidak sengaja menjatuhkan adik uti, uti langsung di pukul dengan tangan buyut kalian, sampai uti menangis sendirian, bahkan dulu kalau uti tidak mengaji malam maka tidak akan mendapat jatah makan malam" Brian mengambil teh di nakas dan meminumnya dengan mata yang masih menatap neneknya.


"Terus uti apakah dulu ada pembalut?" lirih Kimi namun masih bisa didengar oleh Brian sampai Brian hampir saja memuncratkan teh didalam mulutnya. Dian tersedak sampai membuat mata Kimi menoleh ke arahnya.


"Kok lo minum sih tehnya! Ini kan buat uti!" seru Kimi.


"Hehe saking asiknya dengerin cerita uti, sampai terlupa ini teh uti" ucap Brian dengan cengiran nya.


"Udah nggak usah ribut, habiskan saja tidak apa apa" Brian tersenyum senang dan menyuprut lagi tehnya.


"Dasar nggak punya malu! Ayo ti dilanjutin ceritanya, gimana yang tadi? Ada pembalut nggak jaman dulu? "


"Jaman dulu nggak ada pembalut, saat mens itulah hal yang paling tidak menyenangkan buat para wanita, mereka harus ke bolak balik ke sungai untuk mencuci kainnya"


"Ohh berarti dulu pakai kain ya ti bukan pembalut" Neneknya hanya menganggukan kepalanya saja.

__ADS_1


"Terus uti, dimana saudara saudara uti?"


"Semua saudara uti, masih tinggal di kendal, uti kesini karena mengikuti papa-papa kalian"


"Ohh, jadi kapan kita berkunjung ke saudara uti? Ayolah ti kapan kapan ke kendal ya" dengan antusias Kimi menarik narik tangan neneknya.


"Iya, nanti kita ke kendal kalau ada waktu luang ya" Nenek Kimi mengusap rambut Kimi.


krek


Pintu terbuka, Kimi dan Brian menoleh ke arah pintu, dan terdapat mama Kimi disana.


"Loh ibu kok belum tidur, terus nih Brian sama Kimi ngapain disini? Ayo buruan kalian tidur udah malem nih, besok kalian sekolah! Cepat Sana tidur" seru mama Kimi dengan berkacak pinggang


"Sudahlah jess, jangan teriak teriak udah malem nih!"


"Tapi mereka ganggu ibu, bu"


"Iya mama nih lagi dengerin cerita uti juga" sewot Kimi.


"Sudahlah bu, jangan membela cucu ibu terus, ayo sekarang kalian masuk kamar!" Kimi dan Brian menghela nafasnya, memeluk neneknya dulu dan turun dari ranjang dan berlalu keluar dari kamar.


"Jangan marah marah terus ma nanti otot mama keras lho hihi" lirih Kimi saat di ambang pintu dan langsung berlari ke kamarnya.


"Dasar anak itu! Udah ya bu, tidur yang nyenyak, aku keluar dulu" Mama Kimi menutup pintu dan nenek Kimi pun berbaring.


Kimi POV


Gue tidur terlentang dengan membayangkan bagaimana nasib malang uti saat menghadapi masa mudanya. Dengan memikirkannya saja membuat gue bergidik ngeri.


"Sungguh kejam kehidupan jaman dulu,"

__ADS_1


Gue mulai menutup mata, namun saat memejamkan mata, gue menjadi teringat akan diri Kama, Ya kama masih selalu saja berada di pikiran gue dan selalu di hati gue hihi,


"Sekarang gue udah jadi bucin akut ya hahaha" dengan masih ada gelak tawaku, aku mengambil HP yang di nakas dan melihat ada pesan dari Kama.


"Good night too Kamaku" gue membalas pesan ucapan selamat malam dari Kama. Setelah itu gue pun tidur dengan tersenyum. Gue bergerak tidur miring dengan memeluk bantal guling membayangkan bahwa bantal guling itu Kama.


Brian POV


Gue lagi memikirkan tentang sekolah gue, maksudnya mau sekolah dimana, apa gue harus tetap sekolah di jogja atau gue sekolah disini aja? Ah bodoh sekali kau Yan! Emm ini jam berapa ya? Jam 9 lebih? Kenapa waktu begitu cepat ya!


Gue masih saja bolak balik di dalam kamar karena merasa lelah dan pusing akhirnya gue duduk di pinggir tempat tidur.


"Oke gue mutusin harus sekolah disini aja, sekalian ada Kimi, gue bisa panasin tuh si Clara! Biar dia nyesel udah selingkuhin gue!" Gue menyeringai licik.


"Eh tapi Clara kan nggak sekolah disini! Ah bodo amat" Gue mengambrukan tubuh gue guna mencari tempat ternyaman diatas kasur gue.


"Dasar Clara bodoh! Ah kenapa juga gue harus mikirin dia terus sih!" Gue menggigit bantal guling membayangkan kalau itu Clara.


"Kalau gue pikir pikir lucu ya panggilan atong, haha, padahal harusnya kakung ya, oh ya gue inget banget saat gue ngomongnya belum lancar, Kimi malah ikut ikutan" Gue pindah topik, daripada harus mikirin Clara terus kan?


"Gue kok ngerasa aneh ya, apa bener dulu atong seperti itu sama uti? Kalau bener hapuslah semua dosa atong saat masih hidup ya Allah, dan semoga saja atong mendapatkan tempat surgamu ya Allah, amin" gue pun terlelap.


Author POV


Pagi hari di kota Semarang. Kedua anak itu, Brian dan Kimi sedang berlarian mencari handuk di belakang rumah. Mereka berebutan handuk padahal ada 2 handuk yang terpampang di depan mereka.


"Gue udah duluan ambil handuk ini Yan, lo ngalah dong, ini juga udah gue pakai kemarin" ucap Kimi sambil menarik handuk dari tangan Brian.


"Tapi kan udah gue duluan yang ambil!" Brian menarik lagi dengan keras sampai handuk pindah ditangannya.


"Ahh lo curang!" Kimi berusaha mengambil handuk itu dari tangan Brian yang sudah dinaikkan ke atas kepala. Brian berlari dan dikejar oleh Kimi. Kimi pun memilih berhenti dan mengambil handuk lain yang tersisa. Kimi berjalan masuk dengan mengerucutkan bibirnya dan menghentakkan kakinya.

__ADS_1


Brian Menggelengkan kepalanya melihat saudaranya yang masih bertingkah superti anak kecil. Brian pun masuk ke dalam rumah dengan berlari kecil.


Bersambung...


__ADS_2