
Seperti yang dikatakan kemarin. Kimi hendak memakai gamis dan juga kerudung tentunya. Tapi gamis yang dipakainya sudah tidak muat. Sudah berapa tahun tidak dipakai? Kimi lupa. Apa harus pinjam punya uti? No! Lebih baik dia memakai rok dan atasan yang sopan.
Sekarang mereka sudah tiba di panti asuhan asih Semarang. Tentu saja dengan wajah Kama yang tak seceria tadi. Dia menekuk wajahnya seperti anak kecil. Kimi sudah kehabisan kata-kata mengatakan kalau dia sudah baik-baik saja. Kimi menepuk jidatnya ketika Kama malah menyuruhnya pergi ke rumah sakit saja.
Hal spele!
"Kalau lo nggak mau turun. Maka gue akan panggil Jey untuk menemani gue ke dalam" ancam Kimi dari luar mobil sambil melipat tangannya di atas perut.
"Ayo ah. Cerewet sekali!" Kama keluar dari mobil dengan kesalnya. Dia menggandeng tangan Kimi agar tidak berada jauh dari nya.
"Maaf Jey. Nama lo gue sebut-sebut agar bocah tengik ini mau nurut sama gue" batinnya dalam hati.
"Apa lo senyum-senyum gitu? Mau gue gendong?" tanya Kimi tapi ketus.
"Siapa yang mau di gendong!" Kama tidak mengguris-nya. Dia berjalan dengan cepat agar cepat selesai pula pekerjaannya.
Tujuan ke panti asuhan kali ini tidak ada kebahagiaan yang terpancar dari wajah Kama. Dia masih saja cemberut sampai acara itu selesai.
"Kayaknya ke panti asuhan nggak seseru kalau sama gue deh. Lebih seru sama wanita itu kayaknya" sindir Kimi ketika didalam mobil.
"Gue lebih suka sama lo Kim" jelas Kama tanpa menatap ke arah Kimi. Tangan beserta matanya sibuk terhadap jalanan.
"Terus? Kenapa lo nekuk muka lo kayak gitu sedari tadi?"
"Karena gue khawatir sama lo Kim!" kali ini Kama menatap ke arah Kimi. Kimi memalingkan wajahnya ke luar jendela. Dia melihat ke arah jalanan yang sudah mulai basah.
"Gerimis?" Kimi membuka jendela mobil dan dia menjulurkan tangannya ke luar dari mobil, merasai ada air yang mulai membasuhi tangannya.
"Jangan aneh-aneh!" Kama menarik tangan kiri Kimi yang berada diluar jendela.
"Gini nggak boleh, gitu nggak boleh!" gerutu Kimi cemberut sambil melipat tangannya di atas perut.
Kama melengkungkan bibirnya ke bawah. Dia tidak melajukan mobilnya ke rumah. Melainkan ke sebuah toko mainan. Kama mengambil payung yang berada di belakangnya, mengambilnya dan turun dari mobil. Membukakan pintu untuk Kimi.
__ADS_1
"Ayo turun" Ucap Kama sambil mengulurkan tangannya di hadapan Kimi. Kimi kasih saja menekuk kedua tangannya di atas perut.
Kama sudah kehabisan kesabaran. Dia langsung membuang payungnya dan mengangkat tubuh Kimi. Spontan Kimi langsung mengalungkan tangannya di leher Kama agar tidak jatuh.
"Mau minta gendong ternyata" Ucapnya sambil berjalan menuju ke toko.
"Siapa yang mau minta gendong! Kan lo yang gendong gue" Kama hanya tersenyum sinis saja.
"Kenapa lo nggak bilang gini 'Kama! Turunin!'" ucap Kama menirukan gaya Kimi.
"Ya udah turunin! Nggak ikhlas banget!"
"Emang udah sampe bodoh!" ucap Kama sambil merangkul leher Kimi dan menyeretnya menuju ke toko boneka. Kimi diam saja dan meletakkan tangan Kama di pundaknya. Kama tersenyum miring melihat Kimi yang memindahkan tangannya.
"Ayo Kam beli itu" Kimi langsung berlari ke arah boneka yang terpasang disana. Tangan Kama pun terlepas dari pundak Kimi.
"Jangan lari Kim!" Kama mengejar Kimi dan pas sekali, Kimi menginjak rok yang dipakainya dan jatuh.
"Kenapa lo kayak anak kecil sih!" gerutu Kama ketika menatap Kimi dari atas.
"Kam, lo yang bayar ya. Tanggung jawab loh ya, ajak gue kesini" ucap Kimi melirik Kama dan beralih lagi ke boneka yang sedang dia pegang.
"Lucu kan?" Kama menganggukan kepalanya.
"Gue mau beli ini aja. Oh bukan hanya ini. Gue mau beli ini untuk uti dan juga Jey? Ah nggk usah. Ayo gue beli ini aja" Kimi menarik tangan Kama menuju ke kasir. Pembayaran selesai dan mereka keluar toko itu. Hujan malah semakin deras dan payungnya entah terbang kemana.
"Lo sih! Payungnya kenapa tadi dibuang! Hilangkan jadinya" ucap Kimi sambil menggosok-gosokkan tangannya satu sama lain.
Kama tidak menjawab. Daripada dia harus berdepat ujung-ujungnya kan? Kama memeluk Kimi guna memberi kehangatan baginya.
"Dingin banget Kam. Beli jaket yuk" Mereka masuk kembali ke dalam dan membeli jaket yang sangat tebal.
" Nah kalau gini anget. Ayo jalan aja ke mobil. Kehujanan sedikit nggak apapa mungkin" Mereka berlari sambil menutupi wajah mereka dengan telapak tangan agar air hujan tidak mengenai wajahnya.
__ADS_1
Jaket yang dikenakan mereka basah. Loh? Kenapa tadi tidak membeli jas hujan.
Mereka melepas jaket yang melekat di tubuh mereka dan meletakkannya di kursi belakang.
Menyusuri jalan raya dengan pelan-pelan agar tidak terjadi hal yang tidak ingin terjadi. Sampailah mereka dirumah. Banyak sekali orang yang berada di rumah itu. Apa yang terjadi? Kenapa ada firasat aneh dihati Kimi.
"Ada apa ya Kim?" Kimi mengendikkan bahunya. Dia langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan berlari. Betapa terkejutnya dia melihat semua orang menggerumuni, mayat?
"Uti" Kimi tercengang hingga menjatuhkan boneka yang sedang dipegangnya. Dia melihat wajah neneknya yang sedang dibuka oleh Mamanya dengan derai air mata.
"Uti!" seru Kimi dan langsung berlari menuju ke arah neneknya.
"Kimi" Kama menjulurkan tangannya kedepan. Dia pun mengikuti Kimi hingga dia berhenti ketika melihat wajah Kimi yang sudah basah dengan bening-bening kristal yang menetes dari matanya. Dia teruduk lemas disamping Kimi dan melihat tubuh yang terbujur kaku di depannya. Matanya beralih ke arah Kimi yang sedang dipeluk oleh kedua orang tuanya.
Segala proses sudah dilakukan. Nenek Kimi sudah berada di tempat barunya. Mata Kimi masih saja mengeluarkan air mata. Dia berada di pelukan Kama sambil memejamkan matanya. Kama mengelus tubuh Kimi yang didekapnya, dia menenangkannya.
Semua keluarga meninggalkan tempat itu satu persatu. Kimi tak kuat lagi menegakkan kakinya tubuhnya bersandar di tubuh Kimi.
Dengan telaten Kama menuntun Kimi menuju ke mobil. Didalam mobil hanya terdengar keheningan. Semua keluarga bersedih dengan perginya nenek Kimi. Semua menatap kosong ke jalanan.
"Kim" panggil Kama, Kimi menoleh ke aarahnya dengan wajah datar.
"Yang sabar ya" Kimi menganggukan kepalanya dan menyandarkan kepalanya di pundak Kama.
"Kasihan sekali lo Kim" batin Kama dengan mengelus kepala Kimi dengan tangannya.
Kimi terlelap karena sentuhan hangat dari tangan Kama. Memindahkan kepala Kimi dari pundaknya menuju ke pahanya agar lebih nyaman Kimi tidurnya
"Apa Kimi tidur Kam?" tanya Mama Kimi sambil menengok kebelakang. Kama mengangguk tanpa menatap ke arah Mama Kimi. Mengalihkan pandangannya dari Kimi sangat berat untuknya.
"Biarkan Kimi tiduran di sana ya Kama. Kamu tidak apapa kan?" Kama menganggukkan kembali kepalanya.
Hujan ini seperti pertanda kalau ada hal buruk kan Kim? Gue juga merasa kalau semesta ikut bersedih jika lo menangis seperti ini. Tangis hujan.
__ADS_1
Bersambung...