Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Kucing


__ADS_3

"Terimakasih" Ucap Kimi ketika menerima pesanannya.


Hanya deheman saja yang didengar Kimi dari suara Brian.


"Nggak ikhlas banget. Nanti aku aduin sama Bi Re lho"


"Sana kalau berani"


"Ck. Oh iya dimana gadis manis yang bersama kamu tadi? Siapa namanya? Eeehh" Kimi mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuk.


"Sabrina"


"Ahh iya Sabrina. Dimana dia?"


"Pulanglah. Muak lihat muka lo, jadi dia langsung pulang."


"Apa aku segitu buruknya sampe Sabrina kayak gitu?"


"Pikir aja sendiri"


Brian meninggalkan Kimi yang terbengong. Entah mengapa dia merasa Kimi tambah bodoh ketika kuliah di luar negeri.


Dengan tangan yang masih menggaruk kepalanya. Kimi pun berjalan menuju ke rumahnya.


"Bibi, baksonya nih. " Teriaknya sambil meletakkan plastik yang berisi bakso aci itu di atas meja ruang keluarga.


"Tolong bawain mangkok sendok garpu juga ya bi" Imbuhnya.


Bi Re datang membawa dua mangkok dan meletakkan di depan Kimi.


"Silahkan keponakan kesayanganku" Ucap Bi Re dengan senyum manisnya.


"Bi Re lebay" Hanya cengiran saja yang ditampilkan Bi Re.


Merobek plastik itu dengan kasar hingga kuah baksonya keluar.


"Yahh tumpah"


"Hadehh. Makanya, lain kali buka ikatannya bukan main robek aja plastiknya." Ucap Bi Re dengan tangan yang sibuk membuka ikatan plastiknya.


"Dann, kalau tali pati kayak gini. Kamu gigit dulu ujung sini. Terus, kamu robeknya pelan-pelan.


"Ya udah, ini buat kamu dan ini buat Bibi" Bi Re menggeser mangkok yang berisi penuh bakso beserta kuahnya. Bi Re pun mengambil bakso yang berantakan di atas meja dan memungutinya.


"Jangan dibuang, Bi. Biar aku kasih sama anjing sebelah"


Bi Re mengangguk dan menyerahkan bakso yang sudah kotor itu ke Kimi.


Sampai di belakang. Dia teringat saat berada di Jakarta. Rumahnya sama seperti ini bersebelahan hanya pembatas taman saja. Seketika dia membuang jauh-jauh pikiran itu.

__ADS_1


"Oh iya, kan belum punya nomornya Kama." Meletakkan bakso itu di atas tanah dan berjalan menuju ke dalam rumah.


Belum sampai di pintu, ada kucing yang mengeong sambil bergerak manja di kakinya.


Kimi berjongkok dan mengelus kucing itu. Membawanya jauh dari halaman rumahnya.


Saat Kimi berbalik dan melangkah, kucing itu mengikutinya kembali. Bahkan dia mencakar-cakar kaki Kimi seperti hendak meminta gendong. Berjongkok dan mengelus kepala kucing itu.


"Hai kucing tampan. Eh? Laki atau perempuan ya?" Kimi mengangkat sedikit kucingnya dan membalikkan badan kucing itu.


"Oh, ternyata laki-laki. Benar dong ya kalau dia tampan" Gumamnya sambil membalikkan badan kucing itu menghadap ke arahnya.


"Baiklah, kucing tampan. Kamu mau aku membawamu?" Kucing itu mengeong.


"Kalau begitu, aku akan mengangkatmu menjadi peliharaanku oke" Kucing itu mengeong kembali.


Kimi tersenyum dan berjalan senang menuju ke dalam rumah.


"Bibi, lihat nih kucingnya. Tampan kan?" Ucapnya ketika berhadapan dengan Bibinya.


"Kamu kenapa bawa kucing itu kemari? Itu kucing kotor Kimi"


"Haha. Ya tidak apapa Bi. Ini akan aku mandikan dulu biar bersih. Dan, aku sudah tidak mau makan bakso pedas itu. Bibi saja yang makan ya. Sebelum dingin"


Kimi berjalan menuju ke arah kamarnya. Membuka pintu dan masuk ke dalam kamar mandi.


Dia menarik kain yang berada di tangannya. Agar tidak terkena cipratan airnya.


"Ayo mandi sudah siap" Kucing itu meronta ketika hendak di masukkan ke dalam air. Dia mencakar tangan Kimi dan berlari.


"Hey boy come here!" Teriaknya kepada kucing itu.


Berhasil tertangkap. Kimi memandikan nya dengan paksa. Tangannya penuh dengan cakaran kucing. Dia mengambil handuk dan meletakkannya di punggung kucing yang sedang digendong nya.


"Nah kan kalau begini bersih, harum, sangat wangi" Ucap Kimi ketika mengendus tubuh kucing yang menggerak-gerakkan badannya.


Kimi menghandukinya dengan pelan-pelan. Kucing itu berteriak ketika tangannya tak sengaja menyentuh kaki kucing itu yang terluka.


"Kau terluka? Sebentar aku akan mengambilkan kotak P3K-nya" Mengambil kotak itu di laci nakas dan membuka betadine.


"Eh? apa nggak apapa kalau mengobatinya seperti manusia?" Kimi mulai kepikiran. Dia pun tidak jadi mengobati kaki kucing itu, dia memilih untuk membawanya ke dokter hewan.


"Baiklah kita tidak akan mengambil resiko, oke boy" Kimi pun menggendongnya dengan menggunakan handuk, nanti kedinginan pikirnya.


"Bibi, aku mau ke dokter hewan dulu ya," Teriak Kimi saat menuruni anak tangga.


"Dimana Bi Re?" Turun kedapur, masih sama tidak ada keberadaan Bibinya.


"Nggak ada. Mungkin sudah pulang. Nanti saja pamitnya, setelah pulang" Pamit? Setelah pulang?

__ADS_1


Mengambil kunci mobilnya, membuka pintu mobil itu dan meletakkan kucingnya di samping tempatnya duduk.


"Duduk dengan tenang oke, kucing tampan"


Dalam perjalanan Kimi berbicara terus dengan kucingnya. Curhat dan lain sebagainya.


"Baiklah sudah cukup ceritanya, kita sudah sampai. Ayo turun Boy"


"Bagaimana dok? Apakah serius lukanya?"


"Oh tidak, ini hanya tergores benda tajam saja, sebentar saya obati dulu" Kimi mengangguk dan memperhatikan dokter itu mengobati kucingnya.


"Dikasih makan ya Mbak, kurus begini"


"Ah iya dok. Ini kucing baru saja saya adopsi dok, jadi belum dikasih makan dok hehe" Dokter itu tertawa kecil. Menurutnya Kimi lucu.


"Oh iya dok. Apa disini jual makanan kucing?"


"Ada, sebentar saya ambilkan" Dokter itu berlalu dan mengambil makanan untuk kucing.


"Lihat itu Boy. Kamu sehat, ya, walaupun kamu itu kurus. Nanti setelah di rumah kita makan bersama oke"


Dokter hewan itu kembali dengan membawa kaleng yang berisi makanan kucing.


"Mau beli berapa mbak?"


"Biasanya berapa kalau ada pembeli beli makanan kucing itu? Dan ya, berapa kali kucing makan? Dan mandinya berapa kali sehari?"


"Sekitar umur 4 bulan, satu kemasan WHKS® Kitten Pouch cukup untuk sekali makan. Berilah dia 3 – 4 kali makan sehari sampai menginjak bulan keenam. Setelah itu, 2- 4 kali sehari sudah cukup untuk nafsu makannya. Ketika berumur 10 – 12 bulan, anak kucingmu sudah siap dengan pola makan anak kucing dewasa, kamu hanya perlu memberinya makan dua kali dalam sehari.


Sesuai dengan naluri nya, anak kucingmu akan lebih senang jika disajikan makanan segar, dengan suhu ruangan di mangkuk yang bersih miliknya."


"Ahh seperti itu ya dok. Jadi saya juga harus membeli mangkuknya. Kalau begitu saya beli dua mangkok ya dok. Nanti kalau satu hilang kan? Ahh atau mungkin nanti dia sudah punya istri, mangkok itu buat istrinya hehe" Dokter itu tertawa kecil mendengar penuturan dari Kimi. Diapun membawa dua mangkuk dan meletakkan di depan Kimi.


"Baiklah dok, terimakasih sarannya. Sepertinya saya harus berguru dengan dokter" Kimi menyalami tangan dokter itu. Mengangkat kucingnya dan berlalu darisana.


Sudah berada didalam mobil.


"Kita pergi ke Pak Mul dulu oke Boy."


Kimi pun melajukan mobilnya ke tempat sate berada. Berhenti dan keluar dari mobilnya.


"Pak, beli 2 porsi ya" Penjual itu menganggukan kepalanya dan mulai meletakkan daging ayam yang sudah ditusuk itu ke pembakaran.


"Ini neng satenya"


"Ah iya terimakasih Pak. Ini uangnya"


Melaju kembali..

__ADS_1


Brak!


...Bersambung......


__ADS_2