
"Ah, maaf tuan. Saya akan memundurkannya dengan benar"
"Sial sekali kau mobil." Gerutunya dalam hati. Dia masuk ke dalam mobil dan memundurkan mobilnya.
Berhenti dan menunggu mobil yang dihalangi nya keluar dari parkiran.
"Mari nona" Ucap sopir yang mengemudikan mobil itu.
"Mari tuan" Kimi mengangguk ramah. Diapun memarkirkan kembali mobilnya.
"Astaga ini memalukan sekali" Dia memijit pelipisnya.
Flashback
"Maaf nona, mobil anda menghalangi saya. Bisa tolong di mundurkan sebentar?"
Kimi menatap sopir itu dengan tatapan kagum.
"Tampan" Sopir itu tersenyum.
"Astaga, maaf tuan saya akan memundurkan mobilnya" Ucapnya setelah tersadar dari lamunannya.
____________
"Ah, sampai lupa hendak kemari mau apa"
"Ayo Cath kita masuk ke dalam"
Menelusuri restoran tempatnya akan bertemu idolanya. Matanya berkeliling mencari sosok yang akan ditemuinya.
"Dimana dia? Ah, apa jangan-jangan dia membohongi ku lagi" Mukanya seketika tertekuk kesal.
"Sangat sial sekali hari ini" Kimi mengacak rambutnya dengan tangan kanan.
"Cath kita pulang sekarang" Dia hendak berbalik arah. Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.
"Kenapa kamu lama sekali!"
"Ha. Dimana dia?" Dia berbalik.
Ada yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Itu pasti my idol" Gumamnya dalam hati
"Astaga rambutku. Ah bodoh kau Kim!" Dia berbalik badan dan merapikan rambutnya.
Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Oke siap!" Semangatnya dengan mengepalkan tangan.
Dia berjalan cepat menuju ke arah idolanya. Dia langsung duduk di depannya melatakkan kucingnya di kursi pinggirnya dan membuka masker yang menutupi wajahnya.
"Hey! Lancang sekali!"
"Ah, maaf-maaf" Kimi membenarkan kembali maskernya.
"Nama ku Kimi" Mengulurkan tangannya.
"Ah iya, Kimi. aku sudah mengenalmu"
"Astaga. Dia mengenaliku." Kimi membenamkan kepalanya di atas meja. Senyum-senyum sendiri.
"Kimi"
"Astaga. Tangan itu menyentuh kepalaku" BerSorak ria dari dalam hatinya.
__ADS_1
"Ah, maaf-maaf"
Mendongak dengan pipi yang bersemu merah. Matanya memberanikan diri menatap ke arah idolanya.
"Astaga ini bagaikan mimpi paling indah. Dia memang tampan, sangat tampan. Sangat, sangatlah tampan." Gumamnya sambil mengamati setiap inci wajahnya. Tiba-tiba pipinya memerah.
"Sudah selesai mengaguminya? Aku memang tampan tapi tidak usah sampai seperti itu" Menyetuput minumannya.
Kimi masih tak bergeming. Dia sibuk menatap wajahnya.
"Hallo nona. Apa anda akan memandangi saya seperti itu terus" Dia menggoyangkan tangan Kimi.
"Ah. Maaf"
"Oh ya, jadi aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?"
"Panggil saja dengan nama. Kadeo. Namaku Kadeo."
"Aku tau namamu. Aku sangat suka dengan konten-konten yang dibuat olehmu. Dan aku harus mengabadikannya, saat ini. Bertemu dengan mu" Kimi mengambil ponselnya menekan icon kamera. Mereka berswafoto.
Tiba-tiba ada yang menggerumuni mereka.
"Ahh Kadeoo. Bisa minta foto nggak?"
"Astaga akhirnya bertemu"
"Wahh Kadeo, kita selfi ya"
"Iya, ayolah ayolah"
Terjadi kegaduhan di restoran itu. Bahkan badan mereka tidak terlihat lagi karena kerumunan muda mudi itu.
"Kenapa harus pada tau sih! Kesel kan kalo gini caranya" Dengan menekuk wajahnya dan juga tangan yang meremmas ujung baju yang dikenakannya.
"Maaf semuanya. Sudah dulu fotonya ya" Semua ribut hendak meminta foto kepadanya lagi.
"Ayo dek kita pulang" Dia menarik tangan Kimi dan berlari meninggalkan restoran itu.
Semua tampak menekuk wajahnya ketika menatap idola mereka menggandeng wanita lain.
Ada juga yang bisik-bisik sinis membicarakan Kimi. Bahkan ada yang langsung membuka sosmed guna mencari tau siapa adik idola mereka.
"Oh jadi nama adiknya Kimi Rae"
___________
"Hei tunggu dong! Sakit nih tangannya" Rintih Kimi ketika ditarik paksa Kadeo.
"Stt diam sebentar" Sampai di mobil. Kadeo memaksa Kimi untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Aduhh apa dia mau macam-macam sama, " Ucapnya dalam hati. Melirik ke arah Kadeo yang sedang fokus menyetir dengan menggigit bibir bawahnya.
"Ah tidak-tidak, mana mungkin, hentikan pikiran konyolmu Kim!"
Kimi memukuli kepalanya yang membuat Kadeo mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Udah mau pecah tuh kepala. Jangan di pukuli terus" Ucapnya sambil melepas tangan Kimi yang memukuli kepalanya sendiri.
"Hehe" Mendadak dia menjadi gugup dan salah tingkah.
"Kau mau membawaku kemana? parkiran."
"Nggak kemana-mana. Cuma keliling kota ini aja. Emang kenapa?"
"Mobilku masih di parkiran" Lirih Kimi.
__ADS_1
"Apa? Bicara yang jelas kenapa. Irit banget ngeluarin suara"
"Mobilku masih di parkiran"
"Ohh. Kalau begitu aku akan mengantarkanmu balik ke rumah. Kamu mau kan aku anterin?"
"Mau" Spontan Kimi mengatakan dengan keras.
"Ah, maafkan aku. Maksudnya, apa tidak keberatan mengantar?"
"Emang kamu berapa kilo sampai keberatan cuma mengantar"
"Bukan itu maksudku. Ah sudahlah pasti kamu mengerti apa yang aku ucapkan kan" Menuding Kadeo. Yang dituding hanya melirik jarinya dan tertawa renyah.
Kimi menjauhkan tangannya dan mengecek ponselnya. Tiba-tiba banyak yang meng-follow ig nya.
"Astaga, apa ini karena Kadeo? Untung saja tadi dia mengatakan kalau aku adiknya bukan pacarnya. Hihi, jangan berharap Kim, jangan berlebihan!"
"Kenapa? Ada masalah sama ponselnya?"
"Oh tidak. Ini cuma, jadi banyak yang follow ig aku. Itu berkat dirimu. Terimakasih ya."
"Terimakasih buat apa?"
"Karena kau bilang aku adalah adikmu hehe"
Kadeo tertawa renyah saja.
"Aku tidak melakukan apapun. Mungkin mereka suka denganmu, karena kamu cantik"
Kimi mendengar dengan jelas. Dan dia sangat suka sekali dengan kata-kata terakhir yang diucapkan Kadeo kepadanya. Mengingat kebaikan Kadeo kepadanya membuat pipinya menjadi panas.
Mengalihkan pandangannya ke arah luar mobil dari jendelanya.
"Tolong turunkan kaca ini" Perintah Kimi kepadanya. Sekali pencet jendela mobil itu langsung turun.
"Kenapa memangnya? Apa AC-nya tidak berfungsi? Padahal dingin kan?"
"Aku tidak suka AC. Aku lebih suka yang alami seperti ini,"
"Alami dari mananya? Banyak polusi kendaraan gini kok"
"Ah iya kau benar. Tutup saja kaca ini. Kasihan nanti mobilmu banyak debunya"
"Loh? Dimana Cath?" Dia teringat akan kucingnya.
"Apa aku meninggalkannya di restoran itu?"
"Apa? Siapa? Cath? Cath apa itu?"
"Dia hewan peliharaanku. Dimana dia sekarang? Ayo antar aku kembali kesana" Matanya sudah akan meneteskan air matanya.
"I iya sebentar, aku putar balik dulu"
Mobil melaju dengan cepat. Di dalam mobil Kimi tak kuasa menahan air matanya untuk jatuh, malahan sekarang dia sudah terisak. Tangannya selalu mengusap air mata yang jatuh di pipinya
"Tenang saja, kucingmu tidak akan kenapa-kenapa"
"Kau tidak tau bagaimana aku merawatnya. Dia sudah seperti anak bagiku. Dan aku malah meninggalkannya sendiri disana. Bagaimana kalau dia diculik? Atau dibuang" Ucapannya tersendat-sendat karena menangis.
Kadeo melirik ke Kimi. Memang dia terlihat sangat menyedihkan.
"Apa segitu berharganya Cath buatmu?"
"Kan sudah ku katakan kalau dia seperti anakku!" Seru Kimi menatap ke arah Kadeo.
__ADS_1
"Salah kan jadinya. Memang benar kata orang, jangan ajak bicara orang yang sedang frustasi" Gumamnya dalam hati.
...Bersambung......