Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Aneh


__ADS_3

Jam sekolah telah usai. Jey menarik tangan Kimi untuk mengikutinya. Kimi memberontak sekuat tenaga.


"Lepasin Jey! Kenapa sih lo!" Kimi memukuli lengan tangan Jey dengan tangannya. Seolah Jey tidak kesakitan karena tangannya di pukuli, dia terus berjalan dengan langkah kaki panjang dan menarik tangan Kimi untuk mengikutinyai.


"Jey sepatu gue lepas!" seru Kimi berbohong.


"Nggak usah aneh-aneh" ketus Jey. Jey masih terus menarik tangan Kimi hingga Kimi akhirnya capek juga memukuli tangan Jey yang tak kunjung lepas, karena tidak mungkin Jey melepaskan dirinya begitu saja.


Oh Tuhan salah apa diriku yang malang ini.


"Lo mau bawa gue kemana sih!" seru Kimi dengan menyeimbangi langkah kaki Jey yang lebar.


"Ke beskem" singkatnya.


Apa ini hari terakhir gue disini? Duh kenapa guru-guru nggak ada yang nolongin sih!


"Ini beskem lo? Yang bener aja!" seru Kimi heran karena Jey malah membawanya ke dalam perpustakaan. Jey melirik sinis ke arah Kimi. Kimi langsung menunduk saja. Jey membawa Kimi masuk dan mendudukannya di salah satu kursi disitu. Jey duduk di samping Kimi dan menatap Kimi yang celingukan.


Kimi bingung dan menyapu seluruh ruangan. Tidak ada orang disana kecuali Kimi dan Jey. Bahkan penjaga perpustakaan pun tak terlihat di sana.


"Lo jangan macem-macem ya!" Kimi bergerak ke kiri menghindari jika Jey akan berbuat seperti yang dipikirkannya.


"Lo diem!" ketus Jey. Kimi masih saja memundurkan tubuhnya dan juga kursinya hingga menabrak rak buku di sampingnya.


Sial kenapa perpustakaan ini sempit sih! Banyak banget bukunya!.


"Apa? Lo mau ngehindar dari gue? Nggak akan bisa!" terdapat senyum yang mengerikan bagi Kimi dari wajah Jey. Jey semakin mendekat ke arah Kimi


"Wow ternyata makhluk hidup tak bernyawa bisa bicara juga ya" ledek Kimi. Jey memicingkan matanya kesal.


Salah omong gue. Tapi bener kan? Dia itu makhluk tak bernyawa yang selalu bawa raga tapi tak pernah menunjukkan nyawa.


"Apa lo bilang ha!"Jey semakin merapatkan tubuhnya dan tubuh Kimi.


"Lo jangan macem-macem Jey! Gue akan teriak nih" Ancam Kimi. Jey terlihat tenang saja dan sekarang wajah datarnya itu kembali lagi. Kimi semakin menciut nyalinya. Jey mendekatkan wajahnya ke Kimi. Kimi diam saja dan bibir Jey berada di telinga Kimi.


"Kalau mau teriak, teriak aja. Gue nggak apapa kok" bisik Jey yang membuat Kimi spontan mendorong tubuh Jey menjauh darinya. Bahkan sekarang tubuh Jey sudah berada di lantai dan kursi yang ditempatinya sudah ambruk bersamanya.


"Nah Kan rasain lo! Udah ah gue mau balik! Dah Jeyy" teriak Kimi dengan berjalan menjauh dari Jey dan melambaikan tangannya.


Kimi menutup pintu perpustakaan mengambil ranting kayu dan menyelipkan nya di sela sela lubang yang mengaitkan pintu dengan pintu lainnya. Sehingga Jey tidak akan bisa keluar dari sana karena tergembok oleh ranting pohon.


"Semoga nggak ada yang ganggu lo ya Jey." Kimi berteriak diiringi dengan tawa yang mengejek.


Kimi berjalan dengan tenang karena menurutnya Jey tidak akan keluar dari sana. Namun naas saat hampir sampai di gerbang, Jey bisa keluar dan langsung menarik Kimi ke pelukannya.


Kimi melotot karena tidak menyangka Jey akan keluar dari kurungannya dengan cepat. Kimi memundurkan tubuhnya saat pelukan Jey sudah melonggar.

__ADS_1


"ehh lo mau kemana ha!" ucap Jey sambil menangkap tangan Kimi yang hendak berlari keluar dari sekolahan.


"Lepasin Jey!" Kimi mencoba membuka tautan jari-jari Jey dari pergelangan tangannya. Jey masih saja menatap Kimi tanpa mau melepaskan tangannya.


"Kenapa sih lo! Lo kalau naksir sama gue bilang dong! Jangan kayak gini caranya!" Kimi menunduk dengan tangan Kirinya yang mencoba melepaskan lengan tangan kanan.


"Gue nggak pernah naksir sama lo!" tegas Jey.


"Ya udah dong lepasin! Buruan!" Jey melepaskan tangan Kimi. Kimi mendapat kesempatan emas untuk berlari dengan sekencang-kencangnya.


Dia langsung memberhentikan taksi dan masuk ke dalam taksi. Taksi melaju menuju ke rumahnya.


Sampai dirumah Kimi langsung berlari ke dalam rumahnya tanpa memberi salam atau apapun itu.


"Kimi jangan lari hati-hati nanti jatuh lho" teriak neneknya.


"Iya uti" Kimi mulai berjalan tanpa berlari lagi setelah diperingatkan oleh neneknya.


Kimi berjalan dan masuk ke dalam kamarnya. Pondelnya berdering di dalam tas. Kimi mengangkat telponnya.


"Ada apa lice?"


Ini gue sedang di rumah Kama tapi Kama nya nggak ada. Kata nyokap Kama, Kama lagi disitu.


"Oh iya Kama lagi disini ada apa emangnya?"


"Loh Sasa kenapa?"


Sasa mau pamitan sama Kama katanya.


"Kenapa Sasa nggak telpon langsung aja ke Kama?"


HP Sasa meledak kecebur ke dalam bathup. Dan tlpn Kama nggak bisa dihubungi.


"Oh oke sebentar gue cari Kama dulu" Kimi berjalan menuju kamar sebelah yang ditempati Kama. Kama sedang meringkuk di atas kasur bersama Rian.


"Pantesan di tlpn nggak nyaut-nyaut disini rupanya."


Siapa Kim?


"Oh ini Kama lagi tidur. Bentar gue bangunin dulu" Kimi menghentikan telponnya. Dia menipuk kepala Kama dengan bantal guling disitu. Kama terbangun dan melihat ada Kimi di depannya.


"Kenapa Kim?" tanya Kama dengan menyipitkan matanya.


"Nih ada telpon buat lo" Kimi menyerahkan hpnya ke Kama. Kama mengambil dan meletakkan di telinganya.


"Hallo" Kama terus mengulang seperti itu tapi tidak ada jawaban dari sana. Kama menoleh ke arah Kimi meminta penjelasan darinya. Kimi menepuk jidatnya dan mengambil ponselnya mengaktifkan kembali mode mutenya.

__ADS_1


"Iya kenapa?"


Sasa mau pindah Kam.


"Terus?"


Ya Sasa mau pamitan sama lo oon!


"Oh kalau begitu selamat jalan" Kama langsung mematikan panggilannya dengan sepihak. Kama menyerahkan ponsel Kimi ke empunya.


"Udah?" Kama mengangguk dan tidur kembali.


'Cepet banget kayaknya'


Kimi meninggalkan kamar Kama dan kembali ke kamarnya. Kimi merebahkan tubuhnya dengan ponsel yang masih di genggamnya. Memejamkan mata berharap bisa melupakan bebannya.


Telpon berbunyi. Kimi enggan untuk mengangkatnya. Dia memilih untuk membiarkan berbunyi, menurutnya kalau tidak penting maka bunyi itu akan hilang dengan sendirinya.


Telponnya berbunyi terus Kimi langsung melihat layar ponselnya. Nomor yang tidak tersimpan di internal teleponnya.


"Siapa ya?" tanya Kimi ketika sudah mengangkat telponnya. Kimi masih saja mendengarkan telponnya. Kimi menautkan alisnya bingung karena tidak ada suara yang menyahut.


"Hallo, hallo, ini siapa ya? Kalau nggak jawab saya tutup telponnya" seketika itu Kimi mendengar bunyi helaan nafas seperti berat jika mengatakan sesuatu.


"Ini siapa ya?" masih sama hanya terdengar helaan nafas saja. Kimi mematikan panggilannya. Dia melempar ponselnya sembarangan arah. Kimi ketakutan.


Apa itu alien? Atau makhluk halus?


"Aaaaaa" Kimi berteriak dan menutup tubuhnya dengan selimut. Tiba-tiba ada tangan yang memegang selimutnya. Kimi langsung berteriak sekencang-kencangnya. Tangan itu malah memukul selimutnya.


"Dasar!" seru Kama. Kimi melihat siapa yang memukul dirinya dibalik selimut. Kimi langsung memeluk tubuh Kama.


"Kenapa lo?"


"Lo tau nggak gue hampir mati dimakan alien!" Kimi memejamkan matanya di leher Kama.


"Apaan lo itu? Lo pasti mimpi terus ngigo kan? Hahaha" Kimi menekuk wajahnya membuat Kama gemas saja melihatnya.


"Gue nggak mimpi! Tadi ada yang nelpon gue terus gue angkat. Gue dengerin terus kan. Gue dengerin dan Boom" Kama terjengit kaget karena Kimi mengatakan boom dengan keras.


"Hanya terdengar nafas seseorang kayak gini" Kimi mempraktekan saat helaan nafas didengarnya. Kama mangut-mangut kaku.


"Pasti itu alien, atauuu makhluk halus. Duh gue harus ganti nomor"


Aneh!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2