
Menonton episode terakhir drama Korea memang mengharukan. Lihat saja gadis dengan mata memerahnya. Dia menangis sendirian di sunyinya malam. Matanya sembab menatap ponsel dengan posisi miring.
Terdengar isakan tangis di dalam kamar yang gelap itu. Horor.
"Selama belasan tahun. Hiks, akhirnya mereka bisa menikah"
Bibirnya mengerucut sedih. Bantal untuk bersandar dagu sudah basah karena air matanya.
Berbalik badan terlentang.
"Jangan menangis Kim! Tarik nafas hembuskan, tarik nafas hembuskan"
"Jangan menangis oke, jangan menangis"
Mengusap kasar air mata di pipinya.
Dia mengingat kembali adegan terakhir pemain mengayunkan tangannya ke arah kamera tanda perpisahan.
Matanya terasa perih, panas. Mengeluarkan air mata haru kembali. Tidak di pungkiri dia terlalu menghayati setiap adegan yang ditontonkan kepadanya.
"Malu kan" Menutup wajahnya.
Tentu saja malu. Dia menangis sendirian di bawah lampu sinar senter yang digantungkan di di sela-sela paku tertancap di tembok.
Pencahayaan yang redup membuat kepala tidak pusing. Dia percaya dengan kalimat saran dokter itu.
Menatap ke arah senter.
"Ini untuk sementara. Untung saja ada kau senter. Aku bisa memakaimu sementara ini" Mendesah pelan.
"Aku akan membeli lampu tidur"
Sedetik kemudian dia kembali teringat adegan terakhir drakor yang dia tonton.
Menangis kembali. Bahkan kakinya dihentak-hentakkan di atas kasurnya. Tangannya meremas selimut yang membalut tubuhnya serta gigi yang menggigit selimut itu.
Dia harus mengalihkan kesedihannya dengan menggigit selimut sekuat-kuatnya,
"Memang benar kata Mama" Tersenyum.
Wajahnya sendu kembali, teringat oleh mendiang orang tuanya.
Mengusap selimut yang sudah terkena air liurnya. Kemudian beranjak bangun turun dari kasur menemui kucingnya yang sudah tidur di rumahnya dan berjalan memasuki kamar orang tuanya.
Ceklek, pintu terbuka.
__ADS_1
Dia masuk, duduk kemudian berbaring miring menatap bantal guling.
"Semoga Mama Papa di beri tempat terbaik oleh Tuhan. Kimi sayang banget sama kalian"
Mendadak dia menjadi seperti anak kecil. Sangat rapuh.
Memegang dadanya yang tiba-tiba sesak rasanya. Mengusap air mata yang menetes.
Membayangkan sedang tidur dipeluk oleh Mama, dan Papanya.
"Mimpi indah Ma, Pa" Lanturnya dengan mata terpejam.
Pagi hari~
Suasana pagi yang indah, semilir angin yang berhembus dari balik jendela. Seakan tak mau kalah untuk turut memeriahkan suasana pagi, burung-burung saling berbalas kicauan indah menambah semarak menyambut datangnya pagi. Tapi beda halnya dengan seorang perempuan yang menatap ke arah pantulan kaca di meja rias nya.
"Aaaaaaa"
"Kenapa matanya berat dibuka. Astaga, jentol! Kenapa sih tadi malam pake nangis segala! Kenapa juga harus nonton saat malam hari!"
"Payah kau Kim!"
Jam berapa ini?
Menatap ke arah jam dinding.
Bersiap menyahut uang dan menggunakan mobilnya menuju ke toko yang menjual masker. Dan sialnya toko belum ada yang buka.
"Pesan online? Nah apa ada ya?" Mencari dari olshop kesukaanya.
"Ada ternyata. Tapi kenapa lama sekali datangnya."
Menghembuskan nafas kasar. Tubuhnya menyandar ke belakang.
"Apa di kompres bisa ya?"
Mungkin. Sekarang Kimi sudah melajukan mobilnya dengan cepat ke arah rumahnya.
Sampai~
"Nggak ada lap kain. Ada mungkin ya. Tapi dimana?"
Menarik laci demi laci di dapur ruang keluarga. Bahkan lubang semut pun tak lepas dari penglihatannya.
"Pakai timun bisa mungkin ya"
__ADS_1
Dia mulai mengiris timun. Belum sempat pisau itu mengirisnya. Dia teringat sesuatu.
"Dicuci atau tidak ya?" Berfikir keras.
"Ah entahlah tinggal diiris saja kok repot!"
Memotong timun, meletakkannya di atas piring dan duduk di atas sofa ruang keluarga.
Mulai meletakkan potongan timun itu ke matanya.
"Ah, ini sangat segar sekali"
Tangannya meraba piring di meja, dia mengambil piringnya dan memakan semua potongan timun yang ada di piring itu.
"Berapa menit ya?"
Masa bodoh ah.
Hingga waktu menjelang siang. Tubuhnya melengkung dan berbalik badan.
Brugh!
"Aww" Tangannya memegangi dahi yang terkena meja di depannya.
"Duh. Kenapa bisa jatuh sih!" Melihat ada potongan timun yang terjatuh di depannya.
Kaget. Dia langsung melihat ke arah jendela.
"Sudah sesiang ini?" Tak percaya menatap ke arah jarum jam.
Menatap ponselnya. Banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari kantor.
"Aaaa! Hari inikan ada rapat penting" Tubuhnya menyandar ke sofa di belakangnya dan tangan menyentuh dahinya yang seketika langsung berkedut.
"Apa sudah di tangani" Dia berjalan menuju ke kamar dengan menepuk-nepuk dahinya.
Duduk di pinggiran kasur.
"Apa ini? Kenapa lo nggak bisa diandelin sih Ga!" Gerutunya saat asistennya tidak bisa menghandle rapat itu.
"Maaf nona"
"Pening sekali kepala ini"
"Aku harus menyerahkan perushaan ini ke Brian saja"
__ADS_1
"Baiklah ini keputusanku!"
...Bersambung... ...