
Sekarang,
Bandung 6 Oktober.
Tiga tahun sudah berlalu. Semuanya berubah, tidak ada Kama yang selalu menggodanya. Menelpon setiap waktu, sering main ke rumah. Dan bahkan tidak pernah bertukar pesan. Kimi melanjutkan studynya di Perancis dan Sekarang Kimi yang melanjutkan perusahaan milik Papanya. Bukan perusahaan yang besar melainkan anak perusahaan milik keluarganya. Om refan menggantikan Papa menjadi Presiden Direktur di Perusahaan Utama.
Lihatlah pagi yang cerah ini terjadi kegaduhan antara anak dan Ibu di ruang tamu.
"No Mam! I don't like Kama! Now Kama has changed now, he's not the old Kama!"
"I'm not with Kama 3 years Mam! 3 years is a long time. Everything has changed. Nothing is like before"
"Apa kamu yakin berbicara seperti itu? Dengarkan Mama Kim. Kamu sudah dewasa, kamu bukan anak-anak lagi. Papa kamu sudah tidak ada disini. Kamu cuman tinggal sama mama sekarang."
"Umur Mama sudah tidak lama lagi Kim. Mama akan menitipkan kamu dengan keluarga Kama. Tolong jaga diri kamu baik-baik saat mama telah menyusul Papa kamu" Imbuhnya
Nafas mamanya tercekat, tangannya spontan memegangi dadanya yang sesak, diapun jatuh pingsan.
"Mama!" Histeris Kimi ketika menengok ke belakang dan melihat mamanya yang terpejam di atas sofa.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bibi, ya bibi" Kimi berlarian memanggil bibinya yang berada di samping kiri rumahnya.
"Paman, Bibi! Tolong"
Kimi berlarian mencari bibinya dan ternyata bibinya sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Kimi, kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?" Bibi Re mematikan kompor dan menatap Kimi yang berderai air mata.
"Mama, Mama Bi. Hiks hiks hiks"
"Kenapa dengan mama kamu? Jawab Kimi." Dengan tidak sabar Bibi refa menggoyang-goyangkan tubuh Kimi.
"Ayo kita ke rumah kamu" Langsung saja Bibi Re menarik tangan Kimi menuju ke rumahnya.
"Kalian mau kemana?" Tanya Paman Fan yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ayo ikut aku mas, mbak Jes, " Membulatlah mata paman Fan ketika mendengar nama kakak iparnya disebutkan dia berlari duluan meninggalkan Bibi Re bersama Kimi.
Sampai disana__
"Ya ampun. Mbak Jes!" Paman Fan mengecek wajah dan badan mama Kimi. Dingin dan juga pucat wajahnya. Diapun menggendong mama Kimi menuju mobil bersama istrinya dan keponakannya.
__ADS_1
"Mama" Kimi mengelus wajah pucat mamanya yang berada di pangkuannya.
"Wake up Ma, I can't live without mama. Wake up ma!" Teriaknya dengan derai air mata.
Sampai di rumah sakit___
"Dokter, suster tolong!"
Mama Kimi diletakkan di atas brankar dan di dorong menuju ke Intensive Care Unit (ICU)
"Mama, " Kimi terduduk di atas bangku yang berada didepan ruangan itu.
"Kamu yang sabar ya Kim, " Bi Re mengelus punggung Kimi
"Emang kenapa kok sampai mama kamu seperti itu"
Kimi malah menangis lebih keras dan sesenggukan.
"Sudah Kim, kalau nggak mau jawab pertanyaan Bi Re nggak apapa, nanti kamu jawab ya"
Kimi memeluk Bi Re dan membenamkan wajahnya itu di perpotongan leher Bibinya.
Sedangkan paman Fan pergi ke kantor karena ada urusan penting yang menyambutnya, dia pun meninggalkan mereka di rumah sakit ini untuk menemani Mama kimi.
"Apa sayang?"
"Tolong hubungi Kama, Mama mau menjodohkan aku dengannya"
Bi Re tidak bertanya tentang perjodohan itu. Memang ada keraguan di hatinya, sudah lama pacar Kimi itu tidak datang mengunjunginya. Kan ke Perancis? Sejak itu Kimi sudah tidak pernah menemui Kama dan sebaliknya.
Dia menjauh dari pandangan Kimi, panggilan terhubung,
"Hallo Kam, "
"Kamu bisa kesini? Ah, maksudnya ke rumah sakit ini? Nanti akan saya Shere melalui pesan"
"Baiklah secepatnya ya"
Panggilan terputus.
"Bi Re sudah menghubungi Kama, " Kimi tidak menjawab.
__ADS_1
Dia terbengong, menatap kosong ke arah depan seperti tidak bernyawa. Bi Re tau kalau ini akan membuat Kimi terpukul jika Mamanya akan tiada.
Semoga saja tidak terjadi seperti itu. Bi Re memegang pundak Kimi yang membuat Kimi tersentak kaget. Dia tersenyum memandang Kimi dan memeluknya.
"Bi, what if mama is not saved. Now my life will be an orphan."
"Sstt, apa yang kamu katakan? Kamu nggak boleh kayak gitu ya, mama kamu nggak akan kenapa-kenapa." Melepaskan pelukannya dan memandang Kimi dengan raut wajah sedih.
Kimi tambah sedih dan menangis lagi. Diapun ambruk di pelukan bibinya kembali.
Dokter keluar dan memberikan penjelasan kepada Kimi dan Bi Re tentang kondisi Mama Kimi sedang kritis. Kimi menutup mulutnya tak kuasa menahan cobaan yang berat di hidupnya. Apakah dia harus kehilangan yang kedua kalinya? Oh bukan yang kedua melainkan ketiga kalinya.
"Do I have to lose Mama?" gumam Kimi parau setelah duduk di bangku kembali sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
Mendengar gumaman Kimi Bi Re langsung duduk di sampingnya dan memeluk Kimi kembali.
"Mama kamu nggak akan terjadi apapa. Kamu harus sabar menghadapi ini, ya"
"What is the meaning of my life without mama"
"Kamu berarti buat semuanya, buat Bibi dan pamanmu juga. Jangan pernah merasa sendiri Kim, kamu akan selalu menjadi anak bagi saya dan pamanmu"
"I hope mama can pass the critical period"
"Of course."
"Sebentar ya sayang, Bi Re mau menghubungi Brian dulu"
Mengambil ponselnya dan menghubungi.
"Kenapa nggak bisa di hubungi ya?"
"Just leave it Bi, maybe Brian is busy"
Bi Re mengangguk membenarkan apa yang diucapkan keponakannya.
"Apakah kamu siap untuk masuk?"
Kimi menggeleng, dia tidak sanggup melihat wajah Mamanya yang pucat karenanya.
Andai saja tadi aku nggak menolak permintaan Mama. Ini semua salahku.
__ADS_1
Bersambung...