Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Merubah


__ADS_3

Mama,


Kata itu muncul ketika dia tercengang saat tiba di rumah. Kama melihat Papanya menggendong Mamanya masuk ke dalam mobil.


"Mama, kenapa Pa?" Tanya khawatir Kama menghampiri Papanya ke dalam mobil.


Papa Kama tak menjawab pertanyaan darinya. Dia berpura-pura tidak mendengar suara yang keluar dari mulut Kama.


"Jawab Pa!" Serunya mulai tak sabar.


Plak!


Papanya menampar dirinya. Hingga membuat Kepala Kama memutar ke kanan.


"Kenapa Pa!" Seru Kama dengan tangan memegangi pipinya yang memerah. Dia melihat wajah Papanya yang memerah marah.


"Dasar anak durhaka kamu! Kemana saja kamu selama ini ha! Kamu lihat bagaimana keadaan Mama kamu sekarang! Tiap malam mama kamu menangisi kamu Kam! Kamu lihat sekarang? Lihat! Bagaimana mama kamu menderita karena mendapatkan anak sepertimu"


Berapi-api menjerit di depan anaknya.


"Tamparan ini tidak sesuai dengan apa yang kamu lakukan" Imbuhnya dan langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.


"Ahh, " Mengusap ujung bibirnya yang robek. Dia meringis kesakitan.


"B r e n g s e k kau Kam!" Rutuknya. Diapun masuk ke dalam mobil dan melajukannya mengikuti mobil orangtuanya.


Dalam perjalanan~


Kama tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri dengan apa yang terjadi dengan Mamanya. Dengan wajah datar dia mengemudikan mobilnya. Fokus? Kama tidak fokus menyetir, berulang kali ada yang meng-klakson dirinya.


"Shit!" Kama memukul setirnya berkali-kali.


Membelokkan mobilnya agar melaju ke tempat yang sebenarnya.


Dia mengingat kejadian tamparan yang dilakukan papanya kepada dirinya dan juga kata-kata 'anak durhaka' yang dilontarkan dari bibir Papanya.


Menyentuh ujung bibirnya yang robek, baru pertama kali. Pertama kalinya dalam hidup dia ditampar oleh Papanya.


"Apa gue memang anak durhaka?"


Sampai di rumah sakit~

__ADS_1


Ikut berlari bersama Papanya yang selalu setia berada di samping Mamanya.


"Maafkan Kama ma" Ucapnya dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.


Kama gelisah duduk di samping Papanya. Dia menatap kebawah, ke lantai yang berwarna putih itu.


"Maafkan Kama Pa" Lirih nya


"Papa tidak akan mengliri dana lagi ke perusahaanmu."


Kama menyandarkan tubuhnya ke kebelakang. Dia sudah menyangka ini akan terjadi. Memang dia yang ceroboh, Kama menyadari akan hal itu.


Mengusap kasar wajahnya dan menghela nafas putus asa.


Maya datang, dia sempat melihat pertengkaran yang terjadi di depan rumah Kama tadi. Langsung bergegas menuju rumah sakit. Tahu kalau tetangganya itu memang sedang sakit.


***


Tilulit,


Bunyi telepon rumah.


"Hallo"


Menyahut kunci mobil miliknya dan menancapkan pedal gas mobil.


"Kenapa Tante bisa masuk rumah sakit" Dengan memijit keningnya, Kimi berfikir keras dengan apa yang menimpa mama Kama.


"Astaga, membuatku pening sekali. Apa Kama tidak bisa merawat Mamanya! Kenapa bocah itu bisa berubah seperti ini"


Sampai~


Kimi terburu-buru menuju ke tempat yang sudah diberitahukan oleh perawat.


Sudah berada tak jauh dari mereka. Dia berhenti. Melihat sosok perempuan lama yang sudah tidak pernah di temuinya lagi.


"Maya, " Lirih.


Melihat keduanya berpelukan membuat hati kecil Kimi tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya ke sana. Dia diam dan berbalik badan.


"Kimi, " Ada yang menyentuh bahunya. Dia berbalik dan menatap Papa Kama.

__ADS_1


"Iya om" Ucap Kimi dengan tersenyum.


"Kenapa kamu disini? Ayo temani Kama."


"Hehee, kan sudah ada yang menemaninya om, itu" Menunjuk Maya.


"Oh, iya. Ya sudah ayo ikut om ke kantin saja"


Kimi mengangguk dengan tersenyum. Dia mulai melangkah mensejajari langkah dari Papa Kama.


"Apa kamu tahu Kimi"


"Tau apa om?"


"Siapa saja wanita di luar sana yang dipacari oleh Kama"


"Hehehe, mana saya tau om. Kan saya tidak selalu bersama Kama seperti dulu" ucapnya getir.


"Dia selalu saja sibuk dengan pacarnya. Bahkan sampai melupakan orang tuanya." Kimi menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling bertautan.


"Andai saja waktu bisa terulang lagi. Pasti Kama tidak akan seperti ini"


Tersenyum mengingat kenangan dulu. Kimi tak menjawab pertanyaannya.


Kantin rumah sakit~


"Om mau pesan apa?"


"Apa saja, terserah kamu"


"Minumannya?"


"Sama"


Menganggukan kepala dan memesan.


"Dua lagi dibungkus ya Mbak" Ucap Kimi dengan tersenyum ramah.


"Kimi, bisakah kamu kembali kedalam hidup Kama? Maksudnya, kamu merubah Kama agar seperti dulu lagi"


Kimi bimbang. Dia tidak mempercayai dirinya sendiri. Apakah bisa dia merubah Kama?

__ADS_1


"Aku akan memikirkannya om"


...Bersambung... ...


__ADS_2