Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Adopsi Jey beserta neneknya


__ADS_3

"Marry semoga kamu tenang disana" Nenek Suri mengelus nisan kuburan nenek Kimi. Nenek Suri meletakkan bunga tulip di atas kuburan nenek Kimi.


"Uti pasti mendengar doa nenek. Terimakasih" Kimi memeluk nenek Suri dengan kasih sayangnya. Begitu pula dengan Jey, diapun memeluk neneknya dengan sayang. Kimi memejamkan matanya dengan senyuman yang mengembang dibibirnya.


"Ayo pulang nek" Nenek Suri menganggukan kepalanya, mengelus terlebih dulu nisannya dan berdiri dengan bantuan Kimi.


Mereka masuk ke dalam taksi menuju ke arah rumah Kimi, sesuai dengan keinginan nenek Suri untuk mengetahui dimana lokasi rumahnya.


"Sudah sampai mbak" ucap sopir taksi itu sambil melirik ke arah belakang.


"Oh ya, terimakasih pak" ucap Kimi sambil menyerahkan uangnya kepada sopir.


Mereka keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arah rumah mendiang nenek Kimi.


"Rumah lo mau dibangun Kim?" tanya Jey ketika melihat semua alat dan bahan bangunan yang berjejer rapi di samping rumah Kimi.


"Iya, mungkin besok mulai kerjaannya" Jey mengangguk paham.


"Kenapa keluarga kamu buat rumah lagi? Emangnya rumah itu akan dirobohkan?" tanya nenek Suri sambil menunjuk ke arah depan rumah Kimi.


"Oh, emm bukan nek. Rumah itu selamanya tidak akan dirobohkan. Keluarga saya memang sengaja membangun rumah disamping mereka untuk keluarga saya. Dan yang menempati rumah uti paman dan juga bibi saya"


Nenek Suri menganggukan kepalanya dan mulai melangkahkan kakinya ke dalam rumah itu.


"Mama aku pulang" terdengar jawaban dari mamanya


Kimi pun masuk ke dalam dan mendapati mamanya sedang memakan roti sambil nonton TV di ruang keluarga.


"Sini Kim. Seru nih ceritanya" Kimi pun membawa Jey beserta neneknya ke arah mamanya.


"Duduk disini nek" Mama Kimi terkejut ketika melihat orang asing berada di rumahnya, tapi ketika melihat Jey disana dia merasa bahwa itu keluarganya.


"Eh maaf Bu saya nggak lihat. Maaf juga saya tidak sopan" Mama Kimi menyalami tangan wanita yang berambut putih itu.


"Iya tidak apapa nak. Maaf Ibu juga mengganggu kamu"


"Oh nggak kok"


Mereka duduk dan berbincang hangat seputar mendiang nenek Kimi.


"Oh jadi orang yang pernah diceritakan ibu kepada saya ternyata ibu." Nenek Suri menganggukan kepalanya


"Iya saya ingat saat ibu menceritakan teman yang dulu ditolongnya"


"Ibu sangat kecewa sekali saat tidak mendatangi Marry saat nafas terakhirnya" ucapnya dengan sendu.


"Ibu tenang saja. Ibu sudah mendoakan Ibu Merry, itu sudah lebih dari cukup untuknya."

__ADS_1


"Ayo silahkan diminum dulu minumannya" nenek Suri mengangguk dan mulai menyeruput teh panas miliknya.


"Kim katanya lo mau pinjamin buku IPA lo" bisik Jey kepada Kimi.


"Oh iya gue lupa, sebentar gue ambilin dulu" Kimi beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ke kamarnya.


"Jey, ayo ikut gue nggak tau buku IPA mana yang lo mau pinjam" ajak Kimi ketika diambang pintu kamarnya.


Jey pun berdiri dan melangkah menghampiri Kimi. Dia merasa bimbang. Apakah sopan masuk ke dalam kamar orang? Cewek pula.


"Ayo Jey masuk. Kenapa lo termenung disitu? Apa kamar gue jelek?" tanya Kimi sambil mengotak-atik buku yang berjajar rapi di rak kamarnya.


"Oh enggak kok. Emm apa nggak apapa kalau gue masuk? Maksudnya, apakah sopan?"


"Lo itu apaan sih. Ya nggak apapa lah. Lagi pula Kama tidur di sini juga nggak masalah kok. Nggak ada yang ngelarang."


"Apa Kimi bilang tadi? Kama tidur disini? Tunggu-tunggu bukankah Kama itu nama pacarnya ya. Dan apa dia tidur disini? Maksudnya tidur bersama Kimi? Ah tidak mungkin. Udah di grebek warga mungkin kan? Ah! Hentikan pikiran bodohmu itu Jey!" batin Jey bertanya-tanya.


"Jey, ayo masuk. Tadi termenung, sekarang bengong. Nggak kesambet kan lo?"


"Oh e, enak aja gue masih waras kalik! Gue masuk ya" tanyanya memastikan. Kimi menganggukkan kepalanya dan dengan ragu dia melangkah memasuki kamar Kimi.


"Buku ini apa yang ini? Atau ini?" tanya Kimi sambil menunjuk buku-buku yang sedang dipegangnya.


"Emm yang, ini aja deh. Lengkap yang ini kayaknya" Kimi menganggukan kepalanya dan menyerahkan buku itu kepada Jey.


Jey melihat buku itu sambil tersenyum. Dia pun mendongak hendak mengucapkan terimakasih. Tapi matanya tak sengaja menangkap buku yang membuat dia merasa heran.


"Ha? Apa Kim?"


"Lo kenapa sih? Daritadi bengong aja kayaknya"


"Buku apa itu?" tanya Jey sambil menunjuk ke arah buku yang membuat dia heran sejak pertama kali menatapnya.


"Oh ini" Kimi mengambil buku itu dan duduk dipinggir kasur


"Kemari" Kimi menepuk kasur sebelahnya agar Jey duduk di sampingnya.


"Apa boleh?"


"Lo ini! Daritadi, apa boleh, apa boleh! Sudah sini duduk!" nada bicara Kimi mulai terdengar kegeraman.


Dengan ragu Jey duduk di samping Kimi dan memperhatikan wajah Kimi yang tersenyum sambil mengusap buku itu.


"Ini adalah buku masa kecil gue sama Kama. Dari gue bayi juga ada lho. Lihat nih" Kimi mulai membuka lembaran kertas yang berisi foto dirinya dan juga Kama.


"Ini bayinya gue dan juga Kama. Lucu kan?" Jey menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Dan ini saat umur gue kira-kira, emm 3 tahunan lah" ucap Kimi sambil menunjuk ke arah foto yang menunjukkan dia dan Kama sedang bermain mobil-mobilan.


Kimi menunjukkan semua kenangan masa kecil dirinya dan juga Kama sampai beranjak dewasa dari SMP dan sampai saat ini


"Dan ini yang terakhir. Saat perjanjian Kama dengan Mama sama Papa. Lo tau nggak perjanjiannya apa?" Jey menggeleng.


"Dia menyuruh Mama dan Papa jaga gue dari laki-laki disini. Supaya gue nggak pernah khianatinya. Lucu kan? Inilah saat-saat terakhir gue bersamanya. Sedih meninggalkan rumah beserta Kama dan keluarganya. Tapi bagaimana lagi kan? Ini sudah ditakdirkan untuk gue. Gue harus tinggal disini dan meninggalkan kenangan gue dibuku ini." raut wajah Kimi sudah berubah sendu.


"Tapi tenang saja. Gue nggak akan larut dalam kenangan ini." Kimi menutup buku dan menarik nafas panjang.


"Akhirnya disini gue bisa menemukan kenangan yang baru . Bersama lo Jey. Gue nggak nyangka kalau gue akan punya teman kayak lo, yang ketus, dingin, dan juga kasar. Untung saja gue bisa merubah lo kan? Jadi lo beruntung punya teman kayak gue" Kimi menepuk pundak Jey dan bangun meletakkan buku kenangan itu ke tempat semula.


"Apa kita tidak bisa hanya teman?"


"Maksud lo apa?"


"Bisa nggak kalau kita, "


"Jey, nenek kamu sudah mau pulang tuh. Tante sudah bujuk dia dengan segala cara tapi tetap saja nenek kamu bersikeras untuk pulang"


"Nenek sudah mah pulang ya tante?" Mama Kimi menganggukan kepalanya.


"Baiklah, makasih untuk bukunya Kim." Kimi menganggukan kepalanya dan Jey berdiri melangkah keluar dari kamar Kimi.


"Sekali lagi terimakasih Kim bukunya" ucap Jey ketika sudah diambang pintu depan rumah Kimi.


"Iya, udah ah nggak usah terimakasih mulu. Oh ya lo baliknya mau gimana?"


"Emm naik taksi aja deh"


"Eh jangan, biar Kimi saja yang mengantar kalian. Kamu nggak keberatan kan Kim?" ucap Mamanya.


"Ya nggak lah ma, malah seneng. Kalau gitu aku ambil kunci mobilnya dulu ya" Kimi berbalik dan melangkah menuju ke arah kunci mobilnya berada.


"Eh Tante, Kimi. Nggak usah repot-repot."


"Iya, nak Jessy kami nggak apapa kok naik taksi."


"Ibu ini jangan sungkan. Biar Kimi yang mengantar kalian. Kimi kan sudah bilang tadi, kalau dia tidak keberatan. Jadi biarkan dia mengantarkan kalian ya"


Kimi kembali dengan kunci mobilnya dan mengantarkan Jey beserta neneknya ke rumah mereka.


"Ayo Kim, masuk dulu" Kimi menggeleng


"Tidak, lain kali saja. Ini juga sudah mau hujan kan? Nanti akan sulit berkendara kalau sedang hujan"


"Baiklah" Jey menuntun Nenek Suri masuk ke dalam rumah. Kimi memandangnya dengan tersenyum dan mulai melajukan mobilnya keluar dari gang kecil ini.

__ADS_1


"Gue nggak sangka dibalik sikap Jey yang dingin ada hati yang hangat disana. Terlihat sekali kalau dia sangat menyayangi neneknya. Emm apa gue adopsi mereka aja ya?"


Bersambung...


__ADS_2