
Mall Jakarta.
"Kam gue laper" ucap Kimi sambil memegangi perutnya.
"Kan gue udah bilang sarapan dulu tadi. Lo sih nggak mau dengerin ucapan gue! Gini kan jadinya" seru Kimi.
"Ayo ah makan nggak usah cerewet" Kimi menarik tangan Kama menuju food court di mall itu.
Mereka memesan duduk dan makan. Oh bukan mereka tapi Kimi saja yang makan. Kama hanya menjadi penonton dia saja sambil menikmati minumannya.
"Ayo Kam udah selesai" ucap Kimi sambil membersihkan mulutnya dengan tisu. Kama menoleh ke arah Kimi dan menyapu mulut Kimi yang masih ada saus di bibirnya dengan jempolnya.
"Hehe. Ayo" Kimi menarik tangan Kama keluar dari sana.
"Kita mau kemana dulu?" imbuhnya.
"Kita nonton aja yuk" ajak Kama. Kimi langsung menggelengkan kepalanya. Membosankan pikirnya.
"Ayolah Kim. Kita lihat film horor aja biar nggak bosen" ucap Kama mengerti kalau Kimi memang tidak suka kalau duduk kelamaan. Kimi menganggukkan kepalanya.
"Ayo" Kama menarik Kimi menuju ke pembelian karcis setelah itu ke penjualan makanan. Membeli cola dan popcorn sebagai penghias saat nonton nanti.
Mereka masuk saat pintu terbuka. Kama duduk di baris paling belakang. Kimi cemberut saja dari tadi karena mendapat barusan yang paling belakang. Dan paling parahnya lagi mereka duduk di paling pojok.
"Udah dong. Kusut bener tuh muka" ucap Kama sambil merangkul Kimi. Kimi menjauhkan tangan Kama dari pundaknya dengan kasar. Memakan popcornnya dengan cepat. Kama hanya menghela nafas kasar. Tangannya bergerak menjauh dari tubuh Kimi dan meminum colanya.
"Biar kita dapat merasakan Kim, gimana rasanya nonton dibagian belakang"
"Hahh! Mendingan gue cuci-cuci mata lihat toko-toko. Barang bagus, enak dipandang biar fresh. Daripada disini cuma nonton di bagian pojok belakang!" Kimi menyenderkan tubuhnya di punggung kursi yang ditempatinya.
"Nanti kita beli" Kama ikut menyenderkan tubuhnya.
Kimi tersenyum mendengarnya. Dia langsung melingkarkan tangannya ke tangan Kama dan menyenderkan kepalanya.
"Nempel cuma ada maunya saja" sindir Kama.
"Biarin" Mereka tertawa kecil. Sampai layar mulai menampilkan filmnya. Mereka menonton dengan serius. Kimi menutup matanya saat adegan hantu itu muncul mendadak.
"Oh gue tau makanya lo ngajak gue nonton film horor kayak gini. Pasti lo curi-curi mau meluk gue kan?" ucap Kimi lirih saat Kama memeluknya.
"Ya udah kalau nggak mau" Kimi langsung menarik kembali tangan Kama saat tangan itu hendak melepaskannya.
"Lo harus tanggung jawab udah ngajak gue nonton film kayak gini" Kimi memilih untuk menutup kepalanya di atas paha Kama.
"Tadi lo fitnah gue"
__ADS_1
"Udah ah diam! Hantunya udah pergi belum?" tanyanya dengan suara samar.
Kalau gue bilang nggak ada nanti Kimi bangun dong. Lebih baik nggak usah ah.
"Masih Kim, malah lebih serem daripada yang tadi" bohongnya sambil mengusap kepala Kimi.
"Bilang kalau udah nggak ada"
"iya"
Duh udah pegel nih paha gue. Kenapa Kimi nggak bangun-bangun juga sih.
"Kim udah nggak ada tuh hantunya" Kimi masih tidak bergerak. Dia diam saja bahkan dia nggak menyahut.
Kama masih saja menggoyangkan tubuh Kimi. Kimi mengulet dan memiringkan kepalanya.
"Yah molor lagi. Sabar Kam tinggal beberapa menit lagi hampir selesai filmnya." Kama meletakkan popcornnya di atas tubuh Kimi. Memakannya sampai selesai filmnya.
"Betah banget kayaknya Kimi di paha gue. Apa jangan-jangan dia ngiler lagi" Kama menunduk melihat wajah Kimi. Mulutnya tertutup. Syukurlah batinnya.
"Kim bangun udah selesai tuh filmnya. Kalau masuk kesini cuma mau tidur, mending kita balik ke rumah kan? Ayo dong Kim bangun. Betah banget kayaknya lo di paha gue. Nggak bangun juga! Ah gue tau Kim katanya lo mau beli ke barang-barang. Ayo mau nggak? Kalau nggak mau nggak jadi lho" Dan benar saja. Kimi langsung terbangun dari tidurnya dan langsung berdiri menarik tangan Kama.
"Ayo cepetan" ucap Kimi sambil menarik tangan Kama keluar dari bioskop.
Giliran kayak gini aja cepet banget.
"Kam beli kaos couple yuk" Kama menganggukan kepalanya. Mereka memilih tulisan yang pas untuk mereka.
"Mbak yang ini" kasir itu memasukkan bajunya ke plastik dan Kama membayarnya. Mereka masuk ke ruang ganti baju dan memakai kaosnya.
Mereka keluar setelah selesai. Senyum penuh kegembiraan melebihi gembiranya saat mendapati lotre.
"Hai saudari kembar gue"
"Hai juga saudara" mereka tertawa. Melihat nama yang tertulis di kaos mereka. 'Baby twins'.
"Kok baby ya kan kita udah gedhe" protes Kimi.
"Karena kita masih imut-imut kayak baby haha"
"Kita? Gue aja"
"Dasar" Kama mencubit hidung Kimi.
"Merah!" seru Kimi sambil mengelus hidungnya.
__ADS_1
"Nggak kok ijo malahan"
"Uuu" Kimi menyikut pinggul Kama.
Mereka berjalan keluar dari toko. Masuk dari toko satu ke toko yang lainnya. Dan berhenti saat memasuki toko mainan.
"Ngapain ke toko mainan?" Tanya Kama.
"Beli sambel! Ya beli mainan lah" ketus Kimi sambil melihat-lihat mainan yang berjejer disana. Kama hanya mengikuti saja apa yang dilakukan Kimi.
"Bagusan ini apa ini Kam?" tanya Kimi sambil menenteng boneka panda dan beruang.
"Bagus yang ini kayaknya" kama menunjuk ke arah boneka beruang.
"Tapi yang boneka panda bagus juga kan?" Kama menganggukan kepalanya. Kimi tersenyum dan menuju ke kasir. Tapi dia berbalik lagi dan mengambil boneka Barbie.
"Lo jangan main-main Kim! Lo tau kan gue paling takut sama boneka itu" Kama mundur beberapa langkah agar tidak melihat boneka itu.
"Oh iya gue lupa hehe" Kimi mengembalikan boneka Barbie nya. 'Padahal imut lho'.
"Emm" Kimi bingung memilih boneka apa lagi. Dan dia tertarik dengan satu paket serial animasi SpongeBob SquarePants. Dia mengambil itu dan berjalan ke kasir.
Selesai pembayaran Kimi keluar dan mendapati Kama yang duduk di bangku depan dengan ponselnya. Kimi meletakkan semua boneka di pangkuan Kama hingga Kama spontan memegangi semua barang itu.
"Ayo Kam lo yang bawa ya" dengan santai Kimi mengatakan itu. Kama meletakkan semua boneka itu di samping tempat duduknya.
"Buset. Bayak bener Kim" ucap Kama sambil menyentuh semua barang-barang itu.
"Iya dong. Udah ah ayo pulang udah pegel-pegel nih" Kimi melakukan olahraga kecil di depan Kama.
"Ya udah ayo. Barang-barang ini bawa setengah-setengah ya." Kimi menganggukan kepalanya. Nggak mungkin kan Kama bawa sendirian pikirnya.
Mereka menelpon Brian untuk menjemput mereka. Sampailah Brian di mall. Kama dan Kimi meletakkan semua boneka ke dalam bagasi mobil.
"Ngapain kalian beli barang sebanyak itu? Buat anak kalian nanti?" goda Brian melihat dari spion. Menatap Kimi.
"Benar sekali!" ucap Kama dan Kimi berbarengan sambil mendekat ke arah Brian. Kama sampai melotot kaget mendengarnya.
"Semoga saja" singkat Brian dan melajukan mobilnya kembali.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...