
Jey. Seorang laki-laki kelahiran Korea, tampan dan disegani di kelas dan juga sekolahnya. Jey sangat pandai cerdas dan tidak nakal tentunya. Jey tidak pernah berpacaran. Kenapa seperti itu?
Ini ceritanya.
Dimulai saat Jey berusia 10 tahun.
Anak gemuk dan manja itu sedang berpergian menggunakan mobil mereka.
"Mom, Dad kita mau kemana?" tanya Jey ketika didalam mobil yang sedang melaju entah kemana, Jey tidak tahu betul.
"Kita akan ke rumah bibi kamu sayang" mamanya mengelus kepala Jey dengan penuh kasih sayang. Sedangkan papahnya hanya tersenyum saja melihat kedekatan ibu dan anak itu.
"Kenapa kita kerumah bibi?" tanyanya heran
"Eeemm kenapa ya" mama Jey berpura-pura berfikir. Jey langsung memukul pelan paha mamanya.
"Ahh Mom beritahu dong" rengek Jey sambil memaju mundurkan paha mamanya.
"Iya iya, Kita kerumah bibi karena bibi sudah memiliki anak sayang" mata Jey berbinar, hari yang ditunggu-tunggu dirinya akhirnya datang. Jey sering kali mengelus perut Bibinya. Dia sangat mengidamkan punya adik. Tapi mamanya menolak dengan alasan menunggu jika Jey sudah berumur 10 tahun, Itupun jika kehendak Tuhan.
"Beneran Mom?" mamanya menganggukan kepalanya
"Yeee aku dapat adik" Jey memeluk mamanya dengan erat. Jey sangat senang sekali dengan adanya bayi yang sudah keluar dari perut Bibi Angel ( bibinya). Mama Jey membalas pelukan anaknya. Ada rasa kasihan melihat Jey yang tidak bisa memiliki adik kandungnya sendiri.
"Mom kapan aku punya adik sendiri? Kata Mom kalau aku umurnya 10 tahun akan mendapatkan adik" Mamanya langsung berubah sendu. Bagaimana mungkin dia memberitahu Jey sekarang. Papa Jey juga sudah tegang sejak tadi, mereka bungkam dengan pertanyaan Jey
"Nahh kita sudah sampai ayo turun" ucap papanya mengalihkan pembicaraan. Jey dan kedua orang tuanya turun dari mobil dan mengambil kado di bagasi mobil.
Jey sangat senang, dia berlari menuju rumah bibinya. Dia sangat senang sekali sampai tidak sadar ada batu yang terinjak nya. Menggelinding dan Jey terjatuh. Jey menangis sekencang-kencangnya. Bagaimana mungkin dia kesakitan. Kalau mama papanya tidak membiarkan ada yang menyakitinya walaupun kukunya tergores sedikitpun. Karena sering dimanjakan kedua orangtuanya membuat Jey sangat manja dan sering menangis
"Ya ampun Jey!! Hati-hati dong kalau berlari, jalan aja ya. Jatuh kan jadinya" mamanya berlari ke arah Jey dan mengelus lutut Jey yang tidak tergores sedikitpun. Malahan celana Jey juga tidak robek sedikitpun.
Jey masih menangis sekencang-kencangnya yang membuat mamanya langsung meletakkan kado ke tanah dan menggendong Jey masuk ke dalam rumah bibinya.
"Udah dong Jey, jangan menangis terus cup cup ya" Mamanya berusaha menenangkan Jey yang masih mengeluarkan air mata dan juga terisak.
Ketika Jey melihat ke arah bayi mungil yang berada di gendongan anak dari bibinya. Jey langsung mengusap air mata nya dan turun dari gendongan mamanya. Jey berlari dan meloncat ke atas tempat tidur dan memainkan pipi bayi itu yang berwarna merah muda. Jey menciuminya dengan dan membuat bayi mungil itu menangis.
"Jey jangan ganggu dulu ya baby eca mau tidur" tutur bibinya dengan lembut dan menyusui kembali bayinya agar tidur kembali. Jey merasa bersalah dia langsung turun dari kasur bibinya dan memeluk mamanya yang sedang berdiri memperhatikan dirinya.
"Jey salah Mom" Jey kembali menangis dan mamanya membawanya keluar dari kamar menuju sofa dan menenangkannya.
"Sayang Jey, kamu nggak salah ya. Itu karena bayinya haus, jadi dia menangis makanya kalau baby Eca minum susu jadi diam ya" tutur mamanya. Jey sudah tidak merasa bersalah lagi. Jey mengangguk dan kembali ke kamar bibinya.
Jey menyentuh pipi baby Eca dan menciumnya dengan lembut. Baby eca tidak menangis lagi seperti tadi. Jey mengelus kembali pipi bayinya dan turun dari kasur.
"Ma aku lapar" ucap Jey sambil mengelus perutnya.
"Kamu lapar Jey? Padahal kamu baru makan 1 jam yang lalu lho" Jey cemberut karena tidak mendapatkan makanannya. Jey akan meneteskan air matanya saat itu juga. Mamanya mencegah sebelum terjadi. Mama Jey menggendong Jey keluar menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil cemilan dari sana.
"Jey suka?" Jey mengangguk dengan senang sambil mengunyah makanannya. Mamanya tersenyum senang. Tapi masih ada yang mengganjal di hatinya. Dia masih menatap Jey dengan tatapan sendunya dan mengelus kepala Jey.
__ADS_1
Entahlah kenapa aku nggak bisa mengungkapkan ini kepada Jey. Aku sudah terlalu sayang dengannya.
"Mom sudah habis aku kenyang, aku mau kembali ke kamar bibi" pamit jey sambil turun dari kursi dan berjalan menuju kamar bibinya.
Setiap hari setelah pulang sekolah, Jey selalu merengek kepada orang tuanya agar bisa bertemu dengan baby eca. Jey selalu berkunjung disana bahkan sekarang Jey akan tinggal di rumah bibinya.
"Jey kamu jangan ganggu Baby eca dulu ya, dia sedang tidur" nasihat mamanya karena Jey sudah berteriak nama eca dari depan rumah bibinya.
Jey melihat adik perempuannya dia sangat menggemaskan batin Jey.
"Kapan aku punya adik?" tanyanya pada sang mama.
"Jey sayang, kamu kan sudah punya baby eca jadi kamu nggak perlu adik lagi ya. Susah lho jaga adik 2 nanti mereka berantem dan kamu yang akan kesusahan mengurusnya nanti ya" tutur mamanya.
Jey mengangguk. Hari demi hari dilalui Jey bertumbuh semakin dewasa. Sekarang umur Jey sudah 13 tahun. Jey menghabiskan hari-harinya dengan bermain dengan Eca. Sekarang Eca sudah berlari kesana kemari. Saat ini di taman samping rumah bibinya.
"Eca, jangan lari-lari dong udah ya larinya" tutur Jey kepada Eca. Eca berhenti dan menundukkan kepalanya. Eca menangis, Jey melototkan matanya dia langsung menggendong Eca masuk ke dalam rumah.
Dalam rumah sudah ada bibi beserta suaminya dan yang lebih mengherankan lagi mereka membawa koper dan peralatan bayi Eca. Jey bingung dengan semua koper yang mereka bawa.
"Bibi mau kemana?" tanya Jey dengan masih menggendong Eca.
"Kemarikan Eca sayang" Jey menyerahkan Eca kepada bibinya.
"Bibi mau keluar negeri Jey" Jey langsung menatap tajam ke arah mamanya.
"Kenapa?" sekarang Jey menghadap ke bibinya.
"Kapan?"
"Emm kalau kamu sudah besar nanti ya" bibinya mensejajarkan tinggi badan Jey dan menjawil hidung Jey.
Jey diam saja saat keluarga bibinya berpamitan. Jey pulang bersama mama papanya. Jey mogok bicara dan bersikap dingin kepada keluarganya.
Orang tuanya khawatir terhadap kondisi Jey. Apa mungkin karena ditinggal Eca pergi? Entahlah mungkin saja seperti itu.
Saat dimeja makan Jey mulai mengeluarkan suaranya.
"Iya sayang, kamu perlu apa?" dengan antusis mamanya menjawab.
"Kapan aku punya adik sendiri" dan ya pertanyaan ini tidak akan pernah bisa dijawab oleh mereka. Mereka bungkam Jey melihat mereka yang menundukkan kepalanya tanpa mau menjawab pertanyaannya. Jey tidak menghabiskan makanannya dan langsung turun dari kursi dan masuk ke kamarnya.
2 tahun kemudian. Jey tumbuh dengan ketampanan dan juga bentuk badannya yang bagus namun Jey masih bersikap dingin kepada keluarganya. Jey selalu berdiam diri di dalam kamar menghabiskan waktu hanya untuk membaca. Bahkan Jey jarang sekali bergaul dengan teman-temannya. Bahkan sepertinya tidak pernah.
Pintu kamar diketuk. Jey tidak pernah mengizinkan siapapun masuk ke kamarnya. Karena Jey tidak menjawab. Pintu terbuka dan terlihat Mamanya sedang membawa jus di tangannya. Jey hanya melirik ke mamanya sebentar dan mengalihkannya lagi ke bukunya.
"Jey" panggil mamanya. Jey masih saja diam. Mama Jey meletakkan jusnya ke nakas dan duduk di samping anaknya.
"Kalau nggak penting bisa keluar mom" ucap Jey tanpa melihat mamanya.
"Jey mungkin ini saatnya kamu tahu nak" Jey menatap ke arah mamanya. Terlihat raut wajah serius darinya.
__ADS_1
"Katakan" ketus Jey tanpa melihat mamanya.
"Hargailah orang tua ketika mau bicara Jey" Jey meletakkan bukunya dan menatap ke arah mamanya.
"Jey, mom tau kenapa kamu menginginkan seorang adik. Pasti kamu kesepian kan? Semenjak papa kamu nggak ada, kamu semakin dingin kepada mom Jey."
"Baiklah mom Jey nggak akan dingin lagi kepada Mom" mata mamanya berbinar. Mamanya langsung membuka dirinya. Jey masih saja diam tidak membalas pelukan mamanya.
"Jey Mom mau ngasih tahu sama kamu tentang kebenaran orang tua kamu" Jey mengernyit tidak paham. Bukankah kedua orang tuanya yang selalu bersama dia sejak kecil?
"Maksud mom apa?"
"Janji dulu ke Mom kalau kamu nggak akan meninggalkan Mom sendirian disini. Kamu akan selalu disamping Mom apapun yang terjadi" mamanya mengangkat jari kelingkingnya. Jey mengernyit tidak paham. Masa jaman sekarang masih aja ritual janji yang seperti ini?
Jey mengikuti saja, menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking mamanya.
"Sebenarnya Mama kamu yang sebenarnya bukanlah Mom Jey" Jey tercengan, Jey langsung memajukan tubuhnya sedikit ke arah mamanya.
"Jey, Mama kamu sebenarnya sudah meninggal saat kamu masih berumur 3 tahun" lirihnya.
"Siapa mama kandung aku?" Jey menatap tajam ke arahnya.
"Mama kandung kamu bernama Lemin, dia seumuran dengan Mom. Kami bersahabatan cukup lama, Kami selalu bersama hingga dia menikahi papa Kamu dan memiliki kamu Jey."
"Tunggu-tunggu jadi papa, asli papa kandung aku?" Mama elif mengangguk.
"Mereka menikah sudah 2 tahun tapi tak kunjung memiliki anak. Mama kamu selalu curhat sama Mom dia menangis hingga dia pingsan. Kami larikan mama kamu ke rumh sakit, Kata dokter mama kamu sedang mengandung kamu. Mama beserta papa kamu sangat bahagia, begitupun dengan Mom"
"Mama kamu sangat menyayangi kamu hingga akhirnya mama kamu kecelakaan koma dan akhirnya mama kamu meninggal" Elif bercerita dengan menutup mulutnya karena tak kuasa jika mengingat bagaimana mama Jey kesakitan.
"Kenapa kalian menyembunyikan ini" ucap Jey dengan dingin sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong nya.
"Mom dan Papa kamu tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini darimu Jey. Kami menyembunyikan ini karena kami sayang sama kamu"
"Jenis sayang apa yang menyembunyikan kejadian seperti ini dariku. Apa maksud kalian menyembunyikan ini dariku? Apa aku terlalu bodoh untuk mengetahui semuanya?" ucap Jey dingin.
"Jey bukan se, "
"Mom keluar aku mau sendiri dulu" Elif mengerti kalau Jey butuh waktu untuk menenangkan diri. Elif keluar dari kamar Jey setelah mengusap kepala Jey dan mencium keningnya.
Pintu tertutup Jey merebahkan tubuhnya dengan posisi miring, menatap kosong ke depan, tak terasa air matanya jatuh mengenai pipinya.
Keesokannya Jey semakin dingin kepada Elif bahkan Jey tidak bertegur sapa dengannya. Elif tidak kuat menerima ini semua. Anak yang sudah di asuh dan dimanjakan nya sedari kecil, sekarang mengacuhkannya.
Elif berdiam diri di dalam kamar dan menghembuskan nafas terakhirnya diatas kasur. Jey pulang sekolah, mendapati Mama Elif yang sudah terbujur kaku. Jey sangat merasa bersalah sekali dengan Mama Elif.
Jey menghantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir, mendoakannya dan memberi bunga diatas makamnya.
Inilah awal mula Jey tidak pernah tersenyum bahkan selalu bersikap dingin kepada semuanya. Jey meninggalkan rumahnya menjualnya dan pindah kerumah neneknya.
Bersambung...
__ADS_1