
Kama turun dari motornya dan menenteng ikan yang dibelinya tadi. Dia berjalan ke dapur tapi tidak mendapati Kimi disana. Dia meletakkan ikannya di wastafel cuci piring.
Kama berjalan menuju kamar Kimi. Dia melihat Kimi sedang tertawa sendiri dengan ponsel ditangannya.
"Lagi apa?" ucap Kama sambil berjalan dan langsung duduk di depan Kimi.
"Haa? Apa Kam? Lo bilang apa tadi?" gelagapan Kimi menyembunyikan ponselnya. Kama merasa heran dengan tingkah Kimi. Matanya melihat ke arah tangan Kimi yang berusaha menyembunyikan ponselnya.
"Lo kenapa?" selidik Kama.
"Ohh eee ini nggak apapa kok hehe. Emm gimana ikannya dapat?" Kimi berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Nggak usah ngelak deh Kim. Lo sembunyiin apa dengan ponsel lo?" Kama menatap tajam ke arah Kimi.
"Gue nggak sembunyiin apapa kok" Kimi memecet tombol off di ponselnya. Agar tidak menyala.
"Beneran? Lo nggak usah nutup-nutupin dari gue deh Kim. Coba lihat" Kama menodongkan tangannya di hadapan Kimi. Kimi melihat ponselnya dan berpura-pura memecet ponselnya.
"Nggak nyala Kam. Ah mungkin baterainya habis, Emm kalau gitu gue cas dulu ya" Kimi beranjak berdiri dan berjalan menuju charger.
Kama menarik tubuh Kimi hingga Kimi terjatuh di pangkuannya. Kama mengambil ponsel Kimi dan mengaktifkannya.
"Lo mau bohongin gue Kim?" Kama mendongak menatap Kimi.
"Lihat ini! Baterainya masih 60 persen" imbuhnya sambil memperlihatkan ke wajah Kimi.
"Ah iya ya tapi tadi mati kok beneran" Ucap Kimi sambil beringsut turun dari pangkuan Kama.
Kama tidak menjawab pertanyaan Kimi. Dia sibuk mengotak-atik ponselnya. Dia langsung memicingkan matanya kesal karena HP Kimi yang menunjukkan pesan dari Jey. Mereka bercanda. Pantesan Kimi tertawa sendiri tadi batinnya. Dan yang lebih mengesalkan lagi.
"Kim gue suka sama lo"
Pesan terakhir dari Jey. Pesan itu yang membuat Kama langsung menatap datar ke arah Kimi. Kimi menundukkan kepalanya sambil meremat jari-jarinya.
"Apa ini?" tanya Kama sambil menunjuk pesan terakhir dari Jey.
"Mana gue tau! Gue kan kentang" ceplos Kimi. Masih bisa-bisanya bercanda! Batin Kama.
"Lihat dong kan gue nggak jawab pesan itu!"
__ADS_1
"Kalau lo jawab, lo mau jawab apa?"
"Yaa gue mau jawab, gue udah punya lo gitu dong! Gue nggak akan khianatin lo Kam. Lo tau kan?" Kama mangut-mangut mengerti.
"Gue pegang janji lo. Dan ponsel ini gue sita!" tegas Kama.
"Lahh kok disita! Ahh Kama, jangan kayak gitu dong. Kok lo kayak Mama sih! Suka sita-sita barang orang" Kimi menggelayuti tangan Kama dengan memasang wajah cemberut.
"Gue nggak akan terpengaruh dengan wajah lo Kim. Dan ini gue akan kembalikan setelah gue ketemu sama orang yang bernama Jey itu"
"Yahh lama dong! Aaahh Kama. Ayolah" Kimi menarik-narik tangan Kama.
"Sekali nggak tetep nggak Kim" Kimi cemberut. Dia menundukkan kepalanya mencari cara agar hpnya dapat diselamatkan dari genggaman Kama. Tapi tidak ada ide yang benar-benar cemerlang dari pikiran Kimi.
"Oke kalau lo nggak mau kembalikan HP gue. Gue bakal ngadu sama tante. Dan juga gue bakal marah sama lo selama gue disini. Gue nggak akan biarkan lo tidur sama gue lagi!" senyum sinis terbesit di wajahnya. Dia melihat wajah Kama yang berubah pias. Kimi sangat puas melihat wajah tak berdayanya Kama itu.
"Oke kalau gitu. Terserah lo mau lo bilang sama nyokap kek atau siapapun itu. Dan gue bisa kok tidur sendiri nggak perlu ada lo! Dan HP lo ini tetep gue sita!" senyum Kimi langsung pudar. Ancaman yang dia buat tidak berpengaruh rupanya.
"Bay" imbuh Kama dan pergi keluar dari kamar Kimi. Dia kembali ke rumahnya. Kimi langsung tengkurap di atas kasur dan memukuli bantalnya.
"Kimi! Ngapain lo disini ha! Gue udah bersihin ikannya tuh. Sekarang lo masak sana!" teriak Brian kepada Kimi yang malah bergelut dengan bantalnya.
"Ngapain lo disini ha! Keluar! Gue nggak mau masak! Gue nggak bisa masak!" seru Kimi sambil beranjak berdiri dan mendorong Brian keluar kamar.
"Tapi, " Brian hendak berbicara tapi Kimi sudah menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Salah gue apa coba?" Brian menggaruk kepala belakangnya. Terpaksa dia harus memasak sendirian. Dan untung saja dia bisa masak.
Sementara di rumah Kama.
Kama sedang menusuk-nusuk lubang yang terdapat kartu SIM dan juga memori agar terbuka dan setelah terbuka, Kama memasukkan kartunya ke dalam ponselnya.
Kama sudah membeli kartu SIM baru dan menyalin semua kontak yang masih berada di kartu ponsel lama milik Kimi. Tentu saja kontak Jey tidak dimasukkan ke sana. Masih cemburu mungkin?
Kama berjalan menuju rumah Kimi dengan senyuman yang mengembang dibibirnya.
"Kimi, buka dong ini gue mau kembaliin HP lo" ucap Kama dengan selembut mungkin sambil mengetuk pintu kamar Kimi.
Pintu terbuka, mendapati wajah yang cemberut berubah menjadi sumringah. Kimi langsung merampas hpnya dan membawanya ke dalam kamar. Kimi duduk dan melihat-lihat ponselnya. Ada yang aneh batinnya.
__ADS_1
"Kok semua chatingan kehapus semua. Dan cuma ada grup-grup aja yang ada" protes Kimi sambil mengotak-atik medsos lainnya.
"Gue masih cemburu tau! Jadi gue hapus semua chatingan nya. Tapi kan ig lo, " lirih Kama. Belum sempat Kama melanjutkan ucapannya Kimi langsung memotongnya.
"Apa!" Kimi langsung mengecek ignya dan syukurlah followersnya tidak hilang. Kimi mengelus dadanya dan membuang nafas lega.
"Untung saja. Ah nggak papalah pesan gue ke riset semua yang penting semua followers gue nggak hilang hihi" Kama keluar dari kamar Kimi dan turun ke bawah. Semua orang sudah selesai makan. Cuma Kama Brian dan juga Kimi yang belum makan.
"Wahh sudah habis semua nih tante" ucap Kama.
"Kamu sih nggak dari tadi makannya" ucap Mama Kimi sambil berdiri dan mengambil semua piring kotor di atas meja.
"Ya sudah sini makan, tante ambilkan lele gorengnya" imbuhnya.
"Eh nggak usah tante, aku bisa kok ambil sendiri"
"Ya sudah, sekarang kamu panggil Kimi dan Brian untuk makan"
"Siap tante" kama menunjukkan sikap hormat kepada mama Kimi. Dia hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum saat melihat Kama.
Kama berjalan menuju kamar Brian. Kama mengetuk pintu dan Brian menyuruh masuk. Melihat siapa yang datang membuat mood Brian jadi rusak.
"Ngapain lo kesini?" ketus Brian.
"Haha, santai lagi. Gue kesini disuruh sama nyokap Kimi tuh. Lo disuruh makan" ucap Kama smbil berjalan menuju Brian yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Lo aja sana makan! Gue sibuk!" usir Brian dengan mengayunkan tangannya meminta Kama utuk pergi.
"Alah yang bener? Nanti kalau habis lo nggak dapat jatah makan lho. Sampe siang tuh tahan lapernya" ledek Kama dengan tertawa.
Duh bener juga mana kuat gue tahan lapar. Ah gengsi juga sih kalau ngakuin.
"Heyy ngapain lo bengong? Ah gue tau mesti lo mikirin kalau ucapan gue bener adanya kan?" ucap Kama sambil menunjuk Brian.
"Ahh udah sana! Gue bilang sibuk ya sibuk! Lo aja sana yang makan!" Brian menendang tubuh Kama dengan kakinya.
"Ohh, oke kalau gitu." Kama beranjak berdiri dan saat diambang pintu dia berbalik lagi.
"Apaa!" ketus Brian.
__ADS_1
"Nanti kelaparan lho, hahaha" Kama berlari sebelum mendapat amukan dari Brian. Dan benar saja, Brian melempar bantal ke arahnya. Untung saja dia sudah kabur.
Bersambung...