Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Tak lagi canggung


__ADS_3

Sampailah Kama di rumah sakit. Dia bertanya ke resepsionis dan berlari menuju ke arah yang disampaikan. Dia berhenti ketika melihat Kimi yang tertidur di bangku itu dengan kepala yang sedang dielus oleh bibinya.


Berjalan pelan menuju ke arah mereka. Kama berhenti tepat di depan Kimi dan memperhatikannya dari atas. Kakinya tertekuk dan menatap wajah yang hampir tiga tahun tidak pernah dilihatnya secara langsung.


"Kam, tolong jaga Kimi sebentar. Saya mau ke kantin rumah sakit ini dulu" Kama menganggukan kepalanya setuju, diapun mengambil alih kepala Kimi agar diletakkan di pahanya.


"Sangat lama sekali. Sangat, gue nggak pernah ngerasain kepala Kimi dipangkuan gue. Dan sekarang dia berada di pangkuan gue. Kenapa takdir ini sangat rumit. Dulu, gue sangat tidak suka kalau Kimi tiduran seperti ini. Tapi sekarang, gue malah seperti menemukan uang 1 miliyar." Gumamnya dalam hati sambil terus menatap Kimi dari atas.


"Sangat canggung sekali gue mau ngelus kepala lo Kim" Tangannya mengayun di udara.


Kama pun tidak jadi mengelus kepala Kimi karena Bi Re datang.


"Kam, nih bantal, biar paha kamu nggak nyeri" Ucap Bi Re sambil menyerahkan bantal yang sempat dia minta kepada perawat di rumah sakit ini.


Mengangkat kepala Kimi dan meletakkan bantal dibawah kepalanya. Kama pun berdiri dan mempersilahkan Bi Re untuk duduk.


"Kamu mau kemana?"


"Saya mau ke toilet bi" Bi Re mengangguk dan memakan makanan yang dibelinya.


Kama berjalan cepat menuju ke toilet. Melewati lorong toilet dan membuka salah satu pintu disana.


Mencuci wajahnya dan menatap ke arah cermin.


"Siapa gue?"


"Kenapa rasanya beda sekali?"


Membasuh kembali,


Terdengar nafasnya terengah-engah sambil menatap ke Arah cermin kembali. Serasa lebih tenang, Kama mengelap wajahnya dengan tisu dan keluar dari sana.


Samar-samar dia melihat orang tuanya berjalan terburu-buru menuju ke arahnya.


"Mama, Papa"


"Kama, "


"Gimana keadaan Jessy? Dan dimana Kimi? Kenapa kamu disini?" Tanya beruntun dari mamanya.


"Kimi tidur ma, ditemani sama bibinya. Tidur dibangku depan ruang ICU."


•••


"Kimi," Ucapnya pelan ketika melihat Kimi yang sedang tertidur dari arah dekat. Dia berjongkok dan menatap wajah sahabat dari anaknya.


Tangannya bergetar mengelus kepala Kimi. Dia merasakan apa yang dirasakan Kimi.

__ADS_1


Papa Kama berbincang tentang kejadian yang menimpa Mama Jessy kepada Bi Re. Cukup jauh dari istrinya ketika dia berbicara. Sedangkan Kama, dia melipat tangannya di atas perut dengan matanya yang tak lepas dari Kimi dan juga mamanya.


Ada air mata yang jatuh menimpa pipi Kimi. Dia terbangun dan samar-samar melihat wajah Mama Kama. Kimi pun bangun untuk duduk dan mengucek matanya.


"Kimi, "


"Tante, " Kimi langsung memeluk tubuh Mama Kama dengan erat.


"Kok tante bisa ada disini?" Tanyanya setelah melepas pelukannya.


"Kama yang memberitahu tante sayang" Kimi pun mengalihkan matanya kepada sosok pria di depannya. Canggung dia menyapa.


"Hai Kam" Kama hanya menganggukan pelan kepalanya saja.


"Sini duduk tante" Mama Kama pun duduk di sampingnya.


"Hai om, lama tak jumpa" Kimi berdiri ketika melihat Papa Kama dan juga bibinya berjalan ke arahnya.


Kimi memeluknya sebentar dan melepaskannya.


"Mari duduk disini om"


"Terus kamu mau duduk dimana?


"Masih banyak bangku lain om, saya bisa duduk di bangku sana" Papa Kama mengangguk dan duduk disamping istrinya.


Kimi duduk di bangku lain dan meraba saku celananya. Tapi yang dicari tidak ada.


"Dimana ponselnya ya?" Masih gelagapan mencari di semua saku celananya.


Kama mendekat, duduk disamping Kimi.


"Lo kenapa?"


"Hah. Bikin kaget aja Kam." Kama hanya tercengir saja.


Kecanggungan masih melanda mereka. Tidak ada yang bersuara dan hanya terdengar bunyi roda dari kursi roda yang memecah kesunyian di antara mereka.


"Kenapa tante bisa kayak gitu?"


"Oh, Mama punya riwayat sakit jantung"


Kama menganggukan sedikit kepalanya. Suasana pun kembali sunyi tanpa ada percakapan yang terjadi di antara mereka.


"Kimi, ayo makan dulu." Ucap Bi Re yang sudah berada di depan mereka.


"Oh, apa Bi?" Bi Re tersenyum.

__ADS_1


"Ayo makan, kamu dari tadi siang belum makan kan?" Kimi menggeleng pelan.


"Makanya ayo makan." Kimi mengangguk dan berdiri.


"Kamu tidak mengajak teman kamu?"


"He? Oh iya Bi. Emm ayo makan Kam" Kama hanya tersenyum saja dan dia pun berdiri.


Mereka berjalan beriringan menuju ke kantin rumah sakit ini. Hanya Kimi beserta Bi Re saja yang berbincang. Sedangkan Kama hanya diam saja dan mengiyakan ketika Bi Re meminta pendapat darinya.


"Kamu mau makan apa Kam?"


"Terserah lo aja" Kimi mengangguk.


"Mbak 2 porsi mi instan plus telur ya"


"Yang goreng apa yang kuah mbak?" Kimi menoleh ke arah Kama, matanya meminta pendapat darinya.


"Kuah saja" Pelayan itu pun menundukkan sedikit kepalanya dan berlalu ke dapur memasak Mie-nya.


Tak butuh waktu lama untuk menyajikan mi instan nya.


"Silahkan mbak, mas. Dinikmati" Ucap sopan pelayan itu.


"Sebentar ya Kim, Bibi mau Terima telpon dulu" Kimi mengangguk.


Kama dan Kimi makan dengan tenang. Tidak ada pembicaraan dan hanya terdengar garpu, sendok, piring yang beradu.


"Dulu lo suka bikinin gue mi instan kan Kim?" Ucapan itulah yang semakin lama membuat kecanggungan diantara mereka mulai memudar.


Kimi tertawa mendengarnya.


"Benar sekali. Kan dulu nggak bisa masak, hanya bikin mie instan saja. Tapi enak kan?" Kama tertawa renyah.


"Apa sekarang lo udah bisa masak yang lain?"


"Bisa dong, omelet jagonya" Ucapnya membanggakan.


Mereka berbincang, tertawa, sampai tidak menyadari Bi Re sudah duduk disampingnya.


"Do not joke and laugh constantly, nanti kesedak lho" Ucap Bi Re yang langsung membuat Kama dan Kimi menoleh ke arahnya.


"Since when has your aunt been here?"


"Sejak kemarin malam" Ucapnya dan hanya terdapat cengiran dari keduanya.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2