
Kama merasa sangat bahagia sekali pagi ini. Bagaimana tidak bahagia? Sekarang dia tidak bangun terlambat dan sekarang Kama sedang memakai menyisir rambutnya di depan kaca.
"Untung aja tante oon itu nggak ganggu gue malam-malam lagi. Hah senangnya. Akhirnya bisa ketemu Kimi lagi." Kama mulai turun ke bawah menemui orang tuanya yang sudah duduk di meja makan.
"Pagi ma, pa"
"Pagi" ucap mereka berbarengan.
Kama makan dengan lahap. Melihat anaknya yang sesenang itu membuat kedua orang tuanya khawatir mengatakan kalau tidak akan jadi pergi ke rumah Kimi.
"Emm Kama, " dengan ragu mamanya berucap. Kama menoleh ke arah mamanya.
"Ah sudahlah, habiskan dulu makananmu nanti Mama mau bicara sama kamu" Kama memakan kembali makanannya sampai cegukan karena tersangkut ditenggorokan tidak turun-turun.
"Kalau makan dikunyah Kama." ucap Mamanya sambil menuangkan air putih dari teko ke dalam gelas. Kama meneguk dengan cepat dan dia bernafas lega makanannya sudah turun.
"Ayo katakan ma, aku sudah habis nih"
"Tapi kamu janji nggak akan marah ya" Kama mengerutkan keningnya.
"Katakan aja"
"Emm, kita... kita nggak jadi pergi sekarang Kama"
"Ohh" Mama Kama langsung menatap lekat-lekat anaknya. Kenapa dia nggk marah?
"Kenapa kita nggak jadi ke rumah Kimi" tanyanya.
"Karena Papa kamu harus ke kantor Kama, tidak ada yang bisa nge-handle pekerjaan Papa. Jadi kamu mengerti ya" Kama mengangguk tipis saja.
"Ya sudah lah Pa mau gimana lagi kan?" Kama beranjak berdiri dan keluar dari rumahnya
"Mau kemana kamu?" seru Mamanya dari meja makan.
"Ke tante oon ma" jawabnya.
"Tante oon? Siapa yang dimaksud Kama tadi?" Suaminya mengendikkan bahu dan menggeleng tidak tahu.
"Assalamu'alaikum" ucap Kama sambil mengetuk pintu rumah Maya.
"Ngapain bocil itu kesini? Ah gue tau" Maya tersenyum sinis sambil memperhatikan tubuh Kama dari jendela. Maya bergerak berjalan menuju pintu, membukakan pintu sambil menjawab salam dari Kama.
"Tumben?" Maya mengerutkan keningnya heran dengan senyum sinis yang masih terbesit di wajahnya.
"Siapa May?" tanya Mama Maya sambil berjalan menuju ke arahnya.
"Oh nak Kama, silahkan masuk." Kama menganggukan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Kenapa kamu nggak suruh dia masuk" lirih Mamanya. Maya menghela nafas malas. Dia menutup pintunya dan berjalan ke belakang.
__ADS_1
"Eh ayam eh ayam" latah Maya sambil menempelkan tangannya di dada. Maya kaget karena melihat Kama yang sudah berdiri di belakangnya. Terlihat dari wajah Kama yang senang sekali mengerjai Maya. Dia menampakkan baris giginya sambil tertawa kecil.
"Ah, bocil!" Seru Maya.
"Bukannya duduk malah di belakang gue!" imbuhnya sambil berkacak pinggang. Kama berbalik ke belakang dan duduk tanpa ada rasa dosa sama sekali.
"Mau sekarang? Katanya mau di lunasin minggu besok?" tanya Maya.
.
.
"Hei tante oon hapus nggak?" seru Kama sambil menunjuk ke arahnya
"Ah lo nggak bisa, wlek" ledek Maya sambil berlarian menghindari Kama.
"Kenapa sih lo nggak bunuh gue aja ha!" nada Kama yang sudah sangat jengkel.
"Hei bocil! Lihat tampang solehah gue ini. Mana ada gue mau bunuh lo!"
"Awas ya lo kalau nggak di hapus! Dasar tante-tante! Nyusahin aja bisanya" gerutu Kama sambil mencoba mengejar Maya.
"Udah ah Kam lelah. Ekhem, gimana kalau kita buat kesepakatan aja? Gimana?" Maya berhenti berlari begitupun Kama. Kama menaikkan sedikit kepalanya ke atas kemudian ke bawah secara cepat mengisyaratkan 'apa? '
"Emm, begini Kama. Menurut lo kalau lo nraktir gue seminggu maka gue akan hapus aib lo ini" ucap Maya sambil menunjukkan foto Kama.
"Kenapa cewek selalu matre sih!" seru Kama.
"Ke siapa? Ha? Katakan!"
"Ke orang yang namanya Kimi itu" senyum miring terlihat disana. Kama menggeram frustasi sambil meremas rambutnya
.
.
"Iya cepetan ah buruan. Bukan minggu ini gue pergi! Minggu besok! Dan ini semua, gara-gara lo!" ucap Kama smbil menuding ke arah Maya.
"Gue ganti pakaian dulu" Maya berlalu meninggalkan Kama dengan senyuman miring yang masih terbesit di wajahnya.
Maya selesai mengganti pakaiannya dengan yang sopan. Dia maju ke arah Kama dan memutar tubuhnya dihadapan Kama.
"Eh tante oon! Ngapain lo muter muter kayak gitu?"
"Dasar bocil! Nggak tahu atau apa? Gue lagi minta pujian lo! Cih, dasar bocil ya bocil aja!"
sabar Kama ini ujian.
"Udah cepatan ah. Lo cantik 100 persen! Puas ha!" seru Kama dan berjalan lebih dulu dari Maya.
__ADS_1
"Sangat puas sekali, hehe"
Mereka berjalan menuju mobil Maya. Masuk dan kali ini Kama yang menyetir mobilnya. Mereka masih saling menatap tajam di bagian kedua sisi mobil.
"Bisa nggak lo? Jangan main-main ya. Kalau gue lecet sedikit aja karena lo, maka gue akan tuntut lo biar lo masuk penjara. Dan juga lo gue denda 100 miliyar! Paham?"
"Kalau lo nggak bisa diem gue akan dorong lo, hingga lo kena aspal biar mati sekalian!" ucap Kama sambil masuk ke dalam mobil.
Kama meregangkan kedua tangannya dengan menautkan jari kanan dan kirinya.
"Wah, sangat diragukan ini. Kenapa lo pakai acara kayak gitu? Pasti lo nggak bisa nyetir mobil kan? Udah sana ah turun. Gue yang akan nyetir.
"Gue kayak gini guna keselamatan lo tante oon." Kama menyalakan mesinnya dan melajukan mobilnya.
"Hei tante oon. Lo tau nggak? Gue nyetir pertama kali kayak gini diajarin Kimi lho"
"Kimi? Maksudnya Kimi yang lo ceritain waktu itu?" Kama menganggukan kepalanya.
"Pantesan lo terus-terusan kayak bocil. Nyetir mobil aja harus di ajarin cewek haha"
"Jangan ngehina gitu tante. Walaupun gue diajarin sama cewek. Tapi gue ini pembalap handal lho. Bahakan gue bisa ngalahin pembalap Rossi."
"Benarkah itu?" Kama mengangguk dengan semangat.
"Sangat benar. Maka gue akan buktikan" Kama melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Membuat Maya mencengkram pundak Kama dengan erat.
"Lo jangan bahayain hidup gue Cil!" seru Maya sambil menutup matanya takut.
"Hahaha. Nyali lo aja udah ciut gitu gue banterin dikit doang" ledek Kama.
"Dasar bocil! Pelanin nggak!" Kama memelankan kecepatannya tentunya dengan senyum yang mengembang dibibirnya.
"Makanya jangan meremehkan diri Kama" ucap Kama dengan bangganya.
"Cih, cuma kayak gitu aja gue juga bisa"
"Apa lo bisa? Hahaha. Bisa nabrak iya. Dasar tente oon" ledek Kama sambil tertawa.
"Sekali lagi lo bilang oon maka gue akan lompat dari sini!" Ancam Maya.
"Kalau mau loncat ya loncat aja. Nggak ada yang ngelarang lo kok"
Maya sudah kehabisan kata-kata nya, dia bungkam dan menyandarkan punggungnya di kursi sambil melipat tangannya di atas perut.
"Kenapa? Nggak berani?"
"Diamlah Cil!" lirih Maya. Maya menikmati jalanan dari dalam jendela. Karena emosinya yang belum reda sampai dia nggak memperhatikan jalan. Plak! Maya memukul tangan Kama yang menyetir. Mereka saling memandang.
"Salah jalan!" ucap mereka bebarengan.
__ADS_1
*
Bersambung...