
Satu minggu kemudian.
Kama beserta keluarganya sedang melakukan perjalanan menuju rumah Kimi.
"Kim gue hampir sampe"
"Oke Kam gue akan tunggu lo didepan rumah"
Mama Kama melihat anaknya sedang tersenyum sambil menatap ponselnya. Pasti itu Kimi pikirnya.
Dia tersenyum dan membayangkan bagaimana kehidupan Kama setelahnya. Kimi hamil, melahirkan dan dia mempunyai cucu.
Sampailah mereka di tempat tujuan. Kama dengan senyum yang mengembang langsung turun dari mobil dan berteriak memanggil Kimi. Dia memeluk Kimi dengan eratnya.
"Akhirnya sampai juga lo. Gue nungguin lo sampe lumutan tau nggak"
"Oh benarkah? Kasihan sekali" ucap Kama sambil mencubit hidung Kimi.
"Ouch sakit" Kimi menggosok hidungnya yang merah.
"Sudah-sudah ayo masuk. Mbak ayo masuk" ajak mama Kimi
Sekarang mereka sedang berada di ruang tamu. Disela sela sedang mengobrol tiba-tiba perut Kimi mulas.
"Maaf semuanya aku tinggal dulu ya kebelet" ucap Kimi sambil memegangi perutnya. Setelah mendapat anggukan kepala dari semuanya dia buru-buru masuk ke dalam untuk menuntaskan hasratnya.
Dua puluh menit sudah waktu berjalan. Mereka masih asik berbincang-bincang renyah sambil menikmati minuman dan juga makanan ringan di atas meja.
Kimi berada di balik pagar. Dia menaik-turunkan tangannya meminta Kama mendekat ke arahnya.
Kama berdiri dan melangkah menuju ke arah Kimi.
"Kama, kamu mau kemana?" tanya Mamanya.
"Mau nyusul Kimi Ma. Tuh orangnya" ucap Kama sambil menunjuk kepala Kimi yang terlihat di balik pintu.
"Oh, ya udah sana"
Kama mengganggukan kepalanya. Dia berjalan menuju ke arah Kimi. Kimi langsung menarik tangan Kama agar mengikutinya.
"Lo mau ajak gue kemana? Haaa, apa jangan-jangan lo mau berbuat mesum sama gue ya?" Kimi menoleh ke arah Kama dengan memicingkan matanya kesal.
"Gue masih waras! Dan Lo kira gue cewek apaan! Lo diam aja dan ikuti perintah gue" ucap Kimi sambil menuding ke arah Kama.
"Baiklah sang ratu, sesuai keinginanmu" ucap Kama dengan gaya kerajaan.
"Udah ah cepetan" Kimi menarik kembali tangan Kama agar mengikutinya.
Sampailah mereka di taman belakang rumah.
"Ngapain kesini?" tanya Kama heran.
"Lihat nih" ucap Kimi sambil menunjukkan ponselnya. Kama memperhatikan ponsel Kimi. Dia menunjukkan foto minggu kemarin saat dia sedang makan di resto bersama Maya dan anak panti asuhan.
"Iya terus apa?"
"Ihhh! Kok lo gitu sih! Gue cemburu!"
"Oh"
"Apa lo bilang? Oh? Dasar lo ya" geram Kimi mengatakan itu dia mengepalkan tangannya di kedua sisi kakinya.
"Oh Kimi sayangku cintaku padamu" bujuk Kama sambil memegang kedua pundak Kimi.
__ADS_1
"Gue lagi marah sama lo Kam!" ucapnya sambil meronta berusaha melepaskan tangan Kama dari pundaknya.
"Sini duduk dulu. Gue akan jelasin sama lo" Kama menuntun Kimi menuju ke arah kursi gantung disitu.
"Kuat nggak nih kayunya? Kalau nanti tiba-tiba kita jatuh gimana?" ucap Kama sambil menggoyang-goyangkan kursi gantung yang sedang di duduk inya.
"Nggak usah bercanda!"
"Iya iya, gitu aja kok sewot. Ekhem, oke kita mulai dari panti asuhan."
"Kenapa dengan panti asuhan?" tanya Kimi
"Sudah diam. Katanya mau penjelasan dari gue" Kimi kembali terdiam dan memperhatikan wajah Kama.
"Malam itu, gue ke rumah lo."
"Tunggu-tunggu. Kan rumah itu sudah dibeli. Dan pembelinya anaknya cewek kan? Ngapain lo malam-malam kesana ha? Dan lo pasti ke kamarnya kan?" Kimi menuding wajah Kama dengan memicingkan matanya.
"Iya"
"Apa!" Kimi memukul lengan tangan Kama dengan keras.
"Duh, tunggu dulu dong Kim. Kan gue belum selesai ceritanya" Kimi menghentikan pukulannya. Dia menatap kesal ke arah rumput di bawah.
"Gue punya hutang dengannya." sekarang Kimi tertawa.
"Apa lo bilang? hutang? seorang Kama punya hutang? Hahaha"
"Ini karena foto aib yang tak sengaja ke potret"
"Kenapa kok bisa?"
"Mana gue tau" Kama mengendikkan bahunya
"Terus"
"Lah emang dia kenal sama gue? Pas pembelian rumah itu juga gue nggk pernah ketemu sama dia kok." Kama mengendikkan bahunya kembali.
"Mungkin saat mereka beli rumah lo. Kalian punya nomor kalian masing-masing"
"Nggak tau juga sih. Ya udah lanjutkan"
Kama menceritakan semua yang terjadi saat dipanti asuuhan sampai pada di restoran.
"Dan lo tau nggak. Panggilan mereka ke gue itu om. Sungguh tak terduga sekali" sekarang Kimi mulai tersenyum bahkan tertawa saat mendengarnya.
"Makanya gue kesini hari sabtu. Bukan hari minggu"
"Emangnya kenapa?"
"Karena gue akan ajak lo ke panti asuhan besok. Dan kita akan seperti ini"
"Kok lo nyamain sama cewek itu sih!"
"Bukan nyamain Kimi. Duh gimana cara jelasinnya ya" Kama kebingungan sambil menggaruk kepala bagian belakang.
"Gue kayaknya harus hijrah deh. Biar lo nggak jauhin gue. Gue harus pakai gamis dan berhijab" Kama tersenyum mendengarnya.
"Kalau begitu. Sudah selsai kan masalahnya. Dan ayo kita masuk, gue laper" Kama bangun dari duduknya. Begitupun Kimi, dia berdiri sambil tertawa kecil
"Dasar! Badannya aja kecil tapi ususnya bercabang-cabang" Kama tidak menggubrisnya. Dia menarik tangan Kimi masuk ke dalam rumah.
"Tapi semua sudah pada makan malam. Gimana kalau gue buatin mi instan aja?"
__ADS_1
"Terserah lo deh" Kama berjalan menuju ke ruang tamu. Sudah sepi dan tidak ada orang satupun disitu. Mereka sudah tidur di dalam kamar tamu yang baru saja selesai dibuat.
Kama menunggu Kimi memasak di atas karpet depan tv. Dia menyalakan tvnya dan mengecilkan volumenya agar tidak terlalu berisik.
"Nah sudah jadi. Omelet buatan Kimi Radeeya" ucapnya dengan bangga sambil meletakkan piring yang berisi omelet itu di depan Kama.
"Hemm wanginya. Loh, kok lo bisa buat omelet kayak gini?" Kama mengambil garpu dan mulai memasukkan omelet itu ke dalam mulutnya.
"Dan rasanya. Seperti gue mau jadi Ironmen"
"Hahaha odading kali"
"Ini benar-benar enak sekali. Harumnya, rasanya, gurihnya. Ummhh delicious" ucapnya seperti juri memberi pendapat.
"Dadar alay"
"Gue lagi puji lo Kim."
"Iya-iya makasih Kama. Gue makin sayang sama lo" Kimi memeluk Kama dari samping.
"Nah gitu dong." Kama memakan kembali makanannya.
"Habis Kim, dan gue masih lapar" Kama memegangi perutnya.
"Apa? Lo habis satu piring lho dan lo nggak bagi-bagi lagi sama gue. Dan lo bilang masih lapar?" Kama menganggukan kepalanya.
"Ayo gue akan buatkan lo lagi. Tapi lo harus temenin gue" Kama mengangguk dan menggandeng tangan Kimi.
"Gue mau ke dapur. Bukan mau nyebrang jalan" Kimi melepaskan tautan tangan Kama.
"Biar romantis Kim" Kama menggandeng kembali tangan Kimi menuju ke arah dapur. Mereka memasak bersama. Saking asiknya mereka tidak sadar ada makhluk lain di belakangnya.
"Kalian sedang ngapain malam-malam gini?" Kama dan Kimi menoleh kebelakang. Seketika mereka menjerit tapi langsung ditutupi oleh tangan Mamanya.
"Udah malam. Ngapain kalian disini?" Mama Kimi menoleh ke arah kompor. Dia melihat ada telur disana.
"Kalian masak?" mereka menganggukan kepalanya.
"Malam-malam gini?" mereka menganggukan kepalanya lagi.
"Ya sudah. Tapi jangan malam-malam tidurnya. Lihat jam berapa tuh" Mereka melihat ke arah jam dinding. Memang benar sudah sangat larut.
"Baiklah tante setelah makan kita akan tidur." Mama Kimi menganggukan kepalanya. Setelah itu dia menuju kedispenser guna mengambil air minum.
Setelah menghabiskan satu piring berdua Kama dan Kimi masuk ke dalam kamar. Tentu saja sama dengan piring. Sekarang mereka tidur satu kasur berdua.
"Gosok gigi dulu sana" perintah Kimi setelah keluar dari dalam kamar mandi. Kama menurutinya dia melakukan yang barusan Kimi lakukan.
"Kenapa lo nggak tidur?" tanya Kama heran karena melihat Kimi yang malah bermain dengan ponselnya.
"Lagi balas pesan. Dan lo tau nggak? Tugas gue belum selesai"
"Kenapa nggak diselesaikan sejak tadi?"
"Gue lupa hehe"
Kimi mulai beranjak berdiri dan melangkah menuju meja belajarnya. Dia harus menahan kantuk guna menyelesaikan tugas sekolahnya.
Kama memandangi punggung Kimi yang sedang belajar. Dia berinisiatif untuk menahan kantuk juga agar dapat menemani Kimi sampai selesai dengan pekerjaannya.
"Kam, lebih baik lo tidur. Jangan kasihan sama gue, gue udah biasa kalau masalah kayak gini. Ini juga tinggal sedikit kok" ucap Kimi tanpa menatap ke arah Kama. Mata dan juga tangannya sibuk dengan kertas didepannya.
"Lo nggak papa gue tinggal" Kimi menggelengkan kepalanya. Kama langsung terlelap dalam tidurnya. Memang benar dia sangat mengantuk, bahkan sering kali menguap sejak tadi.
__ADS_1
Kimi menoleh ke belakang. Dia melihat Kama yang tidur terlentang. Kimi beranjak bangun dan menutupi tubuh Kama dengan selimut. Dan dia bergerak kembali menyelesaikan tugas sekolahnya.
Bersambung...